Njoto, Sisi Lain Kader PKI

Sumber: basabasi.co

Judul   : Njoto – Biografi pemikiran 1951-1965

Penulis : Fadrik Aziz Firdausi

Tebal   : 291 halaman

Penerbit : Marjin Kiri

Terbit : 2017

 

Sebegitu menariknya kehidupan Njoto dalam kurun waktu 1951-1965. Seorang komunis yang lentur dan bergaya necis. Berbeda dengan kebanyakan kader PKI pada saat itu.

Berawal dari sebuah skripsi mahasiswa sarjana Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, yang kemudian dijadikan buku, kehidupan Njoto diceritakan cukup begitu jelas. Fadrik Aziz Firdausi, penulis buku ini telah banyak melakukan riset dan mencari data tentang Njoto. Beberapa data yang dicarinya melalui buku, koran, dan tulisan-tulisan Njoto yang tidak sempat dipublikasi.

Dalam kehidupannya sejak kecil Njoto adalah anak dari seorang laki-laki yang bernama Rustandar Sostrohartono, serta istrinya Masalmah. Ayah Njoto adalah seorang politikus PKI yang menjabat sebagai sekretaris agitasi dan propaganda (agitprop) di Osc PKI Bondowoso. Selain sebagai seorang politikus, Rustandar juga seorang saudagar busana dan jamu. Sementara ibunya, Masalmah adalah putri seorang pemborong yang memiliki rumah tingkat tiga. Untuk itu, Njoto lahir dari keluarga yang ekonominya berkecukupan.

Meski Njoto lahir sebagai anak yang berkecukupan dalam segi ekonomi, namun Njoto tidak menyukai budaya feodal yang lahir pada keluarganya. Kerapkali Njoto tidak terlihat pada saat keluarga besarnya kumpul. Sri Windarti, adik perempuan Njoto juga mengakui bahwa ia jarang ditemukan ketika keluarganya sedang berkumpul biasa atau pada hari-hari tertentu.

Seperti yang diceritakan dalam bukunya, Njoto lahir sebagai pemuda yang cukup pintar. Ia pandai menulis, berorasi dan bisa memainkan beberapa alat musik. Beberapa hal kebanyakan Njoto belajar autodidak. Ia banyak membaca, sejak kecil ayahnya menerapkan budaya membaca pada Njoto. Selain itu juga ayahnya membebaskan buku bacaan yang ingin Njoto baca.

Sebagai seorang komunis yang memiliki jabatan cukup tinggi dalam partai, Njoto cukup unik. Orang yang dipercaya D.N Aidit sebagai wakil ketua II CC PKI, Njoto bertanggung jawab akan bidang agitprop. Ketika menjabat wakil ketua II CC PKI, ia masih terbilang muda.

Dalam perjuangannya, ia kerap berbeda dengan kader PKI lainnya. Ia berjuang melalui bidang seni dan budaya. Selain menjadi anggota politbiro, ia juga turut menerbitkan majalah Bintang Merah dan menjadi pemimpin redaksi koran Harian Rakjat. Bersama Njoto, koran tersebut menjadi salah satu koran terbesar pada saat itu.

Njoto juga menekuni sastra dan budaya. Kerapkali ia mengkritik sastrawan pada saat itu. Seperti artikel yang pernah ia tulis dan dimuat di korannya yang berjudul  “Friedrich Engels dan Kritik Sastra”. Di tulisan itu ia mengkritik budaya sastra pada saat zaman Engels dan zamannya. Selain mengkritik sastra, ia juga sering mengkritik budaya yang pernah diperdebatkan pada tahun 1950-an.

Di buku ini juga disajikan beberapa tulisan asli Njoto dengan tidak mengubah ejaan aslinya. Sehingga seolah-olah kita benar-benar merasakan langsung tulisan Njoto pada saat awal diterbitkan. Selain artikel, buku ini juga menyuguhkan beberapa tulisan yang dibacakan Njoto ketika ia harus mengisi undangan kuliah umum atau berpidato.

Buku ini banyak menjelaskan kehidupan Njoto mulai sejak kecil hingga ia diturunkan sebagai wakil ketua II CC PKI pada saat itu. Kehidupannya yang diceritakan dalam buku cukup jelas. Pada saat menceritakan perjalanannya, ditampilkan pula tulisan asli Njoto. Seperti pada saat ia menulis surat pada temannya, isi surat yang ditulisnya pun ditampilkan dalam buku.

Sebagaimana skripsi yang ditulis dan dijadikan buku, tulisan dibuku ini tidak terlalu kaku dan baku. Cukup cair sehingga kita sebagai pembaca dapat dengan mudah memahami isi buku tersebut. Terlebih kita juga dapat membaca tulisan asli Njoto.

Meski dibuku biografi ini tidak menceritakan keberadaan Njoto pada saat G30S itu terjadi, namun pembaca dapat menyimpulkan keberadaan Njoto itu sendiri. Fadrik Aziz hanya memberitahu keberadaan Njoto pada saat kejadian penculikan dewan jenderal itu sendiri. Namun, semua cerita tentang Njoto lumayan cukup jelas diceritakan disini. Jika penilaian tentang buku 1-5, maka saya akan memberikan nilai 4 pada buku ini.

 

MUHAMMAD FAQIH ZALFITRI RAZAK

No Responses

Tinggalkan Balasan