Membela ‘Kejahatan’

Sumber: ebooks.gramedia.com

Judul               : Kejahatan dan Hukuman

Penulis             : Fyodor Dostoyevsky

Pengantar       : Jakob Sumardjo

Tebal                : 448 halaman

Penerbit           : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Tahun Terbit    : 2016

Alyona Ivanovna sekilas bagai penghidupan bagi kaum miskin kota. Ia mengobati ulu hati yang dikoyak rasa lapar, ia menunda pengusiran penghuni kos yang menunggak sewa kamar, ia membantu orang-orang yang ingin merayakan kekalahan hidup dengan mabuk-mabukan, asalkan mereka punya barang yang senilai sebagai jaminan.

Namun, pertolongan yang diberikannya adalah semu belaka. Sebab dari sanalah ia menjadi kaya, dari kelakuan melintah. Ia mengisap si miskin dan membuat penderitaannya semakin berkali-kali lipat, seperti bunga pinjaman yang harus dibayarnya.

Itu adalah perampokan, sebab siapa-siapa yang menyuruh seseorang bekerja, sementara dirinya mungkin hanya rebahan sambil nunggu keuntungan datang mengetuk-ngetuk pintu, pantas dilabeli seorang kriminal. Sebabnya suatu malam Raskolnikov membunuh perempuan itu.

Raskolnikov dikisahkan sebagai seorang mahasiswa miskin yang belum lama didrop out dari kampusnya di Saint Petersburg yang panas dan bau. Sang Ibu tak mampu lagi membiayai pendidikan anak sulungnya itu, dana pensiunnya cuma cukup meredakan penderitaan harian, sementara tetangga menolak dipinjami sebelum utang yang lampau dipenuhi.

Raskolnikov masih menetap di kota itu, di kosan yang berantakan itu demi sebuah pembuktian eksperimental untuk menguji suatu teori yang saban hari bermukim dalam kepalanya.

Ia berpikir bahwa alam telah membagi manusia ke dalam dua kelas. Pertama, the ordinary man, makhluk inferior, massa yang hidup dalam kepatuhan di bawah panji-panji bangsa dan memang suka dikendalikan. Kedua, the extraordinary man, sekelompok kecil manusia pendobrak. Mereka ditugaskan untuk meruntuhkan masa kini yang kolot demi hari yang lebih baik.

Kelas extraordinary, diisyaratkan punya hak spiritual untuk berlaku, dalam kesadaran penuhnya, melewati norma yang ada demi tercapainya esensi cita-cita mulia untuk kepentingan umum. Raskolnikov mengumpamakan, seandainya penemuan Issac Newton tidak bisa terwujud tanpa pengorbanan manusia, maka Newton punya hak, bahkan wajib menyingkirkan seseorang yang menghalangi terwujudnya penemuan bermanfaat bagi seluruh umat manusia itu.

Maka suatu malam, ia membunuh Alyona Ivanovna, sebab ia adalah simbolisasi ketidakadilan. Ia lupa mengunci pintu, lantas menghabisi adik perempuan itu juga. Di sinilah novel setebal 448 halaman ini memulai kisahnya.

Inti cerita yang disajikan Dostoyevsky adalah persoalan meletakan motif kejahatan. Melalui sang tokoh utama, ia mengatakan bahwa menyimpang dari norma bukanlah suatu kebejatan jika didasari cinta kasih kepada sesama.

Agar dapat benar-benar menghargai pandangan ini, tulis Emma Goldman, seseorang harus sungguh merasakan pelecehan sosial; seseorang harus lebih dulu merasakan sakit, kesedihan, dan keputusasaan yang dialami jutaan orang saban harinya demi bertahan hidup. Dan Raskolnikov sudah terlibat sejak lama dalam pertalian itu.

Ia didepak dari kampus sebab tak mampu lagi membayar. Adiknya bersedia dinikahi seseorang yang tak dicintainya, pengusaha kaya nan angkuh, demi memenuhi harapan ibunda agar Raskolnikov melanjutkan studinya. Kekasihnya, Sonya, bekerja sebagai pelayan berahi demi menghidupi ibu tiri yang penyakitan, ayah yang hobi mabuk-mabukan, dan adik-adiknya yang kelaparan. Sementara di sisi lain, Raskolnikov tahu, ada Alyona Ivanovna yang merampok orang miskin, yang kekayaannya adalah penghinaan bagi mereka.

Ivanovna akan dan tetap berlaku demikian, mengisap. Ia menjebak orang-orang agar tetap miskin, meminjaminya uang, menyuruh mereka bekerja mati-matian, sementara dirinya cuma menunggu seorang miskin mengetuk pintu buat mengembalikan uang berikut bunganya itu.

Para moralis, polisi-polisi, dan kawannya sendiri; Razumikhin, tak setuju dengan kelakuan melintah Ivanovna. Tapi mereka tak berbuat apa-apa, dan bahkan mungkin kita akan mengamini apa yang dilakukannya sebagai sesuatu yang sah, suatu hal yang didasari atas kesepakatan.

Namun amat disayangkan, kesepakatan tak lebih dari sekedar omong kosong ketika salah satu pihak berada dalam tekanan.

Pada titik ini, analogi Alexander Berkman menjadi relevan kembali; ketika seorang perampok menodongkan sebuah pistol ke pelipismu, kamu akan menyerahkan apa yang dia minta. Kamu “menyepakatinya”, karena tak mampu menolong dirimu sendiri.

Dan, bukankah jelas orang-orang miskin yang malang itu berada dalam tekanan ketika bersepakat dengan Ivanovna? Kebutuhan hidup yang mendesak mereka adalah wujud lain bagaimana pistol perampok bekerja. Mereka ingin hidup, maka mereka setuju melakukan apa saja.

“Di tengah kondisi yang serba menyedihkan, setiap kemungkinan akan keadaan yang lebih baik membuat penderitaan hari ini semakin tak tertahankan, dan mendorong mereka yang paling menderita untuk berjuang demi memperbaiki nasibnya,” begitu bunyi sebuah pamflet yang diterbitkan Freedom Group of London yang dikutip Emma Goldman dalam Psikologi Kekerasan Politik.

Keadaan tersebut adalah gambaran dari motif tindakan Raskolnikov. Ia tinggal dalam sebuah masyarakat di mana terdapat orang-orang yang harus selalu bekerja namun tak mendapatkan apapun, sementara di sisi yang lain ada sekelompok kecil orang yang tak pernah bekerja namun mendapatkan segala keuntungan.

Penghinaan itu mengakumulasi kemarahannya. Pembunuhan Ivanovna adalah wujud dari kepekaan Raskolnikov terhadap tatanan yang tak adil. Ia sadar akan penindasan yang dialaminya, yang juga dialami banyak orang, dan ia tahu harus berbuat apa; menyingkirkan subjek yang menindas tersebut.

Raskolnikov tak bisa dipandang sebagai seseorang yang tak berperasaan, yang secara psikologis terganggu. Apa yang dipahami oleh masyarakat hari ini tentang kemiskinan, keputusasaan, penghinaan sosial, akan berpuncak kepada upaya-upaya membebaskan diri, dengan metode dan bentuk perlawanan mereka sendiri.

Tapi, apakah lantas Dostoyevsky – dengan penciptaan karakter Raskolnikov – menganjurkan kekerasan? Jelas tidak. Ia cuma menampilkan bagaimana sastra bekerja; merekam ketidaksepakatan seorang manusia dengan dunia.

Pada 29 Juli 1900, Raja Umberto I ditembak di Monza, Italia. Pelakunya adalah Gaetano Bresci, seorang buruh tenun miskin. Dua tahun sebelumnya ia membaca kabar di tanah rantaunya di Amerika; para petani serta istri yang menggendong bayi-bayi mereka yang kelaparan ditembaki ketika melakukan aksi diam di depan istana, ketika mengharap pertolongan sang Raja.

Bresci bela-belaan pulang ke kampung halaman demi menunaikan pembunuhan il Buono, membalaskan darah ratusan petani yang tumpah. Ia dijatuhi hukuman kerja paksa seumur hidup, tapi darinya kita menyadari bahwa perlawanan selalu bergerak linier dengan ketidakadilan dan kengerian dalam masyarakat.

Serupa dengan Bresci, Raskolnikov bergerak sendiri. Namun, kedua tindakan tersebut bersifat sosial. Di satu sisi mereka melawan, secara literal maupun simbolik, suatu ketidakberesan yang langgeng di tengah masyarakat. Di sisi yang lain mereka memecah kebungkaman orang-orang akan hal tersebut. Keduanya berakhir dengan hukuman kerja paksa. Namun, takdir tak akan menghadiahi mereka penyesalan.

Novel Kejahatan dan Hukuman (judul asli: Prestupléniye i nakazániye) bukan lagi kisah yang dibaca orang lebih dari satu setengah abad yang lalu. Namun, Fyodor Dostoevsky meninggalkan apa yang relevan untuk pembaca hari ini: suatu rahasia yang tersingkap dengan sendirinya ketika kita membayangkan karakter Raskolnikov yang dingin.

Kita tak merasakan suatu kemarahan atas pembunuhan yang dilakukan Raskolnikov. Itu adalah simbolisasi kemuakan kita terhadap ketidakberesan sosial, sebab kita mengalami, atau setidaknya memahami, motif-motif yang mendasari tindakan tersebut. Memang, Raskolnikov (mungkin juga kita), barangkali bukanlah orang-orang terpilih, the extraordinary man itu. Namun, seperti Raskolnikov, kita juga bukanlah seseorang yang akan merasa senang untuk dikendalikan.

 

ANGGA PERMANA SAPUTRA

No Responses

Tinggalkan Balasan