Sapardi sang Maestro

sumber: Gramedia.com

Karya sastra, ditumpahkan lewat bait demi bait puisi, sehingga dapat menghasilkan suatu keindahan kata yang selalu terngiang dan sanggup menggugah gairah seni setiap orang yang membaca maupun mendengar bait demi baitnya, apalagi jika mencoba dan hafal betul akan karya-karya besar ciptaan sastrawan yang ternama, barangkali kita akan merasa enggan melepaskan segenap indera pendengar dan pemikiran kita dari karyanya.

Sapardi Djoko Damono, siapa yang tidak kenal nama apalagi karya-karya indahnya. Sastrawan yang menuangkan karyanya lewat puisi ini sudah lama menghiasi belantara ke-sastraan di bumi nusantara ini, baginya ide menulis bisa dari mana saja, bahkan apa saja bisa menjadi ide baginya. Tak heran penghargaan banyak melengkapi setiap hasil dari ide-idenya.

“Saya tidak pernah berpikir akan mendapat anugerah dari Achmad Bakrie tersebut, pokoknya saya nulis, saya terbitkan dan kalau di baca syukur tapi kalau tidak ya, sudah gitu saja,” ungkapan perasaan Sapardi yang begitu tulus dan terkesan sangat rendah hati. Baru-baru ini Sapardi tengah berduet bersama Ignas Kleden untuk menerima anugerah penghargaan “Bakrie Award” yang diberikan Freedom Institute, tentu saja untuk mendapatkan penghargaan ini Sapardi tidak akan jauh dari bidangnya, yaitu sastra, sehingga karena pengabdian dan dedikasi dalam bidang sastra tersebut Sapardi dinilai pantas untuk mendapatkan “Bakrie Award”.

Santai, kalem, apa adanya, itulah sosok seorang Sapardi. Menggunakan jaket berwarna coklat, kacamata yang selalu setia menemaninya untuk membantunya ketika menulis maupun membaca, dengan menjinjing tas hitam yang diselendangi di bahunya, sangat ramah. Malam itu malam minggu, malam dimana perjumpaan pertama kru Jumpa yang menyengaja me-nodong Sapardi sehabis pentasnya membacakan beberapa karyanya dalam sebuah acara besar di Utan Kayu, Jakarta, yaitu Pesta Sastra Internasional 2003.

 

Karya Sastra dan Sapardi

“Aku ingin mencitaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan api kepada kayu yang menjadikannya abu. Aku ingin mencitaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Puisi, mungkin bagaikan nyawa bagi seorang Sapardi, pria kelahiran kota batik Solo ini mengakui bahwa dunia puisi mulai digelutinya semenjak dirinya masih berusia belia, dan semenjak tahun 1957 seorang Sapardi mulai dilirik oleh segenap penikmat karya sastra.

Usia Senja sama sekali tidak meruntuhkan dinding semnagat seni-nya, 63 tahun usia Sapardi pada 20 Maret 2003 lalu, vitalitasnya dalam menghasilkan karya seakan tidak pernah padam dalam diri Sapardi meski di usianya kini. Barangkali bersamaan dengan harapanya yagn selalu yakin bahwa sastra dikemudian hari akan menjadi suatu kebutuhan bagi seluruh masyarakat, karena bagi Sapardi buku yang bertajuk sastra-lah yang akan dicari-cari masyarakat dan buku-buku karya sastra lah yang akan bertahan lama serta abadi, sehingga selalu menambah keyakinanya dan seakan terus menambah keyakinanya dan seakan terus menambah korban semangat ber-karyanya.

Penyair yang menggemari Chairil Anwar dan telah banyak menterjemahkan buku sastra berbahasa inggris ini, The Old Man and the Sea (Ernest Hamingway), Mourning Becomes Electra (Eugene O’Neill), The Grapes of Wrath (John Steinbeck), dan Mystical of Islam (Annemarie Schimmel) merupakan sosok pecinta musik yang luar biasa, bahkan kecintaanya pada musik ini bisa menjadi sebuah ide baginya untuk berkarya. Kecintaan Sapardi pada musik pun telah menjadikan Sapardi seorang yang pandai memainkan alat musik gitar, sehingga jiwa seni benar-benar mengalir dalam darah seorang Sapardi ini.

Begitu banyak puisi yang telah Sapardi hasilkan dari setiap buah pikiranya, tak pernah jemu, dan mungkin menghasilkan puisi terasa sudah menjadi aktivitas keseharian bagi Sapardi Djoko Damono. Duka Mu Abadi (1979), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1984), Ayat-ayat Api (2000), dan Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002) merupakan karya Sapardi yang terkumpul dalam 9 buku kumpulan. Ternyata seorang penyair Sapardi tidak hanya menghasilkan puisi-puisi indah yang memikat, Sapardi pun pernah menghasilkan karya buku, buku non-fiksi, diantaranya Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1977), Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979), Sastra Indonesia Moderen: Beberapa Catatan (1982), dan Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999). Selain buku non-fiksi, Sapardi pun telah menghasilkan dua buku fiksinya, yaitu Pengarang telah Mati (2001) dan Membunuh Orang Gila (2003) “,Kalau bicara ciri dari sastra itu yang tahu orang lain, bukan dari diri saya saya sendiri, kalau saya nulis aja, mau di-ciri-in apa terserah,” pengakuan Sapardi akan ciri khas dari karya-karya besar puisinya.

 

Sapardi dan Banyak Penghargaan

Rasanya tidak ada kata-kata pujian yang bisa terucap lagi dari setiap pecinta karya sastra di nusantara ini untuk memuji karya besar dari seorang Sapardi Djoko Damono. Telah banyak penghargaan atas karya besarnya, baik dari dalam negeri bahkan luar negeri, baik penghargaan biasa sampai penghargaan besar.

Baru-baru ini Freedom Institute telah menganugerahi sebuah penghargaan “Achmad Bakrie” (Bakrie Award) kepada Sapardi, yaitu pada bulan agustus lalu. Penghargaan ini diberikan oleh lembaga nirlaba dan independen yang berlokasi di Jakarta yaitu Freedom Institute yang sudah berdiri semenjak tahun 2001. Pantas saja penghargaan kepada Sapardi tersebut diberikan oleh lembaga ini, bagaimana tidak Freedom Institute merupakan lembaga yang memang bergerak di bidang-bidang pemikiran, seperti penelitian, pelatihan, penerbitan, dan pengembangan perpustakaan dan tentu saja memberikan beberapa penghargaan pada pemikir-pemikir khususnya Indonesia, terutama dalam bidang sosial budaya dan kesusasteraan.

Dari sebuah buku yang mengutip tentang Penghargaan Achmad Bakrie 2003, secara jelas dikisahkan perjalanan Sapardi menuju penghargaan yang diterimanya ini. “Kepenyairan adalah keterampilan dan disiplin menghidupi bahasa. Demikianlah sang penyair bukan hanya mengubah cara pandang kita terhadap dunia, tapi juga mewujudkan dunia itu sendiri. Sapardi mengajak kita melaksanakan kebebasan dalam artinya yang asasi; melahirkan realitas baru dengan cara bermain-main sekaligus bertarung dengan ansir kebudayaan yang paling hakiki, yakni bahasa. Sapardi Djoko Damono, karena itu, pantas menerima Penghargaan Achmad Bakrie 2003 untuk kesusasteraan”.

Selain penghargaan yang Sapardi dapatkan dari Freedom Institute tersebut, Sapardi pun pernah mendapatkan beberapa penghargaan yang bukan saja dari tanah airnya Indonesia. Cultural Award (1978) dari Dewan Kesenian Australia, kemudia Anugerah Puisi Putra (1983) dari Malaysia, dan SEA-Write Award (1986) dari Thailand sudah Sapardi dapatkan, belum lagi penghargaan besar lain yang Sapardi dapatkan dari dalam negerinya sendiri. Pemerintahan RI pernah memberikan penghargaanya serta Satyalencana Kebudayaan (2002) pada Sapardi melalui Presiden RI. Luar biasa prestasi yang pernah Sapardi ukir dalam setiap karya yang ia buat selama ini.

Dari sisi akademik Sapardi pun sungguh membanggakan, masa sekolah Sapardi telah di habiskanya di kota kelahiran Sapardi di Solo, kemudia Sapardi hijrah ke kota gudeg Jogja untuk menempuh kuliahnya di jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, tidak puas di Jogja, Sapardi kembali hijrah ke Jakarta untuk menempuh pendidikan dengan jenjang yang lebih tinggi Program Pascasarjana (S3), diambilnya pada Universitas IIndonesia, perasaan tidak puas Sapardi pada dunia pendidikan kembali ditunjukanya, ia kembali melanjutkan pendidikanya pada Basic Humanities Program, yang kali ini ia dapatkan di Honolulu, Universitas Hawaii, Amerika Serikat.

Selain penghargaan yang betubi-tubi Sapardi dapatkan, dan ilmu yang tinggi yang sudah Sapardi lahap, Sapardi ternyata memiliki jiwa yang besar, dengan senang hati ia membagi seluruh ilmu yang pernah ia dapatkan dengan juniornya. Sapardi pernah membagi ilmunya di IKIP Malang cabang Madiun, Universitas Diponegoro pun pernah ia datangi untuk mengajar pada Fakultas Sastranya. Dan kini Sapardi tengah menjadi Ketua pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indoensia.

Memiliki keluarga yang selalu mendukung perjalanan karir, memiliki karir yang membanggakan, sungguh prestasi hidup yang mengesankan dan patut di banggakan, itulan Keraton Surakarta, yang ayahnya bernama Sadyoko dengan ibu bernamakan Sapariah ini telah memilik tiga orang putera dan puteri yang ia dapatkan mempersunting Wardaningsih sebagai isteri dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.

Sapardi mengaku bangga pada perkembangan sastra di Indonesia sampai hari ini, di akuinya lagi perkembanganya pun sangat pesat, yang antara laun didukung oleh banyaknya penerbitan, dan penerbit tersebut kini lebih muda untuk menerbitkan karya dibandingkan dirinya ketika muda dulu, sehingga Sang Maestro ini sangat merangkuh banyak harapan dari perkembangan tersebut terhadap kemajuan karya sastra di bangsa ini, bersama keyakinan dan karya-karya besarnya. 

 

Henny Musril

Penulis adalah anggota LPM Jumpa Unpas

Tulisan ini dimuat di Tabloid Jumpa edisi 25 tahun 2003

No Responses

Tinggalkan Balasan