Cinta Dalam Nafas Persilatan

Judul              : Yasmine

Genre             : Action

Sutradara      : Siti Kamaluddin

Pemain           : Liyana Yus, Reza Rahadian, Aryl Falak, Nabila Huda

Durasi            : 105 Menit

Rilis                : 21 Agustus 2014

 

Setelah 54 tahun Brunei tidak memproduksi film layar lebar, kini pada tahun 2014 Siti Kamaluddin memberikan sebuah gebrakan besar dengan memproduksi sebuah film perdananya. Industri perfileman di Brunei kembali bergairah setelah luncurnya film Yasmine yang dirilis pada 21 Agustus 2014.

Tak tanggung-tanggung, dalam penggarapannya yang membutuhkan waktu selama empat tahun ini, Siti sang sutradara menggandeng pemain dan kru film dari berbagai negara yaitu Indonesia, Hong Kong, Malaysia, Australia, Polandia, dan Brunei Darussalam. karena film ini bergenre action, Siti memilih Chan Mang Chin seorang koreografer action yang selalu menangani film-film yang dibintangi Jackie Chan dan film Hollywood selama 30 tahun. Salman Aristo, penulis skenario film Laskar Pelangi kini dipercaya untuk menulis skenario film Yasmine.

Selain itu artis papan atas Indonesia pun dipilih untuk berlaga di film perdananya. Reza Rahadian, Roy Sungkono, Agus Sungkoro, dan Mentari De Marelle beradu peran dengan pemain Brunei yaitu Liyana Yus dan Nabila Huda. Siti mendatangkan seorang atlet silat yang telah merebut piala Sea Games untuk melatih para pemain karena sebagian besar pemain sama sekali tidak menguasai teknik silat. Hal itu menjadi sebuah tantangan untuk para pemain.

Bagi pemain yang berasal dari luar Brunei, mereka juga diberi waktu untuk mempelajari dialek dan bahasa Brunei. Namun bagi Reza mempelajari dialek dan bahasa Brunei tidaklah sulit. Reza hanya membutuhkan waktu selama dua minggu sampai ia menguasainya. Bahkan setelah proses syuting selesai pun Reza terus berbicara dengan bahasa Brunei karena sudah terbiasa.

Siti memiliki alasan tersendiri mengapa film ini diberi judul Yasmine. Nama itu diambil dari filosofi bunga jasmine “Bunga jasmine itu kecil, tapi kalau ditaruh di ruangan baunya sangat kuat. Seperti karakter Yasmine, meskipun dia kecil tapi dia powerfull dan jago silat,” ucap Siti dalam sebuah acara talkshow yang mengulas film Yasmine.

Dalam masa penggarapannya, Siti menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah Siti harus membawa seluruh pemain dan kru untuk hadir di Brunei karena proses syuting full dilakukan di Brunei. Namun dia tetap merasa nyaman bekerjasama dengan seluruh kru dan pemain yang berasal dari luar Brunei.

 

Luar biasanya lagi film ini telah meraih penghargaan Best Asian Movie pada Neuchâtel International Fantastic Film Festival 2014 di…. Dua acungan jempol pantas diberikan kepada Siti atas kesuksesannya dalam film Yasmine. 19.000 masyarakat Indonesia telah menyaksikan film yang menginspirasi ini dan merasa puas dengan apa yang disaksikannya.

Yasmine (Liyana Yus) adalah seorang gadis yang baru saja menginjak bangku SMA. Ia adalah seorang gadis yang nakal, selalu ceria, dan gigih dalam berjuang. Yasmine terpaksa melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Shahbandar karena keterbatasan biaya, sedangkan tiga orang sahabatnya bersekolah di Sekolah Tinggi Internasional (STI).

Pada awalnya Yasmine selalu berkumpul dengan tiga teman semasa SMP-nya dulu setelah sepulang sekolah di STI. Namun perlahan temannya terus berusaha menjauhinya. Satu hal yang membuat Yasmine terkejut adalah ia bertemu dengan Adi (Aryl Falak) cinta pertamanya yang juga seorang atlet silat internasional. Sayangnya Adi justru sedang dekat dengan Dewi Inaya (Mentari De Marelle). Terbakar cemburu, Yasmine pun berusaha mencari akal untuk memisahkan mereka dengan cara masuk dalam sebuah klub silat dan mengikuti turnamen silat.

Mengetahui hal itu, Dewi tak tinggal diam. Berkali-kali ia melabrak Yasmine dan meremehkan kemampuan silatnya. Yasmine pun masuk ke klub silat yang ada di sekolahnya yang hanya beranggotakan dua orang yaitu Ali (Roy Sungkono) dan Nadya (Nabila Huda) temannya di kelas. Hanya ada satu tujuan Yasmine untuk bergabung dan belajar silat yaitu untuk mengalahkan Dewi dan mendapatkan Adi. Niatannya itu ditentang keras oleh Ali “Silat itu harus dengan cinta,”.

Perjuangan Yasmine pun tak berjalan mulus karena Fahri, ayahnya melarang Yasmine untuk belajar silat dengan alasan apapun. Konflik pun bermunculan antara Yasmine dengan keluarga dan sahabatnya pun diuji. Lalu bagaimana perjalanan perjuangan Yasmine dalam mendalami ilmu silat? Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Adi? Bagaimana kabar persahabatannya dengan Ali dan Nadya? Di sana lah puncak dari konflik yang dihadapi oleh Yasmine.

Bisa dikatakan film ini seperti gado-gado karena berbagai kisah ada di dalamnya. Mulai dari kisah cinta, persahabatan, dan keluarga dikemas secara menarik dalam film ini. Film ini dapat menginspirasi bagi penikmat film yang ikut menyaksikan. Meskipun film ini memuat banyak adegan silat, namun film ini aman untuk dikonsumsi oleh semua umur karena tidak ada adegan-adegan kekerasan. Lain halnya dengan film The Raid yang disutradarai oleh Gareth Evans, dalam film ini Yayan Ruhian yang berperan sebagai Mad Dog juga menggunakan ilmu silat dalam adegan yang diperankannya. Namun dalam film tersebut banyak sekali adegan kekerasan dan pembunuhan yang tidak layak disaksikan oleh anak di bawah umur.

Film Yasmine dan The Raid adalah film yang memperkenalkan budaya silat yang dipandang sebelah mata kepada dunia. Setelah kedua film itu rilis banyak para penontonnya yang kemudian tertarik untuk mempelajari ilmu silat. Hebatnya lagi, kebudayaan silat di Indonesia sangat dikagumi oleh negara lain salah satunya Amerika. Banyak pelajaran yang dapat dipetik maknanya dari film ini. Sekaligus film ini dapat menginspirasi dan menghibur bagi siapapun yang menyaksikan. Bagi penikmat film terutama film action, film satu ini wajib Anda tonton. Jika diberi nilai antara satu sampai sepuluh, film ini mendapatkan nilai sembilan. Selamat menonton.

SUDURY SEPTA MARDIAH

No Responses

Tinggalkan Balasan