The Painted Veil: Kisah Cinta Tak Berbalas

Sumber: pinterest.com

Judul   : The Painted Veil

Penulis : William Somerset Maugham

Tebal   : 304 halaman

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit : 2011

“Aku tahu kau bodoh, dangkal dan berkepala kosong. Tapi aku mencintaimu. Aku tahu tujuan-tujuan dan cita-citamu vulgar dan norak. Tapi aku mencintaimu. Aku tahu kau tidak bermutu. Tapi aku mencintaimu. Konyol bila kupikir-pikir betapa kerasnya aku berusaha merasa terhibur dengan hal-hal yang kau sukai, dan betapa inginnya aku menyembunyikan darimu bahwa aku tidaklah bebal, vulgar, suka bergosip, dan tolol.” (The Painted Veil: 83)

Seperti itulah pengakuan dan gambaran betapa besar rasa cinta Walter Fane kepada istrinya, Kitty. Sepasang suami istri dengan dua sifat yang sangat bertolak belakang. Kitty, seorang gadis cantik yang memiliki sepasang mata berwarna biru, berkulit putih, dan sangat menyukai dansa. Lelaki mana yang tak terbuai dengan kecantikannya? Tak heran bila ibunya, Mrs. Garstin menaruh harapan besar padanya dibandingkan dengan adiknya, Doris.

Anugerah yang dimiliki oleh Kitty membuat ibunya berambisi ia akan menikah dengan seorang bangsawan atau kaya raya. Namun, standarnya yang terlalu tinggi dan sifat Kitty yang sangat pemilih justru membuat ambisinya tak tercapai. Di usia Kitty yang terus merangkak naik, tak ada lagi lelaki yang bersedia untuk melamarnya seperti dulu. Sampai saatnya, Walter Fane hadir di hidupnya.

Walter Fane, seorang ahli bakteri yang tinggal di Hong Kong memberanikan diri melamar Kitty di sebuah toko bunga. Pertemuannya yang singkat membuat Kitty mengira Walter bergurau dengan perkataannya. Namun, bagi Kitty lamaran Walter adalah kesempatan dan jalan keluar bagi masalah yang ia hadapi saat itu.

Jika melihat keluarga Mr. Garstin memang terbilang aneh. Nyaris tak bisa dikatakan sebagai keluarga. Bila diibaratkan sebuah mobil, Mrs. Garstin adalah pengemudinya. Ia yang mengatur segala hal sesuai kehendaknya. Selain itu, Kitty yang belum juga menikah dianggap sebagai beban dalam keluarganya. Mr. Garstin, tak berdaya ia hanya menuruti ambisi-ambisi Mrs. Garstin. Akan jelas terlihat bahwa masing-masing tak saling peduli. Bahkan ketika Mrs. Garstin meninggal karena sakit, Kitty tidak menangis sama sekali. Begitu pula Mr. Garstin yang menyembunyikan rasa lega di balik kata-kata berduka yang ia katakan.

Novel yang dirawi oleh William Somerset Maugham ini memiliki cerita yang menyedihkan tapi indah dan menarik untuk dibaca.  Sudut pandang ada pada tokoh Kitty. Kita akan banyak menemukan konflik batin dalam tokoh ini. Mulai dari konflik keluarga, suami, bertaruh nyawa dengan hidup pada tempat yang dilanda wabah kolera, dan masih banyak lagi. Novel ini pun telah diadaptasi pada sebuah film dengan judul yang sama garapan Jhon Curran.  Namun, terdapat perbedaan cerita yang signifikan antara novel dan filmnya.

Tokoh Walter Fane sangat menarik dalam cerita ini. Ia tetap mencintai Kitty meskipun ia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan. Kitty menikah dengannya hanya karena terdesak perlakuan ibunya dan Kitty tak ingin jika adiknya menikah terlebih dahulu. Walter sangat tahu akan hal itu.

“Aku tahu kau mau menikah denganku hanya supaya tidak kehilangan muka. Tapi aku sangat mencintaimu, jadi aku tidak peduli. Kebanyakan orang, sejauh yang kulihat, kalau mereka mencintai seseorang dan cinta mereka tak berbalas, mereka akan sangat sedih. Mereka menjadi marah dan getir. Aku tidak seperti itu. Aku tak pernah mengharapkan kau mencintaiku, aku tak melihat alasan apapun yang membuatmu bisa mencintaiku, aku tak pernah menganggap diriku sangat layak dicintai.” (The Painted Veil: 83)

Meskipun Walter telah menunjukan perasaannya Kitty tetap tak bisa mencintainya, (bodohnya) ia malah mencintai Charlie Townsend dan memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya. “Apa yang sebagian besar suami dianggap sebagai hak mereka, rela kuterima sebagai sesuatu yang diberikan karena belas kasihan.”(The Painted Veil: 83).

Konflik paling menarik saat Walter pada akhirnya mengetahui perselingkuhan antara Kitty dan Charlie. Hal itulah yang membuat Kitty dengan sangat terpaksa dan putus asa mengikuti Walter untuk pergi ke Mei-Tan-Fu yang tengah dilanda wabah kolera. Ratusan orang meninggal tiap harinya seperti lalat.

Bagi pembaca yang gemar dengan cerita drama, novel ini cocok untuk dibaca. Namun bagi yang lebih menyukai genre romantis, lebih baik menonton filmnya. Unsur drama romantisnya lebih kental jika dibandingkan dengan novelnya.

Sayangnya, cerita yang berdasarkan sudut pandang Kitty ini justru meninggalkan rasa penasaran sampai akhir cerita. Perasaan dan hal yang dipikirkan oleh Walter tidak bisa ditebak. Jika Somerset ingin membuat pembacanya merasa demikian, maka ia berhasil. Meskipun begitu, tak berarti novel ini tak menarik untuk dibaca. Jika harus memberikan nilai dari 1-5, maka saya akan memberikan nilai 4.

SUDURY SEPTA MARDIAH

Dewan Pertimbangan Organisasi LPM Unpas

No Responses

Tinggalkan Balasan