RSBI, Jurang Antara si Kaya dan si Miskin

www.republika.co.id

www.republika.co.id

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah sekolah yang katanya mempunyai taraf internasional dan mempunyai kualitas pendidikan lebih baik daripada sekolah reguler. Entah dari mana definisi itu hadir, namun itulah yang selalu digembar-gemborkan oleh orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Namun definisi itu sedikit diragukan. Apakah benar dengan sekolah di RSBI kita mendapatkan kualitas pendidikan yang baik? Pertanyaan itu tak henti-hentinya bermain di pikiranku.

Beberapa waktu yang lalu, aku mendengar kabar bahwa RSBI dibubarkan oleh MK. Aku pun lantas membuka situs berita online untuk melihat benar apa tidak isu yang belum pasti itu. Ternyata benar saja, RSBI dibubarkan. Pembubaran itu disampaikan MK dalam sidang putusan pembatalan Pasal 50 ayat 3 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) di Gedung MK, Jakarta, Selasa (8/1/2013). Dalam putusannya, MK menyatakan pasal yang mengatur RSBI/SBI yang berada di sekolah-sekolah pemerintah bertentangan dengan UUD 1945 sila kelima Pancasila, yaitu “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dan juga UUD 1945 yang jelas-jelas menyatakan bahwa seluruh warga Negara Indonesia berhak untuk memperoleh kesehatan dan pendidikan dari Negara.

Aku sedikit kaget ketika membaca berita itu karena dulu pun selama tiga tahun aku pernah menjadi ‘kelinci percobaan’ kurikulum tersebut. Aku pernah menjadi salah satu murid di sekolah RSBI yang ada di daerahku. Dulu, menuntut ilmu di sekolah yang bertitel RSBI adalah suatu kebanggaan untukku. Entah bangga karena fasilitasnya yang lengkap, seperti TV, DVD, dll, atau karena apa. Yang jelas dulu aku bangga bersekolah di sana. Tanpa aku sadari, di balik kebanggaanku itu ada setetes rasa cemburu dari siswa kelas reguler yang juga ada di sekolahku.

Keberadaan RSBI memang menimbulkan pro dan kontra yang cukup besar, di antaranya adalah kesenjangan antara si kaya dan si miskin yang terlihat semakin melebar. Kita tahu bahwa sekolah di RSBI membutuhkan dana yang tidak sedikit, maka dari itu yang bersekolah di sana mayoritas adalah siswa yang berasal dari keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke atas. Hal itu sangat bertentangan dengan keluarga dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Mungkin mereka tidak akan bisa merasakan kelas yang berfasilitas lengkap seperti AC, TV, dll. Mereka hanya cukup berada di kelas reguler dengan fasilitas yang pas-pasan. Di sekolahku dulu, siswa yang terbilang memiliki ekonomi yang kurang bisa tetap masuk ke kelas RSBI, namun mereka harus memiliki otak yang cerdas. Jadi hanya segelintir siswa tidak mampu saja yang bisa menikmati fasilitas di RSBI. Dari situ sudah terlihat diskriminasi terhadap siswa lain yang memiliki kemampuan pas-pasan, mereka tidak bisa ikut menikmati fasilitas yang ada. Sungguh miris melihat kenyataan itu.

Adanya RSBI juga menimbulkan banyak permasalahan, di antaranya adalah guru-guru yang mengajar belum memenuhi kualifikasi untuk menerapkan program RSBI. Seringkali aku mendengar celotehan dari temanku yang sekolahnya juga bertitel RSBI, bahwa guru-guru yang ada di sekolahnya dirasa belum pantas untuk mengajar di kelas RSBI. Ada sebagian dari guru yang tidak bisa berbicara bahasa Inggris, padahal RSBI adalah sekolah bertaraf internasional yang otomatis semua yang terlibat di dalamnya dituntut harus menguasai bahasa Inggris. Namun apabila dicermati lagi, penggunaan bahasa Inggris di kelas RSBI perlahan-lahan membuat peserta didik menjadi kehilangan jiwa dan semangat kebangsaannya, serta terdegredasi moral dan pemahamannya tentang nilai, kultur dan ideologi bangsa Indonesia.

Saat ini, lulusan RSBI masih saja dipertanyakan. Tak semua lulusannya memiliki kemampuan yang memadai baik itu dalam bidang akademik maupun non akademik. Siswa reguler pun saat ini mampu menyaingi kemampuan siswa RSBI. Itu membuat sebagian kalangan semakin gerah dengan adanya RSBI karena sekolah yang dianggap memiliki mutu pendidikan yang baik ini tidak menghasilkan lulusan yang baik pula.

Sekarang sudah tak ada lagi jurang antara si kaya dan si miskin karena RSBI sudah dibubarkan. Tak ada lagi kecemburuan sosial dari mereka yang tidak memiliki cukup biaya untuk masuk ke kelas RSBI. Seharusnya MK menghapuskan program ini dari dulu karena betapa indahnya jika kita bisa hidup dengan keadilan, bukan dengan jurang pemisah yang bernama RSBI itu.

ELVA DWI VARANA | Tulisan dimuat di Tabloid Jumpa edisi 43

No Responses

Tinggalkan Balasan