Garuda Bukan Burung Perkutut

www.kaskus.co.id

www.kaskus.co.id

Miris rasanya melihat perjuangan para revolusiner terdahulu dinodai dengan ulah-ulah konyol sang ‘penerus bangsa’. Dalam beberapa tahun terakhir ini Indonesia dijajah oleh negeri sendiri. Ancaman yang lebih besar daripada mengusir para penjajah. Perang ideologi di antara masyarakat menjadi faktor yang cenderung menjadi penyebab utamanya. Di sana-sini merajalela penyelewangan hukum. Uang menjadi tuhan dan kekuasaan malaikatnya. Meminjam istilah Pas Band dalam lagunya yang berjudul Bocah, “Tuhan tlah diganti uang dan penguasa, gila, rakus, serakah lahap karuniaNya”.

Garuda yang dahulu gagah perkasa dan disegani oleh negara-negara asing kini tak ubahnya perkutut yang terkurung dalam sangkarnya. Ia tak bisa terbang bebas di udara karena digenggam oleh si pemilik burung itu. Analogi tersebut relevan dengan keadaan carut marut Indonesia dalam segala hal pada saat ini.

Terpenjara dalam sangkar yang bisa suatu waktu untuk keluar karena si pemilik disuapi ‘persenan’. Bukan untuk terbang bebas di udara atau pun mengepakan sayap di negeri orang, melainkan menjadi buronan negara. Si perkutut sengaja dilepas oleh pemilik supaya tak terlihat keborokannya di mata orang, tapi nyatanya si perkutut tak bisa bebas. Perkutut-perkutut lain yang iri melihat dirinya bebas mengancam akan memberi tahu kebobrokannya kepada pemilik sangkar yang lainnya.

Tak hanya tinggal diam, para pemilik perkutut lain bernegosiasi untuk menangkap si perkutut yang lepas itu. Sialnya, si perkutut pun tahu akan kebobrokan pemiliknya. Alhasil, perkutut dan pemiliknya bersekongkol agar dapat bisa mengelabuhi orang-orang yang melihatnya.

Di tanah jelata rakyat hanya bisa diam terpaku dan mengutuk ulah si perkutut dan pemiliknya. Rakyat sangat merindukan sosok Sang Garuda yang bisa menerkam musuhnya. Musuh pengganggu rakyat tertindas dan penyelewangan hukum. Musuh yang bisa terbang bebas karena uang.

“Garuda bukan burung perkutut Sang saka bukan sandang pembalut Dan coba kau dengarkan Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut Yang hanya berisikan harapan Yang hanya berisikan khayalan” – Iwan Fals

AGUNG GUNAWAN SUTRISNA

No Responses

Tinggalkan Balasan