Kim Ji Yeong Born 1982: Perempuan dalam Belenggu Patriarkisme

Sumber: www.gramedia.com

Judul               : Kim Ji-Yeong, Born 1982

Penulis             : Cho Nam-Joo

Alih Bahasa     : Lingliana

Tebal               : 192 halaman

Penerbit           : PT.Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit    : 2019

Novel Kim Ji-Yeong, Born 1982 menjadi salah satu novel kontroversial yang terbit di tahun 2016. Novel ini mengangkat isu tentang feminisme di Korea Selatan dan dianggap menjadi salah satu pelopor gerakan emansipasi terhadap wanita di Korea.

Kim JI-Yeong 1982, menceritakan tentang kehidupan seorang perempuan yang lahir di tengah keadaan masyarakat misognis dan patriarki. Kim Ji-Yeoung adalah seorang perempuan yang hidupnya berubah 180º setelah ia menikah dan mempunyai anak. Banyak perubahan yang terjadi di hidupnya. “Kau berkata sebaiknya tidak memikirkan apa yang hilang dari kita. Aku mungkin kehilangan masa muda, kesehatan, pekerjaan, rekan-rekan kerja, teman-teman, rencana hidup, dan masa depanku. Karena itu aku selalu memikirkan apa yang hilang dari diriku. Tetapi, apa yang hilang darimu?.” (Halaman 136).

Ia harus merelakan kehidupannya sebagai wanita karier yang penuh dengan impian. Hal itu menjadi beban dipikirannya. Kim Ji-Yeong merasakan ketidakadilan dan mendapatkan banyak tekanan dari lingkungannya.

Karenanya, Kim Ji-Yeong menderita postpartum (depresi pasca-persalinan). Ia mulai berubah menjadi orang lain. Terkadang ia bisa berubah menjadi orang yang telah mati, masih hidup, atau menjadi perempuan-perempuan di sekitarnya. Di saat-saat konyol dan tidak adil, Kim Ji-Yeong sering diam saja, ia ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak melakukannya. Karena ia menyadari lingkungan tempat ia tinggal berisi masyarakat misognis. Jeong Dae-Hyeon, sang suami berusaha agar Kim Ji-Yeong mendapatkan pengobatan dari psikiater dan selalu berusaha ada menemani sang istri. Tapi, tak banyak hal yang berubah.

Penulisnya, Cho Nam-Joo, memberitahu bagaimana sulitnya menjadi perempuan di tengah masyarakat patriarki yang terkadang lupa bahwa perempuan juga bebas untuk mengemukakan pendapat dan merengkuh hak-haknya sebagai individu yang merdeka. Tapi, seperti yang digambarkan dalam novel ini, kesetaraan gender  menjadi sesuatu yang masih mahal harganya.

Perempuan dituntut untuk bisa melakukan segala hal, tetapi mendapat batasan dalam kesempatan bekerja. Perempuan yang “baik” adalah perempuan yang bisa mengurus keluarganya dengan baik. Perempuan akan lebih disayangi dan dihargai jika ia bisa “melahirkan anak laki-laki”.

Banyak perempuan yang mungkin mengalami hal yang sama dengan Kim Ji-Yeong. Siapa pun bisa mengalami hal tersebut. Sudah saatnya kita bersuara tentang ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan. Karena, Kim Ji-Yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia. 

 

MONICA DEVINOR

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

No Responses

Tinggalkan Balasan