1984, Brave New World, dan Kita

www.intellectualtakeout.org

Kritik itu berwujud sebuah fiksi. Dan Vargas Llosa membenarkannya. Dalam esai bertajuk Sastra Itu Api, Llosa menuliskan bahwa, “panggilan sastra lahir dari ketidaksepakatan seorang manusia dengan dunia, intuisinya akan kekurangan, perbedaan, dan penderitaan di sekitarnya. Sastra adalah pemberontak permanen…”. George Orwell lewat Nineteen-Eighty Four-nya dan Brave New World milik Aldous Huxley adalah semacam penjelmaan atas pernyataan itu. Baik 1984 maupun Brave New World tak akan bisa dilepaskan dari penjelmaannya sebagai bentuk kritik atas masyarakat dan negara.

***

Winston Smith adalah lelaki tiga puluh sembilan tahun. Ia bekerja sebagai juru tulis ulang surat kabar The Times di Departemen Catatan, di bawah Kementerian Kebenaran. Pekerjaannya, jika kata manipulasi terlalu kasar terdengar, adalah merekonstruksi kalimat-kalimat di surat kabar demi nama baik Oceania – demi nama baik Bung Besar. Atau dalam kata lain, tugasnya adalah melanggengkan kepentingan propaganda pemerintah.

Selama tiga puluh sembilan tahun itu, Winston adalah warga negara cum anggota partai yang taat. Meski di sebuah ruang dalam dirinya bersemayam perlawanan serta antipati terhadap kediktatoran itu. Winston merindukan masa-masa sebelum revolusi digulirkan, sebelum partai menguasai seluruh kehidupan, sebelum perang yang kini tak berkesudahan, suatu hari tanpa dentuman meriam yang bahkan samar teringat olehnya.

Karena tak ada literatur tentang hari yang telah pergi, sejarah dikuasai mutlak oleh partai. Segala mekanisme pengubahan atau pelenyapan dokumen, foto, transkrip, atau catatan lain yang tak sesuai dengan partai dan dianggap memalukan harus dilenyapkan melalui Memory Hole. Karena, ya, yang menguasai masa lalu menguasai masa kini. Yang menguasai kini menguasai masa depan.

Dalam Nineteen-Eighty Four, Orwell menarasikan ketakutan-ketakutan sebagai alat pengontrol masyarakat. Teleskrin yang sepanjang hari akan menyadapmu berada dimana-mana, bahkan di tempat paling privat yang seseorang punya: ruang tidur. Atau agen polisi pikiran, atau anak-anak yang dengan kepolosan mereka melaporkan tingkah mencurigakan orang tuanya setelah mereka diindoktrinasi untuk bersikap patriotik sejak dini. Lalu setelahnya, digantung di alun-alun kota dan diteriaki sebagai pengkhianat partai. Atau, dihilangkan dari catatan hidup apapun. Dan orang-orang tak akan menyadarinya. Semuanya itu diciptakan partai untuk menjaga rakyat Oceania dalam pengawasan konstan, sehingga menghilangkan kemungkinan pemberontakan.

Fenomena yang dinarasikan Orwell di 1984 adalah hal yang kentara terjadi di Indonesia dalam kurun waktu itu. Pemberangusan buku, rekonstruksi sejarah, penghilangan paksa orang-orang yang dianggap bertentangan dengan partai, atau dalam konteks Indonesia bertentangan dengan Rezim Orde Baru. Ketakukan-ketakutan diciptakan untuk mengontrol masyarakat sebuah negara. Meski pada bagian lainnya tak ada teleskrin, polisi pikiran, atau departemen-departemen yang mencampuri urusan individu masyarakat di dalamnya. Atau, itu mungkin saja terjadi ketika anggaran negara dialokasikan menciptakan itu semua? Entah.

Dalam keseluruhan cerita, Orwel seperti memadukan dua hal aneh yang bertentangan. Pengetahuan dengan kebodohan, sinisme dengan fanatisme. Bahkan nama keempat kementerian pun seolah lekat dengan kontradiksi, seperti Ministries of Peace (Kementerian Perdamaian) yang tugasnya berperang, Ministries of Truth (Kementerian Kebenaran) adalah manipulator fakta, Ministries of Love (Kementerian Cinta Kasih) sebagai kamp penyiksaan bagi mereka yang bertentangan, Ministries of Plenty (Kementerian Tumpah Ruah) menyelenggarakan paceklik dan kelaparan.

Kontradiksi-kontradiksi dalam buku ini disebut Orwell sebagai penerapan double-think – pola pikir-ganda, daya untuk pada saat yang sama memuat dua keyakinan yang bertentangan dan menerima kebenaran keduanya. Ini tak terlepas dari prinsip partai itu sendiri, karena dengan kontradiksilah, kekuasaan dapat dipertahankan hingga tak terbatas.

Dengan kompleksitas cerita yang dinarasikan Orwell ini, tak berlebihan jika Nineteen-Eighty Four dinobatkan sebagai novel distopia terbaik. Buku ini adalah prediksi atas masyarakat yang didominasi oleh pemerintah pusat. Meski 1984 sudah terlewat, tapi rasanya, propaganda, invasi privasi, dan pembatasan sumber informasi, atau hal lain yang ada dalam novel ini dan bertalian dengan keadaan Indonesia membikin 1984 masih berhak mendapat tempat di rak buku.

Sementara, di tahun 632 A.F – After Ford atau tahun 2540 dalam kalender Gregorian, dunia kita dan peradaban manusia telah berubah dari apa yang sekarang nampak oleh mata. Kemenangan sains dalam memengaruhi kehidupan, terutama dalam aspek biologi, psikologi, dan fisiologi menciptakan peradaban yang tak lagi mengenal derita. Bayi-bayi diciptakan melalui sebuah metode rekayasa genetika yang dinamakan Bokanovsky Process. Tak ada Ibu viviparous (melahirkan), bayi-bayi dituangkan dari sebuah botol untuk selanjutnya dikondisikan sesuai dengan kasta sosialnya.

Sekitar enam abad setelah masa kini, dunia manusia stabil. Segala sesuatunya telah dikondisikan. Seperti yang diulang-ulang dalam pelajaran hypnopedic atau intersepsi alam bawah sadar, setiap orang bahagia sekarang. Tepatnya, setiap manusia dikondisikan sedari mereka bayi untuk disingkirkan dari apa yang menjadi sebab ketidakbahagiaan: hasrat.

Pemerintah negara dunia mungkin memercayai apa yang dikatakan Nietzsche, dan Sang Kontrolir Dunia menyepakati bahwa il faut tuer les pasions, nafsu-nafsu harus dimatikan. Sebagai contoh, seorang kelas pekerja tak akan punya keinginan sekecil apapun untuk membuka buku. Karena sedari bayi ia dikondisikan untuk tak menginginkannya.

Tak ada lagi kediktatoran, segala sesuatu yang terjadi di 1984 sudah menguap dan termaafkan. Setiap orang bahagia sekarang. Tak ada ikatan keluarga. Tak ada pacar. Tak ada satu orang pun yang terikat pada orang lain, setiap orang adalah milik orang lain. Tak ada individu, semua manusia adalah bagian dari sistem. Yang membedakan adalah kelas sosial. Setidaknya, itulah yang terjadi.

Tuhan sudah sejak lama disimpan di lemari besi Mustapha Mond, karena kitab tak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Sementara seni, sastra, dan kebebasan dikorbankan demi kebahagiaan masyarakat. Sistem kasta genetik, pengondisian perilaku, dan meminimalisasi kebebasan individu adalah harga yang pantas dibayar untuk mencapai stabilitas sosial.

Namun, kompleksitas cerita yang dinarasikan Aldous Huxley itu tak dibarengi dengan terjemahan yang mudah dimengerti. Di sini kelihatan bagaimana Bentang, sang pemilik hak terjemahan, berusaha membuat struktur kalimat yang sama rumitnya seperti alur cerita. Mereka menyiratkan pesan bahwa meruntuhkan pemerintahan tak semudah layaknya memahami sebuah bacaan.

Terlepas dari peralihan bahasa itu, Ludwig von Mises, lewat Bureaucracy pada tahun 1944 menggambarkan Brave New World sebagai sindiran atas prediksi sosialisme utopis: “Aldous Huxley was even courageous enough to make socialism’s dreamed paradise the target of his sardonic irony,” atau jika disalin ke dalam bahasa Indonesia berbunyi: “Aldous Huxley bahkan cukup berani untuk menjadikan surga impian sosialisme sebagai sasaran ironi sinisnya.”

Sebagai epilog, perbandingan yang dibuat Neil Postman dalam pengantar buku Amusing Ourself to Death terhadap kedua buku ini nampaknya cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di 1984 dan di Dunia Baru Yang Berani itu.

Ia menulis, “yang ditakuti Orwell adalah mereka yang akan melarang buku. Apa yang ditakutkan Huxley adalah bahwa tidak akan ada alasan untuk melarang buku karena tidak akan ada orang yang membacanya… Orwel takut bahwa kebenaran akan disembunyikan dari kita. Huxley takut kebenaran akan tenggelam dalam lautan yang tidak relevan. Singkatnya, Orwell takut bahwa ketakutan akan menghancurkan kita. Sementara Huxley takut bahwa keinginan akan menghancurkan kita.”

 

ANGGA PERMANA SAPUTRA

No Responses

Tinggalkan Balasan