Visi Misi Belum Tercapai, Perkuliahan Kena Dampaknya

Wawancara dengan Eddy Jusuf (dari kiri pojok) dan Deden Ramdan (sebelah Eddy Jusuf) di ruangannya, kampus SetiaBudhi, pada Kamis, 14 Februari 2019. (Fenny Maryani/JUMPAONLINE)

Unpas, Jumpaonline – Budaya sunda dan budaya islam yang diusung Universitas Pasundan (Unpas) sebagai identitas kampus masih belum terlaksana. Masalah tersebut berdampak pada perkuliahan dan mahasiswanya sendiri.

“Penerapan visi-misi (budaya islam dan budaya sunda) Unpas belum tercapai sepenuhnya,” ujar Mira mahasiswa Akuntansi 2018 saat ditemui di kampus Unpas Tamansari pada Kamis, 14 Februari 2019.

Menurutnya beberapa jadwal kuliah terkadang bentrok dengan jadwal shalat. Padahal dilihat dari segi budaya islam baginya melaksanakan shalat itu harus tepat waktu. Tetapi disisi lain mahasiswa masih dalam jam kuliah.

Sementara Sri Agustini mahasiswa Pendidikan Matematika 2016, memandang visi misi itu dari segi budaya sunda. Ia mengatakan setiap Rabu mahasiswa dan dosen wajib berbahasa sunda. Tetapi dari pihak kampus kurang tegas tentang arahan tersebut.

“Untuk penerapan budaya sunda sudah ada (arahan) dari pihak pimpinan, tetapi bisa dihitung jari yang melakukannya,” ujarnya.

Eddy Jusuf selaku Rektor Unpas mengatakan, jika menggangu perkuliahan maka dosen bisa berhenti sejenak. Sementara penetapan jadwal kuliah dilakukan sebelum perkuliahan berjalan.

“Sebetulnya sudah (diatur), jika jadwal kuliah itu bentrok jadinya terganggu karena keduanya sama-sama wajib. Minimalnya dosen disuruh berhenti dulu,” ujarnya.

Tambahnya, berpakaian sunda hanya dalam rangka nilai-nilai budaya sunda semata. Penerapan yang sebenarnya itu berada aspek perilaku bagaimana mahasiswa bersikap di kesehariannya. Penggunaan pakaian pangsi Itu hanya sebagai bentuk pelestarian budaya sunda.

RESI INDRI IRAWAN

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas