Pengalaman Sentuhan Ilahi

 

(www.farouqihasbi.com)

(www.farouqihasbi.com)

Hari itu, Jumat, 7 Juni 2013, saya tiba sekitar pukul 10.50 WIB di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Bandung, Jawa Barat. Saya memilih merentangkan badan di pelataran masjid dengan tas sebagai bantalan kepala. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB, saya lekas menuju ke tempat wudhu melalui ruang utama masjid. Selesai wudhu, saya mencari barisan paling depan yang kosong untuk menjaga kekhusuan dan leluasa menyimpan tas di depan tempat sujud. Khatib Jumat kali itu menyampaikan ceramah, di antaranya mengutip dari karya Mochtar Lubis.

Maaf pembaca yang budiman, saya kurang ingat dengan lengkap isi ceramah khatib kali itu, tapi yang jelas saya akan menceritakan kebahagiaan luar biasa dan keharuan yang mendalam berlangsung dalam tegaknya salat. Selesai iqamah berkumandang permohonan mendapatkan getaran hati ketika mendengar lantunan ayat suci Al-Quran, saya panjatkan kepada Tuhan semesta alam. Setelah lantunan merdu Surah Al-Fatihah pada rakaat pertama, dilanjutkan surat Ar-Rahman, walaupun tidak dari ayat pertama.

Lantunan ayat suci Al-Quran terus berkumandang, ternyata pemohonan saya terkabul bukan hanya getaran relung hati terdalam. Namun getaran itu mengalir di sekujur tubuh diikuti dengan tetesan air mata kebahagiaan dan keharuan membasahi pipi ketika terdengar ayat fabiayyi ‘aalaairobbikumaa tukaddzibaan, kandungan makna yang dalam, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Tangan mencoba mengusap basahnya pipi, sekilas terdengar juga isak tangis terharu dari beberapa jamaah.

Isak tangis kebahagiaan dan keharuan saya masih berlanjut hingga rakaat pertama selesai. Sendu  keharuan sekilas masih terdengar dari beberapa jamaah, rakaat kedua berlanjut imam kembali membacakan surah Al-Fatihah. Tak lama kemudian saya terkesima ketika imam kembali melanjutkan lantunan surah Ar-Rahman, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Saya mencoba menahan air mata, namun makna yang terus terbayang berulang kali di pikiran kembali mendorong tetesan air mata, saya tak kuasa menahan air mata kali itu.

Tampaknya saat itu sentuhan Tuhan sangat dahsyat di hati sehingga menjalar di sekujur tubuh ini. Tetesan air mata itu tidak berhenti hingga salat Jumat berakhir. Ucap syukur seusai salat saya panjatkan berulang kali. Tetesan air mata belum juga berhenti diiringi isak sendu hidung. Jaket hijau lusuh dijadikan alat mengusap muka, seiring doa yang sedang dipanjatkan kepada Tuhan, haru bahagia muncul dalam pikiran yang menyusup di hati dibarengi dengan dialog diri, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Saya mencoba melirik kanan-kiri, ternyata tampaknya benar isak tangis keharuan dan kebahagiaan tampak di beberapa jamaah.

Usai berdoa saya melanjutkan dengan salat sunat dua rakaat, namun dalam salat ingatan “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” terus tengiang di pikiran. Air mata kembali menetes, saya tidak kuasa membendungnya. Usai salat sunat berakhir, saya menuju tempat wudhu untuk menghilangkan bekas tetesan air mata, saya pun lekas menuju tempat parkir namun antrean motor menuju pintu parkir masih padat. Sambil menunggu antrean lengang, saya memilih duduk di pelataran masjid. Renungan mendalam mengingat makna ayat tersebut jadi satu anugerah melihat indahnya kehidupan dan kenikmatan yang tak terhingga yang diberikan Tuhan.

Mengingat masa lampau, memang sebelumnya pernah mendengar lantunan surah Ar-Rahman  saat salat Jumat di masjid dekat rumah. Namun kebahagiaan dan keharuan saat itu kurang terasa menyentuh hati. Oke, pembaca yang budiman, kita kembali ke topik awal. Seiring berkurangnya  kepadatan antrean motor, saya beranjak dari tempat duduk untuk menuju motor dan berangkat ke kampus Universitas Pasundan Bandung untuk memfotokopi materi ujian. Dalam perjalanan dialog diri muncul tentang kenikmatan Tuhan yang tak terhingga ini, di antaranya dapat menghirup udara Bandung yang segar. Selain itu, nikmat yang tidak ada bandingannya yaitu nikmat iman Islam.

Dengan pengalaman dan fenomena, ini pergulatan batin yang sedang terjadi seakan sirna. Saya semakin malu, semakin tertunduk karena banyak mengeluh, banyak kekeliruan, padahal saat menulis ini sudah tidak terhitung nikmat Tuhan. Ibadah seumur hidup saya pun tidak akan mampu membayar nikmat Tuhan. Mudah-mudahan kita selalu istiqomah dalam menjalankan ibadah dan pandai bersyukur, semakin meningkat dalam menjaga kekhusuan salat kita, bermanfaat bagi sesama. Bagi saya, bagi umat Islam, dan bagi umat yang belum Islam mudah-mudahan diberi petunjuk agar menjadi Islam, amin. Mari kita sama-sama, tarik napas yang dalam, dan lepaskan lalu ucapkan “Alhamdulillah”, segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam, Dialah yang menciptakan langit dan bumi yang mempunyai kekuasaan langit dan bumi, yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. “Maka nikmat  Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Terima kasih.

Firman Hamdani

No Responses

Tinggalkan Balasan