Pendidikan Simbol Jati Diri Bangsa

irfan.student.umm.ac.id

irfan.student.umm.ac.id

Pendidikan merupakan tolak ukur suatu bangsa dengan mengukur kualitas pendidikan, maka kita bisa mengetahui potret suatu bangsa yang sebenarnya. Bangsa yang baik tentunya akan mengutamakan pendidikannya. Pendidikan merupakan faktor yang paling penting dalam pembentukan karakter suatu bangsa. Pendidikanlah yang menentukan masa depan seseorang. Apakah dia dapat mengembalikan jati diri bangsa? Atau malah sebaliknya?

Banyak faktor yang mempengaruhi sistem pendidikan di Indonesia saat ini. Faktor kurikulum, dana yang tersedia untuk pendidikan, faktor kelaiakan tenaga pendidik, dan faktor lingkungan yang mendukung bagi penyelenggaraan pendidikan. Keempat faktor ini terkait satu sama lain untuk dapat menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan karakter nasional yang mampu bersaing di era global yang akhirnya dapat mengembalikan jati diri bangsa.

Akan tetapi, realita yang saat ini terjadi pada para pelajar negeri ini adalah mereka hanya sekadar tahu dan mengenal materi pelajaran yang mereka pelajari di sekolahnya tanpa memahami apa yang sebenarnya mereka pelajari. Patokan mereka hanyalah selembar rapor yang memuat nilai terbaik mereka ataupun Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang terlihat bagus dan memuaskan.

Namun selebihnya mereka tidak memahami dan tidak mampu menerapkan ilmu yang mereka dapat, apalagi untuk mengajarkannya pada orang lain. Untuk itu sebaiknya kita mempelajari aspek-aspek pendidikan yang ditetapkan oleh lembaga pendidikan PBB, UNESCO, yaitu belajar untuk tahu (learn to know), belajar untuk berbuat (learn to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learn to be her/himself), dan belajar untuk hidup bersama (learn to live together). Ketika semua aspek itu dapat dijalankan maka bangsa ini akan memiliki generasi yang dapat dibanggakan, bagi bangsa maupun bagi seluruh dunia. Pendidikan bukan hanya transfer ilmu tanpa aktualisasi ilmu, akan tetapi pembentukan karakter diri dan bangsa dengan ilmu yang didapat, hingga akhirnya mereka para generasi muda dapat mengembalikan jati diri bangsa dengan ilmu yang mereka punya.

Sayangnya banyak faktor yang menghambat jalannya pengembalian jati diri bangsa dikarenakan keterbatasan pendidikan di Indonesia yang saat ini belum merata, dan menjadikan kualitas pendidikan antara siswa-siswi di perkotaan dengan di desa terpencil di pelosok negeri memiliki perbedaan yang sangat drastis. Mereka yang tinggal di pelosok negeri ini bukan berarti tak berpotensi untuk memberikan kontribusi bagi negaranya. Keterbatasan dan keadaan yang membuat potensi mereka tidak terasah dengan baik. Padahal mereka sama-sama memiliki potensi yang cukup besar untuk mengubah negeri ini ke arah yang progresif. Sepertinya pendidikan sulit menjangkau mereka. Kurangnya tenaga pengajar membuat mereka tidak merasakan pendidikan. Pendiri Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, Anis Baswedan pernah berkata, “Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik.” Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di negara ini adalah ‘dosa’ setiap orang terdidik yang dimiliki Republik ini (Indonesia Mengajar hal 118). Anak-anak Nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi, mereka hanya dibedakan oleh keadaan.

Sudah seharusnya pendidikan di Indonesia segera dibenahi. Bukan hanya pekerjaan pemerintah karena pemerintah pastinya akan kewalahan mengurusi masalah yang sangat kompleks ini. Sudah semestinya hal ini menjadi tanggung jawab kolektif Republik ini, agar kelak bangsa ini dapat melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa dan kembali menjadi bangsa yang memiliki jati diri.

MUTIA NURFITRIANA

No Responses

Tinggalkan Balasan