Jurnalis di Tengah ‘Ladang Pembantaian’

The Killing FieldsJudul Film : The Killing Fields (Ladang Pembantaian)
Rilis : 2 November 1984 (USA)
Genre Film : Drama | History | War
Diperankan Oleh : Sam Waterston, Haing S. Ngor and John Malkovich
Durasi Film : 141 Menit

Bukan film baru, bahkan ini film yang sudah cukup lama. The Killing Fields atau Ladang Pembantaian, sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Alkisah pada saat itu sekitar tahun 1975 di Negara Kamboja tengah terjadi perang saudara. Kelompok pemberontak Khmer Rouge (Khmer Merah) dengan pemimpinnya Pol Pot berhasil mengkudeta pemerintahan setempat. Atas penyalahgunaan pimpinannya tersebut, Pol Pot yang dibesarkan dengan paham komunis telah melakukan kejahatan yang sangat keji.

Hampir dua juta penduduk setempat dibantainya hingga tewas di sebuah tanah kosong yang lebih dikenal dengan Ladang Pembantaian. Para intelektual Kamboja ia bunuh di Ladang Pembantaian tersebut dan tidak sedikit warga sipil, perempuan-perempuan bahkan anak-anak diculik oleh kelompok pemberontak tersebut dan dibiarkan hingga mati kelaparan.

Seorang jurnalis asing bernama Sydney Scanberg (Sam Waterston) dari New York, Amerika Serikat ditugaskan untuk meliput berita yang tengah kerkecamuk di negeri itu. Di sana ia bertemu dengan salah seorang jurnalis lokal bernama Dith Pran (Haing S. Ngor). Selama berada di Kamboja, Sydney ditemani dan diantarkan oleh Dith.

Pada suatu waktu ketika para pasukan bersenjata Amerika ditarik mundur dari Negara yang tengah bergejolak itu, Dith menitipkan anggota keluarganya ikut bersama para pasukan bersenjata tersebut menuju Amerika guna menghindari konflik yang sedang terjadi. Tinggallah Sydney dan Dith berdua di sana.

Puncak kejadiannya ketika Pol Pot memerintahkan pasukan pemberontaknya untuk menggiring penduduk setempat menuju sebuah ladang kosong. Singkat cerita, berpisahlah Sydney dan Dith untuk sementara. Meski Dith seorang jurnalis, ia tetap tidak bisa bebas dari kejaran para pemberontak yang saat itu tengah terjadi penculikan besar-besaran.

Dith dipekerjakan di sebuah ladang bersama tawanan-tawanan yang lainnya. Di sana ia berpikir keras cara melarikan diri meski pernah tertangkap basah ketika mencoba melarikan diri. Akhirnya ia berhasil melarikan diri ke perbatasan dan tanpa ia sangka, ia bertemu dengan Sydney di sana. Sydney terharu karena menyangka tidak akan bisa bertemu dengan sahabatnya itu lagi.

Sebuah film yang mengharukan, betapa berharganya sebuah nyawa bila dibandingkan dengan kekuasaan. Apapun alasannya, peperangan hanya menimbulkan kerusakan dan kerugian dari semua pihak. Hanya kedamaianlah yang dapat menyatukan semua orang tanpa melihat golongan dan jabatan. Meminjam istilah John Lennon dalam lagunya Imagine, “Dapatkah Anda membayangkan dunia tanpa negara atau agama? Dan dunia akan menjadi satu”.

AGUNG GUNAWAN SUTRISNA
Penulis adalah mantan Ketua Umum LPM Jumpa Unpas periode 2012-2013

 

No Responses

Tinggalkan Balasan