Feminisme Bukan Hanya Persoalan Kesetaraan Gender

http://www.huntnews.id

 

“I’m not free while any woman is unfree, even where her shackles are very different from my own.” – Audre Lorde

Feminisme pada saat ini menjadi sesuatu yang semakin sering diperbincangkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sangat disayangkan karena masih banyak pihak yang berfikir bahwa feminisme hanya fokus pada hak-hak yang dimiliki perempuan dan permasalahan kesetaraan gender yang kemudian mereka abai terhadap permasalahan lain.

Padahal, jika kita kembali melihat sejarah feminisme yang dimulai dari perjuangan akan hak-hak politik (hak untuk memiliki suara), dan dilanjutkan dengan hak ekonomi pasca Perang Dunia II yang mengurangi jumlah laki-laki secara signifikan. Saat itu perempuan masuk ke ruang publik, tapi ia tidak mendapatkan akses ekonomi yang sama dan bahkan terdiskriminasi.

Di akhir abad 20, gerakan feminisme banyak dianggap sebagai perlawanan dari gerakan Critical Legal Studies, yang pada intinya banyak memberikan kritik terhadap logika hukum yang selama ini sudah diterapkan, sifat manipulatif  dan ketergantungan hukum terhadap politik, ekonomi, peranan hukum dalam menentukan pola hubungan sosial, serta pembentukan hierarki oleh ketentuan hukum secara tidak mendasar.

Walaupun pendapat feminisme dianggap bersifat pluralistis, namun mereka memiliki keyakinan bahwa masyarakat dan hukum bersifat patriarki. Aturan hukum yang dikatakan netral dan objektif seringkali hanya merupakan kedok semata terhadap pertimbangan politis dan sosial yang dikendalikan oleh ideologi pembuat keputusan, dan ideologi tersebut seringkali dibuat tidak untuk kepentingan perempuan. Sifat patriarki dalam masyarakat merupakan penyebab ketidakadilan, dominasi dan subordinasi terhadap perempuan.

Pada dasarnya, permasalahan feminisme ada pada hak sosial, ekonomi, dan politik. Namun, dewasa ini banyak orang yang salah mengartikan apa makna sesungguhnya feminisme dan hanya fokus pada permasalahan budaya. Yang dapat terlihat dari maraknya aksi protes yang berlangsung di jalan dan membentuk citra kepada masyarakat lain yang sinis terhadap gerakan perempuan dan feminisme. Tentu, tak ada yang salah dengan budaya, tapi yang sering luput adalah jika variabel seperti ekonomi, politik dan kehidupan ekonomi saja diabaikan dalam kerangka pemikiran, bagaimana kita bisa masuk ke dalam sesuatu yang bersifat lebih besar.

Maka akan sangat janggal, jika berbicara feminisme tapi tidak berbicara mengenai kebebasan hak berpolitik, hak ekonomi dan hak sosial. Sebab feminisme sendiri berangkat dari konsepsi umum yang merugikan gerakan perempuan terutama pada ketiga aspek diatas. Aneh rasanya, jika berbicara feminisme tapi tidak mengikutsertakan hak politik dan ekonomi di berbagai kontur masyarakat yang berbeda-beda. Artinya, membicarakan feminisme tidak seharusnya abai terhadap hal-hal yang bersifat fundamental seperti ekonomi dan politik. Namun, apa yang terjadi sekarang dapat kita lihat dimana perlahan pemahaman feminisme mulai mengerucut hanya kepada perayaan perbedaan dan identitas mereka terhadap lelaki, lalu melupakan begitu saja masalah sosial yang justru lebih luas seperti hak bersuara, hak mengenyam pendidikan yang layak, dan ketimpangan pendapatan yang semuanya akibat dari diskriminasi terhadap perempuan.

Feminisme bukan hanya persoalan kesetaraan gender semata, pun feminisme bukan hanya membela kaum perempuan yang merasa dirinya tertindas. Lebih daripada itu, ia adalah benang-benang relasi yang saling berkesinambungan antara politik, ekonomi dan sosial, lalu termaktub di dalam kebudayaan. Ibaratnya, feminisme adalah tujuan bersama, yang berlandaskan dari impian kita semua: keadilan sosial. (Bowden&Mummery, 2009: 164-165)

Feminisme pada dasarnya menitikberatkan pada analisis peranan hukum terhadap berlangsungnya hegemoni patriarki. Segala bentuk analisis dan teori yang kemudian dikemukakan oleh seorang feminis diharapkan dapat secara nyata diterapkan di kehidupan sehari-hari, karena segala upaya feminisme bukan hanya untuk menghiasi catatan sejarah perkembangan manusia, namun lebih kepada upaya manusia untuk bertahan hidup. Timbulnya gerakan feminisme merupakan represantasi bahwa ketentuan yang abstrak tidak dapat menyelesaikan ketidaksetaraan.

Pada akhirnya, gerakan feminisme harus jeli dalam melihat konteks, tanpa melupakan landasan yang mendasar dari keadilan sosial sebagai akar dan tujuan feminisme.

Aulia Putri Adilla

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional 2016

No Responses

Tinggalkan Balasan