Implementasi HAM di Dunia Pendidikan

 

(portalkbr)

(portalkbr)

Berbicara tentang Hak Asasi Manusia (HAM) tak akan pernah bisa terlepas dari dunia pendidikan. Sebab HAM dan pendidikan bagai dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Beberapa hal yang mendukung bahwa HAM dan pendidikan tidak bisa dipisahkan di antaranya;

Pertama, Di dunia pendidikan semua siswa atau mahasisiwa memiliki hak yang sama untuk mendapatkan ilmu di sekolah maupun di universitas, tanpa membedakan ras, suku bangsa, gender, agama maupun tingkat sosialnya. Semua orang akan mendapatkan nilai sesuai dengan kemampuan dan kerja kerasnya.

Kedua, Pendidikan diyakini sebagai proses untuk mendewasakan diri seseorang sehingga ia dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Dapat membedakan yang hak dan yang batil. Jadi jelas pendidikan sebagai tangga menuju kehidupan yang lebih baik, tanpa memandang apapun, semua manusia di muka bumi ini berhak mendapatkannya.

Ketiga, Dunia pendidikan diyakini sebagai tangga untuk menyiapkan seseorang menaiki tingkat sosial yang lebih tinggi dan lebih baik, di mana pendidikan merupakan proses belajar tentang materi yang diperlukan untuk menjalani kehidupan seseorang, sehingga dapat menafkahi hidup bagi dirinya maupun keluarganya.

Dalam hal ini pendidikan telah menempatkan seseorang yang mampu bekerja keras sehingga memperoleh hasil yang memuaskan, tanpa memandang dari suku,agama, ras, suku bangsa maupun dari kelurga manapun dia berasal.Anak didik dari golongan masyarakat bawah dapat menapaki tangga social yang lebih tinggi melalui kerja keras dan kemauannya belajar.

Namun walaupun demikian apakah di dunia pendidikan HAM itu sudah terimplementasikan secara baik? Karena pada kenyataannya HAM seolah-olah terlupakan di dunia pendidikan. Padahal melalui pendidikanlah manusia akan menemukan jati dirinya sebagai manusia sejati dan dewasa.

Contoh kecil tidak terealisasinya HAM di dunia pendidikan ialah adanya perbedaan antara toilet siswa atau mahasiswa dengan toilet guru atau dosen, maupun dengan toilet karyawan.

Toilet untuk mahasiswa seolah-olah tak pernah dipedulikan kenyamanan maupun kelayakannya. Lantai toilet yang sangat memprihatinkan ditambah dengan air keruh. Kesan pertama memasuki toilet pun sudah disambut dengan bau yang menusuk hidung dan enggan rasanya pergi ke toilet bila tak terpaksa.

Keadaan yang sangat berbanding terbalik dengan toilet dosen dan karyawan. Di toilet dosen ataupun karyawan selalu menggantung pewangi yang akan memanjakan indera penciuman, lantai yang bersih, tisu toilet lengkap dengan hand wash-nya. Rasanya, kita betah untuk berjam-jam di toilet.

Pemungutan-pemungutan liar masih sering terjadi dengan berbagai alasan, mulai dari dana untuk pembelian buku dan dana-dana lain yang tak jelas serta tidak transparan. Ada juga iuran praktikum yang dipungut dari mahasiswa di luar dana DPP. Padahal sarana untuk praktikumnya sendiri tidak lengkap. Kalaupun ada alat-alatnya sudah expayer, tak layak dipakai dan seharusnya sudah harus dimuseumkan sebagai kenang-kenangan.

Bahkan ada yang lebih parah dari itu, masih ada jurusan yang belum memiliki laboratorium dengan alasan tidak tersedianya lahan untuk mendirikan Laboratorium tersebut. Dan patut kita pertanyakan kemanakah larinya dana praktikum dan dana pembangunan dari mahasiswa karena dari pihak akademik tak ada transparasi yang jelas. Melihat kasus di atas sudah terlihat adanya hak mahasiswa yang hilang.

Hak-hak ekonomi lain yang sering terlupakan yaitu hak untuk mendapatkan buku-buku yang menunjang aktivitas belajar. Perpustakaan yang menjadi tumpuan mahasiswa ssebagai gudang ilmu yang penuh dengan buku-buku yang sangat dibutuhkan hanyalah sebagi impian belaka. Buku-buku yang tersedia di perpustakaan tidak pernah memuaskan mahasiswa yang haus akan ilmu-ilmu yang mendukungnya untuk menemukan hal-hal baru sehingga bisa menciptakan inovasi baru dalam dunia pendidikan.

Dalam hak ekonomi lainnya yaitu mengenai beasiswa. Beasiswa merupakan impian setiap mahasiswa apalagi bagi mahasiswa kurang mampu. Dengan adanya beasiswa setidaknya akan mengurangi beban ekonomi keluarganya. Mahasiswa selalu berlomba-lomba untuk mendapatkannya dengan berbagai cara, belajar dengan keras agar bisa berprestasi. Namun impian untuk beasiswa itu hanya semacam impian yang taka akan mampu diraih karena alasan yang tak jelas dari pihak akademik.

Untuk mencetak generasi-generasi penerus bangsa yang berkualitas serta menjunjung tinggi HAM maka sivitas akademik baik dosen, mahasiswa, karyawan, atau semua yang berhubungan dengan akademik harus mampu melaksanakan pola kehidupan yang menjunjung tinggi nilai-nilai HAM. Pejabat perguruan tinggi harus menyelenggarakan sistem dan birokrasi yang transparan dan akuntabel.

Sebagai mahasiswa harus mampu mmenjunjung tinggi HAM dalam perilaku sehari-hari. Sebagai agen of change mahasiswa harus mampu berpikir kritis. Menghargai pendapat orang lain saat diskusi, harus bisa memahami dan mengimplementasikan etika-etika dalam diskusi. Karena jika mahasiswa tidak beretika sama saja dengan hewan yang tak mempunyai akal dan budi pekerti. Serta harus mampu menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di kampus.

Mahasiswa harus mampu berekspresi dan berkarya sesuai dengan minat dan bakatnya serta mampu menghargai karya-karya orang lain.

AI CHINTIA
Penulis adalah mantan Litbang LPM Jumpa 2012-2013
Kini aktif sebagai relawan Turun Tangan Bandung

No Responses

Tinggalkan Balasan