Bung Karno Sebagai Pribadi dan Tokoh Sejarah

 

(www.divaronero.wordpress.com)

(www.divaronero.wordpress.com)

“Dalam sikap politik terhadap pemerintah jajahan Belanda, Hatta itu teguh, konsisten, dan konsekuen. Sebaliknya Bung Karno! Ahli pidato yang bergembar-gembor ini lekas bertekuk lutut, jika menghadapi keadaan yang sulit dan tidak menyenangkan dirinya sendiri.” (Rosihan Anwar)

Mengenal Sukarno sebagai Proklamator Republik Indonesia adalah kewajiban semua lapisan masyarakat Indonesia. Tanpa mengenal sosok Bung Karno, seseorang bisa dibilang antipati terhadap sejarah kemerdekaan Indonesia. Itulah kenapa dulu Bung Karno pernah berucap, Jasmerah! “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Mengenal Bung Karno sebagai pahlawan dan sebagai manusia biasa akan menimbulkan perbedaan pandangan. Bung Karno sebagai pahlawan adalah seorang agitator handal yang bisa mengerahkan ribuan massa dalam rapat raksasa. Seorang yang mampu menelurkan gagasan, pandangan politik, dan ideologi yang ia tuliskan di berbagai media.

Lain halnya pribadi Bung Karno sebagai manusia biasa, ia adalah lelaki yang sangat mendambakan wanita yang sempurna. Tokoh imajiner Sarinah yang terinspirasi dari pengasuhnya ketika kecil, ia jadikan judul buku hasil buah tangannya. Sarinah, Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia, begitu judul buku yang ia tulis dan terbit pertama kali pada 3 November 1947.

Bung Karno sebagai manusia biasa adalah seorang yang sangat mengagumi kecantikan dan keindahan. Sorot matanya akan fokus memandang kecantikan wanita dan keindahan alam. Di sisi lain, ia tidak tega melihat seekor cacing menggeliat kepanasan dan hampir mati. Itulah (mungkin) sebab Bung Karno memiliki banyak istri.

Di dalam buku Bung Karno Antara Mitos dan Demitologi, Bung Karno Pernah Minta Ampun Pada Belanda?, sedikitnya dijelaskan pribadi Bung Karno. Buku setebal 124 halaman yang disunting oleh Mayon Soetrisno itu memuat 16 tulisan. Ke-16 tulisan tersebut adalah kumpulan artikel yang pernah dimuat di surat kabar Kompas, Tempo, Merdeka, dan Zaman yang diterbitkan pada waktu yang tidak bersamaan.

Beberapa penulisnya antara lain; Rosihan Anwar, Ayib Bakar, Mahbub Djunaidi, Anwar Luthan, Mohammad Roem, Abdurrachman Surjomigarjo, dan Sitor Situmorang. Para penulis ini seakan mendiskusikan secara langsung tentang sosok Bung Karno lewat kacamata mereka. Ada yang memandang Bung Karno secara miring, adapula yang lurus.

Membaca sosok Bung Karno laksana menyelami lautan dalam. Hal yang tidak terlalu berlebihan sepertinya untuk diungkapkan bagaimana menggambarkan sosok si ‘Bung Besar’. Ia dipuja bak dewa yang kehadirannya sangat dinanti-nanti ribuan pasang mata. Ia dikutuk bagaikan bandit yang hidupnya tak diharapkan oleh sebagian golongan. Kehadirannya dianggap benteng penghambat berdirinya sebuah Negara Islam Indonesia. Sampai suatu waktu Bung Karno beberapa kali hampir tewas dibom oleh golongan pemberontak.

Bagi beberapa kalangan, Bung Karno adalah inspirator gerakan Non Blok dan bangkitnya negara-negara Asia-Afrika. Ide Berdikari-nya membakar semangat rakyat Marhaen di seluruh penjuru negara yang dikunjunginya.

“Jika Berdikari telah menjadi dasar negara berkembang, maka benteng lonceng kematian imprealisme semakin dekat,” begitulah kiranya Bung Karno menegaskan dalam sebuah pidato.

Namun di balik sisi ketangguhannya di podium yang mengagumkan, Bung Karno menyimpan banyak misteri. Bung Hatta Wakil Presiden Indonesia yang beberapa kali mendampingi Bung Karno di beberapa kabinet adalah saksi kuncinya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa terdapat banyak perbedaan pandangan politik antara diri Bung Karno dan Bung Hatta. Hingga akhirnya Bung Hatta menanggalkan posisi wakil presiden di pertengahan tahun 50an.

Bung Karno menginginkan terciptanya partai tunggal untuk membantu konsepsinya dalam menjalankan Berdikari, Nasakom, Tri Sakti, dll. “Revolusi belum selesai,” Bung Karno meyakinkan.

Bung Hatta berpandangan lain. Baginya revolusi telah selesai seiring merdekanya Indonesia. Hatta menginginkan adanya multi partai dalam menjalankan konsepsi bernegara dan menentang keras akan Demokrasi Terpimpin ala Sukarno, termasuk klaimnya akan presiden seumur hidup.

Menurut Hatta, alamat bernegara usai kemerdekaan adalah menjalankan pembangunan dengan sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya. Keberadaan partai tunggal hanya akan menimbulkan pemimpin yang otoriter dan itu bertentangan dengan konsep demokrasi.

Akhirnya kepemimpinan dwitunggal pun sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Hatta berseloroh, “Kini dwitunggal sudah tidak ada, yang ada hanya dwitanggal.” Hatta pun mundur dengan kebesaran hatinya. Ia tidak mau memberikan contoh dan dampak negatif kepada rakyat jika pemimpinnya saja berseteru.

Untuk ‘mengobati’ rasa kecewanya akan pendirian Bung Karno, Hatta ‘menyerang’ konsepsi Bung Karno dengan bukunya Demokrasi Kita. Sedangkan Bung Karno melanjutkan konsepsi Demokrasi Terpimpinnya dengan dibayang-bayangi Partai Komunis Indonesia yang saat itu sedang populer.

Bagai telur di ujung tanduk, Bung Karno sama sekali tak bisa berkutik saat kursi kepemimpinannya goyah. Benar saja, Panglima Besar Revolusi itu pun tidak menjadi presiden seumur hidup. Pemberontakan komunis dan kudeta militer menyingkirkannya dari kursi nomor satu di negara Pancasila ini.

Bung Karno dijatuhkan, dijadikan tahanan rumah, dan akan diadili. Hingga akhir hayatnya Bung Besar tak jua didudukkan di meja hijau. Usianya yang kian lanjut membuatnya tak berdaya. Ia kesepian. Istana mewah tempat ia meneriakkan kebangkitan kepada kaum marhaen tak lagi menjadi pelabuhannya. Ia terbaring lemas di ranjang pengakhirannya.

Raga Singa Podium pun sudah tiada, tapi jasa-jasa besarnya masih kita rasakan hingga sekarang. Bung Karno adalah manusia bukanlah dewa. Yang membuat ia besar adalah usaha, cita-cita, dan kecintaan yang teramat besar bagi Indonesia. Jika menjelang ajalnya Muhammad berkata, “Umatku, umatku, umatku!” Pun jangan kita lupakan akan pesan Sukarno kepada kita, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.”

Mari kita maknai jasa-jasa pahlawan Indonesia dengan hal-hal positif! 

AGUNG GUNAWAN SUTRISNA

No Responses

Tinggalkan Balasan