Perpustakaan Belakang Sekolah, Ubah Budaya Nongkrong dengan Diskusi

Perpustakaan Belakang Sekolah ketika menggelar lapakan bukunya di belakang SMAN 1 Bandung, tepatnya di Jalan Ciungwanara Nomor 10. (Dokumentasi Perpustakaan Belakang Sekolah)

Bandung, Jumpaonline – Gara-gara buku, warung bisa beralih fungsi. Setidaknya, itulah yang dilakukan komunitas pegiat Perpustakaan Belakang Sekolah. Komunitas yang lahir pada 15 Juni 2017 ini menggelar lapak baca di depan warung belakang SMAN 1 Bandung (Smansa) berdasarkan inisiatif Dwiki Ahmad, salah satu alumnus Smansa.

Bertepat di jalan Ciungwanara Nomor 10, komunitas ini  lahir berdasarkan keresahan mereka yang mengisi keseharian di tempat tongkrongannya.

Jelema (manusia) tongkrongan pasti pertamanya ngomongin cinta, terus masalah sekolah, makin malem bahas politik. Tapi gak ada referensi,” ujar Raflie Afrian saat diwawancarai oleh Jumpaonline, Rabu, 19 Februari 2020.

Raflie sendiri merupakan salah satu anggota komunitas Perpustakaan Belakang Sekolah, sebagai Maestro of Art and Music. Sebenarnya, tak ada struktur hierarkis dalam komunitas ini, maestro diartikan sebagai konseptor sebuah ide dalam penggarapan diskusi. Adapun maestro lain di dalam komunitas ini, seperti Maestro of Social Walfare, Maestro Politic and Education, dan Maestro Propaganda.

Rada ngeri, nya, ngarana. Méh gagah wéh (Agak segan, ya, penamaannya. Biar gagah saja),” kata Raflie sambil tertawa.

Perpustakaan Belakang Sekolah memanfaatkan budaya nongkrong pelajar untuk menumbuhkan semangat membaca. Mereka, membawa isi buku demi diskusi dapat digelar. Terakhir, Jumat, 7 Februari 2020 mereka menghelat diskusi dengan tajuk ‘Perubahan Iklim, Regulasi, dan Energi Terbarukan’ di salah satu kafe di Jalan Ir. H. Juanda, Bandung.

Setiap diskusi lahir berdasarkan keadaan sekitarnya. Pembahasan pun tentu saja mengambil perspektif mereka yang lahir dari inisiatif pelajar. Para alumnus Smansa juga tetap ikut andil untuk merumuskan pokok pembahasan diskusi tersebut.

“Kalau kita gelar diskusi, ya dari perspektif pelajar, yang akrab dengan mereka,” kata Raflie sambil sesekali mengisap rokok di sela jarinya.

Selain lapak baca dan diskusi, kegiatan lain yang digagas Perpustakaan Belakang Sekolah adalah Jam Kosong. Kegiatan tersebut merupakan upaya dalam memberi pemahaman pelajar ihwal perkuliahan. Intinya, kegiatan tersebut berpatokan pada apa yang pelajar minati setelah mereka lulus sekolah nanti. Para alumnuslah yang menjadi pemantiknya.

“Simulasi kuliah, lah, wadah untuk minatnya mereka kemana,” jelas Raflie.

Raflie berharap, Perpustakaan Belakang Sekolah ini mampu menjadi pemantik rasa ingin tahu mereka, menyebarkan gagasan, dan menjadi stimulus aktivisme pelajar di Indonesia untuk terus bergerak melalui cara yang sederhana.

“Aku mewakili Perpus Belakang Sekolah, berharap komunitas seperti ini menyebar di kalangan pelajar,” pungkasnya menutup obrolan.

 

ANGGA PERMANA SAPUTRA

 

No Responses

Tinggalkan Balasan