Refleksi Kejayaan Islam di Masa Lalu

Judul Buku : 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Jenis Buku : Perjalanan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 420 halaman

“Paris n’est pas qu’une question de Tour Eiffel et de Louvre. Cela va bien au dela de ces “pettis batiments”. J’ai trouve ma foi ici. Paris tak hanya tentang Eiffel atau Louvre. Lebih dari dua bangunan “kecil” itu. Aku menemukan imanku di sini.” (halaman 122)

Begitulah kira-kira kutipan yang tertulis di buku 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra.

Seperti yang dikutip pada buku ini, Eropa bukan hanya sekadar menara Eiffel, fashion, Colosseum, atau tembok Berlin. Namun di sini kita bisa tahu bagaimana sejarah peradaban agama Islam yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hal tersebut diceritakan secara detail oleh sang penulis.

Buku yang terinspirasi dari pengalaman pribadi penulis, mengisahkan tentang perjalanan spiritual Hanum bersama teman perjalanannya, Rangga yang sekaligus suaminya ketika berada di Eropa. Perjalanan dimulai dari ibukota Austria, yaitu Wina. Saat itu Rangga yang mendapat beasiswa Doktor di Wina dan memutuskan untuk memboyong Hanum untuk tinggal di sana.

Berawal saat Hanum mengisi kekosongan menunggu panggilan kerja di kampus Rangga, ia bertekad untuk menghabiskan waktunya dengan mengelilingi kota Wina. Saat itu, Tuhan mempertemukan Hanum dengan sahabat sekaligus teman perjalanan di kota Wina, yaitu Fatma Pasha, wanita muslim keturunan Turki yang sangat menjunjung tinggi nilai keislaman. Fatma sangat mencerminkan bagaimana seharusnya seorang muslim bertingkah laku.

“Fatma membukakan mata bahwa lima pilar inti ajaran agama Islam juga harus tersuguh dengan akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dimaknai sebagai tata cara beribadah. Fatma menghadapi tantangan lebih berat di tengah penduduk non muslim, yaitu di Eropa yang umatnya semakin bangga melepas semua atribut agama, mengabaikan keniscayaan terhadap Tuhan alias atheis. Sama sekali bukan perkara mudah. Akan tetapi, dia percaya keteladanan berbicara lebih keras dari kata-kata.” (halaman 36)

Fatma menceritakan bagaimana sulitnya menjadi kalangan minoritas sebagai seorang muslim di Wina. Ia berkali-kali ditolak bekerja di berbagai perusahaan karena ia berhijab. Selain itu, menemukan tempat ibadah di ruang publik menjadi hal yang sangat sulit. Namun hal tersebut tak lantas mebuat Fatma kehabisan akal dalam menjalani hari-harinya di sana. Seperti yang ia lakukan saat di tempat les bahasa Jerman, ketika waktu salat dzuhur Fatma mengajak Hanum untuk salat di ruang penitipan bayi. Tempat tersebut cukup khidmat untuk dijadikan tempat ibadah.

Fatma memang seorang muslim yang handal, bahkan salah satu dari ketiga kawannya ada yang menjadi mualaf karena jatuh cinta pada Islam melalui tingkah laku Fatma. Ia adalah Latif, satu di antara dua kawannya yaitu Ezra dan Oznur yang telah lebih dulu beragama Islam.

Tidak hanya Wina yang menjadi tujuan perjalanan Hanum, setelah Fatma dikisahkan tidak ada kabar, teman perjalanan Hanum selanjutnya di Paris adalah Marion Latimer. Ia seorang wanita muslim asli Eropa yang tentunya berhijab juga. Marion dan Hanum mengawali petualangan di Paris dengan mengunjungi Museum Louvre. Museum ini merupakan museum terlengkap di dunia yang mengoleksi lukisan-lukisan karya maestro dunia, contohnya lukisan Monalisa karya Leonardo Da Vinci.

Di sana digambarkan bagamaina peradaban Islam 700 tahun yang lalu, saat benua Eropa berada dalam masa kegelapan lebih dari 10 abad, saat itulah Islam menjadi peradaban yang paling terang benderang di bumi ini. Hegemoni Islam di Eropa sangat berpengaruh, terlihat dari beberapa penemuan yang ditemukan orang muslim. Contohnya seperti lensa, peta antariksa lengkap dengan gugusan bintang dan planet di luar angkasa, serta kain tenun indah yang dilengkapi kaligrafi.

Oleh sebab itu, banyak seniman non muslim yang meniru kaligrafi untuk dijadikan dasar lukisan atau ukiran karya seni mereka. Tulisan tersebut dinamai Pseudo Kufic atau coretan-coretan imitasi Arab.

Hal yang membuat terkejut tentu saja ketika membaca halaman 164, pada halaman itu diceritakan salah satu karya Pseudo Kufic pada tulisan yang tertera di pola hijab yang dipakai Bunda Maria. Ternyata, tulisan itu bertuliskan lafadz tauhid La ilahailallah. Mana mungkin seorang seniman membuat suatu karya namun tak ada pesan yang ingin disampaikan. Menurut penulis yang saat itu berdiskusi dengan Marion menyebutkan bahwa hal tersebut masih menjadi topik kontroversial karena tentunya tidak ada yang tahu apa motif di balik semua ini. Namun satu hal yang pasti adalah seniman tersebut tidak mengerti apa pesan yang ia tuilis saat ia membuat karya.

Perjalanan berlanjut menuju jantung kota Paris, rasanya belum lengkap bila datang ke Eropa tanpa berkunjung ke Paris. Begitu kira-kira yang sering ditulis pada beberapa buku traveling. Buku ini berbeda jauh dari buku traveling pada umumnya karena buku ini menyuguhkan kisah perjalanan yang tidak biasa. Perjalanan yang penuh akan tanda tanya mengenai kekuasaan Tuhan dan kekuatan suatu agama yang diceritakan adalah Islam.

Mungkin terlihat kontradiktif dengan kenyataan yang mencuat ke permukaan publik, bahwasannya peradaban yang paling maju adalah peradaban Prancis, pasca Revolusi Prancis dan tentu saja Renaissance di Eropa bermula di kota Paris yang disebut The City of Lights. Padahal The City of Lights yang sesungguhnya bermula di Cordoba berawal dari sebuah masjid yang bernama Mezquita, di sanalah peradaban dimulai. Orang-orang datang ke sana untuk berbagi ilmu dan pengalaman intelektual mereka. Di sana tak hanya ada Mezquita, namun dibangun pula masjid-masjid yang berdampingan dengan perpustakaan, universitas, dan rumah sakit serta taman-taman.

Cordoba merupakan tempat di mana semua agama bisa hidup saling berdampingan di bawah naungan Islam. Hal tersebut tentu saja membuat Hanum terkagum-kagum pada Cordoba, dan alhasil pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat hari ulang tahun Hanum, ayahnya Amien Rais menelepon dan bertanya, “Hikmah apa yang kau ambil dari kehidupanmu? Hanum hanya menjawab sekenanya, ia menjawab kehidupan itu layaknya traveling. Setelah bercengkerama santai, Amien Rais menyarankan agar Hanum mewakilinya untuk berkunjung ke Cordoba dan Granada.

Tanpa berpikir panjang, Hanum dan Rangga memutuskan untuk pergi mengunjungi Cordoba dan Granada dengan mempersiapkan semuanya hanya dalam waktu tiga bulan. Sesampainya Hanum dan Rangga di Cordoba, mereka menginap di sebuah penginapan yang cukup strategis. Tepat berada di dekat Mezquita, tempat yang diceritakan Marion saat di Paris.

Ada hal yang menyita perhatian Hanum sesampainya di penginapan. Hal tersebut adalah patung yang tersimpan di lobi penginapan, ternyata patung itu adalah patung Maimonides. Maimonides adalah seorang filsuf Yahudi yang disegani dan dihormati karena keilmuannya di tengah-tengah masyarakat muslim mayoritas saat itu. Hal tersebut mengingatkan bahwa Cordoba masa lalu memang tempat di mana semua agama hidup harmonis.

Akan tetapi, Cordoba yang sedang dikunjungi oleh Hanum dan Rangga merupakan sisa-sisa sejarah The City of Light. Mezquita yang digambarkan mirip dengan masjid Nabawi, namun dengan ukiran ala Eropa telah menjadi gereja yang memiliki lonceng dan berhiaskan salib. Padahal Hanum sangat ingin menunaikan salat dua rakaat di sana. Di masjid yang dulunya adalah grand mosque yang akhirnya berubah menjadi grand cathedral. Hal ini merupakan sebuah refleksi kejayaan sekaligus runtuhnya peradaban Islam.

Kota keempat yang mereka kunjungi adalah Istanbul, Turki. Pada masa kejayaan Islam, luas wilayah Islam lebih luas dari kerajaan Romawi. Di sana terdapat Hagia Sophia yang dahulu sempat menjadi gereja, lalu menjadi masjid. Namun sekarang telah menjadi museum.

Membaca buku ini seperti menjelajahi Eropa secara nyata. Kalimat yang disuguhkan membuat siapa saja mampu berfantasi secara detail akan keindahan benua Eropa dan kejayaan peradaban Islam pada masa silam. Buku yang dilengkapi dengan peta sederhana ini mampu menggambarkan dengan jelas letak geografis setiap kota yang diceritakan. Sayangnya, pemenggalan setiap bagian cerita dirasa kurang tepat dan terkesan menggantung. Buku ini merupakan refleksi agar Islam yang saat ini menjadi mayoritas tidak hancur seperti peradaban Islam di Eropa yang saat ini menjadi minoritas.

MUTIA NURFTIRIANA

No Responses

Tinggalkan Balasan