Perjalanan Panjang ke Pantai Sawarna, Lelah yang Terbayar

 

Anggota PIGMAD berfoto bersama di depan Pantai Sawarna, Bayah, Banten. Dok. PIGMAD

Anggota PIGMAD berfoto bersama di depan Pantai Sawarna, Bayah, Banten. Dok. PIGMAD

Di sana aku bahagia saksikan ombak yang berkilau bagai cahya permata
Dan betapa takkan kulupa tubuhku terbuai diterpa angin di pantai yang indah
Ku akan ada selalu, oh pantai kaulah cintaku
Ku akan datang padamu, oh pantai kaulah tempatku,” (PAS Band – Yob Eagger 2)

Waktu menunjukkan pukul dua siang. Matahari tepat berada di atas kepala, panas memang. Senin itu, 2 September 2013, kami sepuluh orang rombongan yang mengatasnamakan PIGMAD (People Incorporated Group of Motor Adventure) berkumpul di daerah Cipageran, Cimahi untuk memulai touring perjalanan menuju pantai yang berada di wilayah selatan Jawa Barat.

Rencana awal, kami akan menuju Pantai Pameungpeuk, Garut. Dari Kota Bandung, pantai itu berada di arah tenggara, tepat di pesisir selatan Jawa Barat atau berada di perairan yang bersentuhan langsung dengan Samudera Hindia. Rute yang akan kami lewati via Pangalengan, Kab. Bandung, dan terus menuju selatan hingga sampai ke pantai.

Namun secara mendadak dan tak terduga, kami menemui kendala non teknis yang menghambat keberangkatan kami menuju kesana. Hal itu membuat kami urung melanjutkan perjalanan. Tapi tak ingin persiapan yang sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari menjadi sia-sia, kami bertekad untuk memilih tempat lain yang akan dituju. Ibarat pepatah, “Tak ada akar, rotan pun jadi.”

Bermodal bantuan dari Gusti Allah dan tambahan informasi yang kami cari dari Google, kami mendapatkan lokasi baru yang akan kami tuju, yaitu Pantai Sawarna, Kampung Cibeas, Desa Sawarna, Kec. Bayah, Lebak, Banten. Tempat yang berjarak sekitar 180km dari Kota Bandung.

Tak pikir panjang, kami pun sepakat untuk memulai perjalanan. Sebelum itu, kami semua khidmat berdoa dipimpin oleh Bung Arif, sebagai Koordinator Touring supaya mendapat kelancaran selama menempuh perjalanan ini. Doa pun selesai, motor sudah dipanaskan, dan kami pun memulai perjalanan.

Perjalanan diawali dengan melewati jalanan Cimahi – Padalarang – Kab. Bandung Barat – Cianjur kemudian Sukabumi. Sekitar pukul empat sore, kami rehat sejenak di pom bensin yang berada di Kota Sukabumi. Waktu istirahat itu kami gunakan untuk menunaikan kewajiban sembahyang Ashar, menikmati kopi, dan mengisi bensin.

Setengah jam berlalu, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini perjalanan melewati jalan yang semakin jauh dari hingar bingar keramaian kota. Di kanan-kiri jalan hanya ada pepohonan yang rindang berjajar sejauh mata memandang. Angin bertiup silir diikuti suara jangkrik yang saling bersahutan.

Adzan maghrib berkumandang, lampu-lampu marka jalan mulai menyala, dan langit mulai gelap. Kami menghentikan perjalanan di pom bensin lagi di sekitar Palabuhan Ratu. Usai salat maghrib, ngopi, dan sedikit bercengkrama untuk menghilangkan kepenatan selama perjalanan, kami pun ngegas kembali.

Melewati Palabuhan Ratu, suara desir ombak sudah mulai terdengar dari kejauhan. Hanya saja tak terlihat karena hari sudah gelap. Sepanjang pantai selatan itu, terlihat samar-samar lampu dari perahu nelayan yang mulai mengitari lautan untuk mencari ikan. Bagi orang-orang yang doyan makan ikan laut, mereka patut berterimakasih kepada nelayan.

Dari Palabuhan Ratu, kami terus menyisir pantai selatan hingga melewati batas Provinsi Jawa Barat menuju Provinsi Banten. Tak ada lagi kendaraan yang lalu-lalang seperti di jalanan kota karena memang jalan yang kami lalui kali ini jauh dari pemukiman penduduk.

Jalanan yang berliku membuat kami lebih waspada dan hati-hati. Jalan berlubang, turunan dan tanjakan curam, serta belokan yang tajam kerap ditemui di beberapa titik jalan. Rasanya ingin cepat sampai karena hari sudah malam dan tubuh yang sudah lelah karena sudah beberapa jam mengemudi sepeda motor.

Sampai suatu ketika, kami menemui persimpangan jalan dan berhenti sejenak untuk bertanya kepada penduduk setempat, kemana arah menuju Pantai Sawarna. Syahdan, ternyata pantai yang kami tuju tak jauh lagi dari sana. “Lumayan dekat,” kata perempuan yang kami tanya.

Mendengar perjalanan yang hampir sampai, kali ini kami mengendarai sepeda motor cukup santai dan tak terlalu tergesa-gesa. Di kanan-kiri jalan, tumbuh pohon-pohon kelapa seakan-akan menjadi petunjuk bahwa pantai sudah dekat.

Betul saja, tak beberapa lama kemudian, kami melihat papan petunjuk ‘Selamat Datang di Tempat Wisata Pantai Sawarna’. Beberapa wajah kawan-kawan mulai girang dan yang lainnya saling bersahutan, “Akhirnya sampai juga.” Waktu menunjukan kira-kira pukul delapan malam.

Sampai di pintu masuk, kami disambut oleh dua orang penjaga tiket masuk, dan seorang pengelola warung dan penginapan. Biaya retribusi untuk masuk ke pantai itu terhitung murah, yaitu lima ribu rupiah. Masing-masing dari kami pun mulai membeli tiket dan seorang pengelola penginapan mengantar kami menuju tepi pantai.

Namun, ada satu hal yang mengagetkan ketika kami menuju pantai dari pintu masuk itu. Ternyata kami mesti melewati jembatan kayu selebar satu meter yang tergantung sepanjang kira-kira 30 meter menyebrangi sungai. Untuk menjaga keseimbangan motor saat melintasi jembatan, satu per satu kawan yang dibonceng turun dan berjalan kaki.

Motor kami pun bergantian melintasi jembatan itu secara perlahan-lahan. Jembatan yang mulai bergoyang karena gerakan motor dan tiupan angin, membuat suasana agak menyeramkan. Sampai akhirnya kami semua lolos dari jembatan itu. “Haha, akhirnya bisa juga melewati jembatan ini,” pikirku.

Tiba di tepi pantai, suara ombak terdengar jelas. Sayang kami tak bisa melihatnya karena minimnya penerangan yang terdapat di pantai itu.

Malam pertama kami berada di Pantai Sawarna, dilalui dengan makan malam seadanya. Hanya dengan nasi ditambah mie instan yang terasa pedas karena dicampur irisan cabai yang kami beli di warung. Namun makan malam itu terasa sangat nikmat, selain karena kondisi perut yang sudah lapar sedari sore, kami makan bersama dalam satu nampan besar. Tepat sekali ungkapan yang berbunyi, “Kebersamaan adalah berkah.” Kami merasakan dan membuktikannya.

Tidak di hotel, motel, atau villa kami bermalam. Kami hanya menyewa satu ruangan berdinding bilik bambu berukuran sekitar 1,5×3 meter yang berada di belakang warung. Kami menyewanya untuk dua malam ke depan.

Meski begitu, ruangan kecil itu sangat fungsional, selain untuk menyimpan barang-barang yang kami bawa, ruangan itu pun menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat dan tidur. Memang tidak semua dari kami muat di ruangan itu, sebagian lagi terpaksa harus tidur di tempat duduk lesehan yang berada di pinggir warung. Aku pun tidur di situ ditemani alunan lagu yang diputar di playlist laptop yang kubawa.

Malam pun berlalu. Pagi-pagi benar kami sudah bangun. Suara gemuruh ombak di pantai pun sedikit demi sedikit mulai terlihat diterangi sinar mentari yang mulai terbit di ufuk timur. Sungguh pemandangan indah yang sulit kami temui karena notabene kami melalui hari-hari di jalanan ibukota yang jika pagi-pagi sudah disuguhi bisingnya suara kendaraan dan macetnya jalanan.

Sambil menunggu sarapan yang dihidangkan dengan menu yang sama dengan semalam, kami duduk-duduk santai di tepi pantai ditemani alunan musik reggae. Beberapa menit kemudian, sarapan pun jadi dan kami mulai menyantapnya.

Hari itu kami habiskan dengan bermain bola di tepi pantai, melihat-lihat pemandangan sekitar pantai, dan mendaki bukit untuk melihat hamparan lautan yang begitu luasnya. Pantai Sawarna memang cenderung sepi pengunjung jika dibandingkan tempat wisata pantai lain yang ada di Indonesia, misalnya saja Pantai Pangandaran atau Pantai Sanur di Bali.

Namun Pantai Sawarna memiliki kemolekan tersendiri dibanding pantai-pantai yang lain. Terumbu karang dapat dengan mudah kita temukan di pesisir pantai. Ombak yang bergulung tinggi menarik wisatawan asing untuk berselancar. Pasir putihnya pun masih bersih dan tidak ada sampah berserakan.

Sampai sore menjelang, waktu terasa cepat berlalu. Kami kembali ke penginapan untuk menikmati indahnya senja dan melihat terbenamnya sang surya di ufuk barat. Tak ingin kehilangan momen berharga itu,  kami abadikan potret itu dengan kamera yang kubawa.

Ah, ingin rasanya lebih lama lagi berada di tempat seperti ini. Tapi apa daya, esok hari kami sudah harus pulang ke Bandung dan kembali kepada kesibukkan masing-masing. Betapapun singkatnya waktu yang kami lalui di Pantai Sawarna ini, tapi sungguh berkesan setiap kegiatan yang kami lakukan.

Malam pun tiba, dan ini malam terkahir kami berada di pantai ini. Ingin suasana malam itu lebih berkecan, kami pun memesan beberapa kilogram ikan laut untuk santap malam. Ikan itu kami bakar, dan asap dari pembakaran itu seakan-akan menghipnotis hidung kami, lezatnya.

Selesai semua dihidangkan, kami makan bersama beralaskan daun pisang yang kami petik di pohon yang tumbuh di pinggir sawah. Semuanya terasa nikmat, dari mulai suasananya, kemudian nasi, ikan, dan sambal yang kami santap.Maknyus

Saking letihnya seharian kami mengabiskan waktu bereksplorasi di pantai, satu per satu dari kami pun mulai terlelap usai makan malam itu. Sampai paginya kami dibangunkan oleh gemuruh ombak yang saling menghantam.

Pagi itu kami persiapan untuk kembali ke Bandung. Semua barang-barang sudah kembali ke asalnya. Kami pun sarapan terlebih dahulu sebelum meninggalkan Pantai Sawarna dengan menu yang sama persis dengan makan malam pertama kami berada di sana.

Setelah melunasi semua tagihan ke warung untuk bayaran sewa penginapan, santap makan, kopi, dan rokok, kami pun berpamitan. Sebelum berangkat, tak lupa ritual berdoa tak kami tinggalkan untuk mendapat kelancaran selama perjalanan pulang. Doa kali ini dipimpin oleh Bung Tamhid. Usai berdoa, kami berfoto bersama di tepi pantai dan itu menjadi foto terakhir kami di sana.

Selamat tinggal Pantai Sawarna. Gemuruh ombakmu tak akan kami lupakan, keindahan alammu tak akan kami abaikan, dan hamparan lautmu akan kami jadikan pelajaran akan kebesaran Tuhan.

“Kebudayaan yang benar dilahirkan di alam, sederhana, rendah hati, dan murni. Wajah alam merupakan sesuatu yang tidak dapat dikenal.” ― Masanobu Fukuoka 

AGUNG GUNAWAN SUTRISNA 

No Responses

Tinggalkan Balasan