Animal Farm: Diktatorial, Babi, dan Kita

Sumber : bukukita.com

Meminjam norma sastra Prof. Henry Guntur, sastra itu harus bebas dari dan atau tak terikat oleh waktu dan tempat. Dan Orwell, lewat Animal Farm-nya telah melampaui itu atau bahkan ia telah berhasil menambahkan satu aspek penting dalam sastra: Animal Farm telah melepaskan diri dari keterikatan siapa yang akan membacanya. Tak ada yang terlalu rumit dalam Animal Farm. Bahkan buku ini bisa saja dikategorikan sebagai fabel yang mengantarkan seorang anak kecil kepada tidurnya.

Penjelmaannya menjadi sebuah visual dalam bentuk animasi kartun di tahun 1954, membikin buku ini seakan memang diperuntukkan untuk anak-anak. Dan jika benar Orwell ingin menyisipkan propaganda, maka jelaslah propaganda ini merupakan sesuatu yang berhasil. Propaganda terbaik adalah melalui anak-anak, kata Eka Kurniawan suatu waktu. Pikiran anak-anak yang lugu dan murni tentu lebih mudah menyerap apa yang mereka terima dan melekat hingga mereka dewasa.

***

Semuanya dimulai dari sebuah mimpi si babi tua Major. Ia menegaskan bahwa kehidupan sengsara dan penuh perbudakkan bukanlah bagian dari tatanan alam, bukan pula karena tanah air gersang sehingga tak menyediakan kehidupan layak bagi mereka yang tinggal di atasnya.

Sebab, tanah terlalu subur dan mampu menghasilkan makanan berlimpahan untuk semua binatang. Akan tetapi, semua hasil produksi dari kerja keras binatang dirampok oleh manusia. Sehingga ia menyimpulkan bahwa manusia adalah musuh sesungguhnya bagi binatang. Menyingkirkan manusia berarti meniadakan akar persoalan kelaparan dan eksploitasi kerja selama-lamanya.

Para binatang yang mulai tersadarkan mengorganisir diri mereka dipimpin dua ekor babi bernama Snowball dan Napoleon. Agenda revolusi itu berlangsung pada suatu malam di lumbung pakan ketika para hewan berhasil mengambil alih peternakan. Setelah pemberontakkan malam itu, prinsip kolektivisme mulai dijalankan dalam mengelola peternakan untuk kebutuhan hidup bersama. Sekarang, all animal are equals.

Tapi, dominasi para babi – utamanya Napoleon – membikin kesetaraan hanya terdengar sebentar dan setelahnya lebih nampak sebagai sesuatu yang ilusif. Ia menjelma diktator bagi hewan lainnya. Mandat revolusi telah terkhianati dan tirani hadir kembali. Semua binatang memang masih setara, tapi para babi di atas segalanya.

Buku ini, lebih dari apa yang disebut orang-orang sebagi sebuah sindiran politik, tetapi penanaman dogma terhadap anak-anak – jika memang peruntukkannya demikian – untuk tak mempercayai pemerintahan. Pernyataan ini diperjelas oleh sikap Benjamin si keledai yang tak pernah percaya pada gagasan kepemimpinan dan tak pernah mau memihak fraksi mana pun, baik sebelum disingkirkannya Snowball, atau pun masa kepemimpinan Napoleon.

Baginya, ada atau tak adanya itu semua, hidup akan terus berjalan seperti apa yang sudah terjadi – yakni, dengan buruk. Ada hal-hal yang tersirat dalam kisah sehimpun hewan dalam buku ini. Mereka saling bicara, menyuarakan suara manusia yang tak bisa bersuara ketika berada di pihak mana pun menjadi sama saja. “… memandang dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya,” tulis Orwell dalam epilog cerita fabel itu.

Yah, meski pun segala sesuatunya kembali pada tafsir pembaca karena Ignas Kleden pernah mengatakan, secara rohani, manusia hidup bukan saja dari pengetahuan tetapi juga pengertian, bukan saja dari informasi tetapi juga pemahaman. Maka, suatu malam ketika kau sudah mau membacakan Animal Farm pada adikmu, kasih juga ia pengertian bahwa gagasan kepemimpinan adalah sesuatu yang usang, manusia sudah mesti mengorganisir dirinya sendiri untuk memahami kehidupan.

 

ANGGA PERMANA SAPUTRA

No Responses

Tinggalkan Balasan