Melek Walang

www.denverpost.com

www.denverpost.com

 

Manusia tercipta sebagai makhluk yang memiliki panca indera, perasaan, dan paling penting yaitu “akal” yang menjadi pembeda dengan hewan atau makhluk lainnya. Jadi, dalam menghadapi suatu fenomena, maka tidak hanya memakai panca indera atau perasaan saja, tetapi akal ikut berperan untuk mengetahui apa yang terjadi atau bermain dibalik fenomena tersebut.

Hal itu pun seharusnya membuat manusia, agar tidak menjadi “Melek Walang” atau mengetahui, melihat, dan mendengar sesuatu tanpa adanya pemahaman terhadap hal tersebut. Karena, hal itu akan sangat berbahaya apabila terjadi di masyarakat umum, sehingga akibatnya akan sangat terasa, bahkan bisa mengancam NKRI.

Dalam kasus Suriah, masyarakat terbiasa mengkonsumsi informasi bahwa konflik tersebut disebabkan oleh rejim Assad yang melakukan penindasan terhadap Kaum Sunni atau Syiah dengan perbuatan – perbuatan tidak berperikemanusiaan. Dalam buku “Salju di Aleppo” yang ditulis Dina Sulaeman mengungkapkan yang sebenarnya terjadi.

Perlu diketahui bahwa Suriah adalah negara yang kursi pemerintahannya diisi oleh berbagai macam ajaran agama. Menteri Pertahanannya yang meninggal akibat salah satu serangan bom bunuh diri termasuk yang menganut Ortodoks.

Sunni yang digadang-gadang ditindas, justru menjadi jumlah yang lebih besar mengisi kursi pemerintahan ketimbang ajaran yang lainnya. Konflik ini tak bisa dipisahkan dari konflik ekonomi, politik, korporasi, media, negara Israel, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Pergerakannya begitu masif sehingga bisa memporak-porandakan suatu negara. Jadi, sangat jauh dari yang sebenarnya terjadi dengan apa yang disajikan media-media mainstream seperti CNN, iNews, dan BBC.

Sebagai negara, Indonesia tetap menjadi negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan keberagaman bahasa, budaya, dan agama sehingga terhindar dari intimidasi terhadap kelompok tertentu. Jangan sampai negara ini terpengaruh oleh informasi dan menerimanya dengan mudah.

Untuk itu, seharusnya sebagai makhluk individu membudayakan teliti melihat sekecil apapun kesenjangan yang terjadi. Bukankah aneh jika perangnya jauh di sana tetapi pengaruhnya sampai ke Indonesia, kalau tidak ada oknum-oknum yang berniat untuk membuat perpecahan di negara ini? Kalau seperti itu, mungkinkah Indonesia menjadi negara yang selanjutnya bernasib sama seperti Suriah?

MUHAMMAD ILHAM

Penulis adalah Mahasiswa Hubungan Internasional 2016

No Responses

Tinggalkan Balasan