Aku Bodoh, Maka Aku Membaca

 

The Book Thief (2013)

The Book Thief (2013)

Judul        : The Book Thief
Durasi      : 131 Menit
Rilis          : 3 Oktober 2013
Genre       : Drama | Perang
Sutradara : Brian Percival
Pemeran : Sophie Nélisse, Geoffrey Rush, Emily Watson, Nico Liersch

“Korban pertama dari perang adalah kebenaran,” (Hiram Johnson)

Liesel tak tahu kenapa ia dan adiknya mesti berpisah dengan ibunya. Yang ia tahu bahwa tinggal bersama ibunya saat itu adalah tidak aman. Ia bersama ibu dan adik lelakinya pergi jauh ke sebuah daerah menggunakan kereta api.

Di tengah perjalanan, adiknya tak siuman di pelukan ibunya. Ternyata adiknya meninggal, Liesel menyadarinya ketika adiknya mengucurkan darah dari hidungnya. Sang adik pergi untuk selamanya. Adiknya dikubur di tempat antah berantah dengan pemakaman seadanya. Saat para pelayat meninggalkan tanah pemakanan, Liesel menemukan sebuah buku dari seseorang yang tak sengaja menjatuhkannya. Diambillah buku itu. 

Liesel, NAZI, dan Perkenalannya dengan Buku

Saat benih-benih perang dunia kedua berkobar, Partai Nasional Sosialis Jerman (baca: NAZI) di bawah pimpinan tangan besi Adolf Hitler mulai melancarkan aksinya, kisah ini dimulai. Liesel Meminger (Sophie Nélisse) menjadi satu di antara jutaan manusia yang menjadi saksi sekaligus korban akan dampak perang itu.

Liesel adalah perempuan belia yang dititipkan oleh otoritas pemerintah kepada orang tua asuhnya. Ayah barunya bernama Hans Hubermann (Geoffrey Rush) dan ibunya Rosa Hubermann (Emily Watson). Ayahnya baik, suka bercanda, dan doyan bermain akordeon. Sedangkan ibunya judes, galak, tapi sangat perhatian.

Liesel berperangai bandel, berani, dan selalu penasaran dengan hal-hal baru. Ia bertemu Rudy Steiner (Nico Liersch), bocah lelaki yang untuk pertama kali mengajaknya sekolah. Rudy teman yang baik, kemana pun Liesel pergi, ia selalu menemaninya. Rudy juga gemar berlari, ia kerap menantang Liesel untuk balap lari, meski berdua. 

Di hari pertama sekolahnya, Liesel sudah menjadi perhatian semua murid sekelas. Gurunya mendapati ia anak baru dan menyuruhnya menuliskan nama lengkapnya di papan tulis. Liesel termenung, ia menghampiri gurunya dan mengambil kapur. Tak dinyana, bukan nama lengkap yang ia tulis namun hanya “X X X”, entah itu kata, kalimat, atau angka romawi. Seisi kelas riuh sontak menertawakan kebodohannya. Ternyata Liesel tak bisa menulis.

Usai kelas, puluhan teman barunya itu mengelilinginya di tengah lapangan yang diselimuti salju. Liesel dibully. Mereka serentak meneriaki Liesel, “Bodoh, bodoh, bodoh!” Liesel terpaku dan membisu. Tiba-tiba seorang teman lelaki datang dan menyodorkannya buku. Ia mengejek dengan rona wajah yang sinis. Liesel naik pitam. Kesabarannya habis. Ditinjulah temannya itu hingga terkapar. Tak puas, Liesel terus mendaratkan pukulan ke wajah temannya sampai berdarah. Sang guru datang dan melerai mereka berdua.

Hans, ayah Liesel, memergoki Liesel di malam hari tengah memegang erat sebuah buku di kamarnya sebelum tidur. Hans bingung dan menanyakan buku siapa itu. Liesel menjawab bahwa buku itu miliknya. Hans menyangsikan karena judul yang tertera di buku itu “Buku Pedoman Penggali Makam.” Kini Hans pun menyadari bahwa anak tercantiknya itu tidak bisa membaca. Diajarkannyalah Liesel membaca. Buku itu pun habis mereka lahap berdua.

Suatu malam semua warga kota berkumpul di alun-alun untuk pawai. Liesel belum tahu apa yang terjadi. Ibarat sebuah apel akbar, walikota berpidato di hadapan rakyatnya. Bicaranya berapi-api disambut tepuk tangan hadirin. Ternyata ia penyambung lidah Hitler.

Poin pidatonya adalah doktrin fasisme (kebencian) kepada orang-orang selain Jerman dan Yahudi, kepada komunis, serta untuk melenyapkan “virus intelektualitas” (baca: buku) yang selama 20 tahun mengotori pikiran rakyat Jerman. Pidatonya selesai, ditutup dengan menyanyikan lagu kebangsaan Jerman. Satu persatu warga melemparkan buku di tengah kobaran api yang menyala. Api unggun yang mahal.

Liesel mulai merasa heran. Seorang murid yang tempo hari ia hajar habis-habisan mendatanginya. Kembali berulah, ia meledek bahwa ibu kandung Liesel adalah seorang komunis. Liesel tak berkomentar apa-apa, hanya Rudy yang membelanya.

Warga kota pun bubar saat malam sudah larut. Liesel masih meratapi tumpukan abu sisa pembakaran buku yang apinya mulai padam. Ia mengambil satu buku yang terbakar sampulnya saja. Dari sudut jalan, sebuah mobil masih terparkir. Seorang perempuan baya memandanginya. Mobil hilang dari pandangan, Liesel pun pulang bersama ayahnya.

Pertemuan dengan Max, Seorang Sahabat dan Teman Diskusi

Tentara Jerman sedang gencar-gencarnya menyisir wilayah kota mencari Yahudi untuk “dihabisi”. Seorang Yahudi, Max Vandenburg terpojok di rumah bersama ibunya. Seorang tentara Jerman yang iba menolongnya. Ia bisa kabur, namun sial, ia tak bisa membawa ibunya serta.

Hans, Rosa, dan Liesel yang sedang asyik bercengkrama dikagetkan oleh ketukkan pintu yang keras. Adalah Max dengan sempoyongan minta pertolongan keluarga itu. Max tiba dalam keadaan sakit. Awalnya ia ditempatkan di lantai dua di samping tempat tidur Liesel. Selang beberapa lama, mereka tak merasa aman juga nyaman, akhirnya Max pun ditempatkan di lantai basement rumahnya.

Setelah Max sadar betul, Liesel mulai berbincang dengannya. Ia bertanya mengapa ia bersembunyi, apakah ia komunis seperti ibunya. Max menyergah dan berkata, “Bukan, aku seorang Yahudi.”

Dari sini Liesel mulai berpikir, mengapa Sang Fuhrer, Hitler amat membenci komunis dan Yahudi. Padahal ibu kandung Liesel dan Max adalah orang yang sangat baik di matanya.

Hari demi hari, Liesel dan Max menjadi akrab. Ketika Max jatuh sakit, Liesel dengan setia menemani dan membacakan cerita dari buku, kini Liesel sudah mulai mahir membaca. Tak jarang pula mereka saling bertukar pendapat satu sama lain. Max pernah menjelaskan filsafat Aristoteles yang membuat Liesel mengernyitkan dahi. Mereka sudah seperti saudara bak adik dan kakak.

Bukan hanya Liesel yang membawa buku saat menetap di rumah Hans, Max pun demikian. Buku tak terlalu tebal dengan sampul berwarna coklat. Liesel penasaran dan pernah satu kali memegangnya mesti tak sempat membaca isi bukunya. Di sampul depannya tertulis “Mein Kampf”.

Suatu ketika, saat Liesel, Rudy, dan teman-temannya bermain sepakbola di jalan, beberapa tentara Jerman datang. Mereka mendatangi rumah-rumah untuk memeriksa basementnya. Liesel kaget tak keruan. Ia berlari cepat menuju rumahnya. Diberitahukan kepada ibu dan ayahnya bahwa tentara Jerman datang. Hans segera menuju basement “mengamankan” Max.

Rosa salah tingkah, ia takut Max tertangkap dan mereka sekeluarga pun diberi sanksi. Seorang tentara Jerman datang dan memaksa untuk memeriksa basement dan ketika itu pula Hans keluar dari pintu basement. Tak banyak bercakap, Hans hanya berkata sedang mengerjakan sesuatu kemudian mempersilakan tentara itu “mampir” di basementnya.

Jantung Hans, Rosa, dan Liesel berdegup kencang saat tentara Jerman itu memeriksa basementnya. Max tak ketahuan. Ternyata ia disembunyikan Hans di balik bendera Partai NAZI berwarna merah. Aman.

Setelah kejadian itu, keselamatan keluarga Hans mulai terancam dan Max menyadari akan hal itu. Ia mememutuskan untuk meninggalkan keluarga barunya. Max mesti pergi. Sebelum pergi, Max memberikan buku “Mein Kampf”-nya itu kepada Liesel. Di dalamnya tertulis, “Dari Max untuk Liesel” dan di halaman selanjutnya tertulis “לכתוב” dalam bahasa Ibrani yang berarti menulis. Ternyata isi buku itu kosong dan Max ingin Liesel menulis catatan harian di bukunya itu ketika mereka berpisah.

Ketagihan Mencuri Buku dan Akhir Cerita

Sebenarnya Hans adalah pengangguran dan hanya bekerja serabutan. Rosa adalah buruh cuci. Satu waktu ia mendapat orderan cucian dari keluarga walikota. Rosa meminta Liesel mengantarkan pakaian itu ke rumah walikota. Seperti biasa, Liesel ditemani oleh Rudy.

Saat tiba di rumah walikota, Liesel bertemu dengan seorang perempuan yang pernah melihatnya mengambil buku dari tumbukan kobaran api yang sudah padam. Ternyata ia adalah istri walikota. Liesel takut. Pikirannya kemana-mana. Namun prediksinya justru salah. Ilsa, istri walikota itu justru kagum kepada Liesel karena berani dan gemar membaca buku. Diajaknyalah Liesel masuk ke ruang perpustaakan keluarga.

Liesel diperbolehkan membaca buku apapun dan kapanpun ia mau. Syahdan, gayung bersambut, Liesel malah keasyikkan membaca. Ia lupa bahwa Rudy menunggunya di luar rumah, segera ia pun pamit kepada Ilsa.

Rudy geram dan heran kepada Liesel karena menunggu lama. Mereka berdua pun pulang. Esok, lusa, dan hari-hari selanjutnya, Liesel malah rutin datang ke rumah walikota itu hanya sekadar untuk membaca. Dibacanyalah banyak buku bahkan ia sampai hafal beberapa cerita.

Perang dunia kedua berlangsung. Di tahun 1940an, Inggris menyatakan perang kepada Jerman. Beberapa warga terkena “Wajib Militer” untuk membantu Jerman bertempur. Tak disangka, ternyata Hans, ayah Liesel pun termasuk salah satunya. Hans pun pergi meninggalkan Rosa dan Liesel. Kembali perpisahan terjadi.

Saat dirundung kesedihan karena berpisah dengan kedua orang terdekatnya, Max dan Hans, Liesel tidak berdiam diri. Ia kembali mendatangi rumah walikota, membaca. Sampai suatu ketika walikota melihatnya. Ia tak diperkenankan lagi membaca di rumahnya. Namun Liesel tidak hilang akal, ia kerapkali mengendap-endap masuk ke rumah walikota. Diambilnya beberapa buku untuk dibacanya di rumah.

Beberapa kisah dan pengalamannya tak lupa ia tulis di buku harian “Main Kampf” pemberian Max.

Pagi-pagi buta saat hendak pergi sekolah, sebuah truk militer lewat. Truk itu mengangkut prajurit “Wajib Militer” yang selamat. Ternyata Hans pulang kembali. Betapa bahagianya Liesel bisa bertemu dengan ayahnya lagi, begitu pula Rosa, istrinya.

Usai makan malam, keluarga itu berkumpul. Mereka bercengkrama satu sama lain. Sampai malam menjelang mereka lelap dalam buaian mimpi. Ketika datanglah serangan udara. Bom dan rudal dihantamkan ke pemukiman warga. Sebagian besar rumah hancur.

Paginya, tim evakuasi menyelamatkan orang-orang yang masih hidup. Terdengar suara akordeon. Seseorang menekan tombolnya. Arahnya dari tumpukan kayu luluh lantak. Itu adalah Liesel. Ia selamat. Ia mencari kedua orangtuanya. Ia menangis. Yang ia lihat hanya puing berserakan. Kemudian ia melihat dua jenazah tergeletak tanpa nyawa. Mereka adalah kedua orangtuanya. Liesel tak kuasa menahan air mata dan kesedihan.

Dicarinya lagi orang-orang yang selamat. Rudy! Dari kejauhan ia melihatnya. Saat berbaring Rudy masih sadar namun sulit berbicara. Liesel menenangkannya. Rudy ingin sekali berkata meskipun patah-patah. “Liesel, aku men….” belum lengkap apa yang dikatakan, ajal telah menjemputnya. Lengkap sudah kesedihan Liesel. Semua orang yang dicintainya telah pergi.

Dua tahun kemudian. Liesel tinggal bersama ayah Rudy. Ia membantu menjaga toko di sudut kota. Dengan tanpa disangka-sangka, seseorang datang berpakaian rapi lengkap dengan jas dan dasi. “Max…..!!!!” Liesel berteriak sambil berlari memeluknya. Ternyata ia selamat. Liesel dan Max akhirnya hidup bersama. Mereka memiliki anak dan cucu.

Kisah dramatis dalam balutan sinema yang mengharukan. Film berdurasi dua jam lebih ini dikemas dengan alur yang lamban namun detail. Meski plot ceritanya tak banyak, namun penonton seolah hadir langsung di dalam cerita. Semua itu berkat kegeniusan sang sutradara meramu skenario yang menakjubkan.

Film yang diangkat dari sebuah buku ini mengajak banyak orang tentang humanisme, egaliter, dan tentunya mencintai buku. Sosok Liesel yang keranjingan buku tak lepas dari peran Max yang menemaninya. Kisah persahabatan Liesel dengan Rudy pun patut diapresisesi.

Sebagai penikmat film bergenre drama perang umumnya dan pengamat sejarah perang dunia kedua serta inside the strory of Jews, kiranya film ini pantas mendapatkan rating 9 dari 10. Luar biasa!

AGUNG GUNAWAN SUTRISNA
Penulis adalah Sekjen FKPMB periode 2013-2014

No Responses

Tinggalkan Balasan