Angka Golput Tinggi, Baik atau Buruk?

 

Diskusi Publik Pentingnya Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemila dengan pemateri Akhmad Rozikin (Kiri), Irhamna (kedua dari kiri), Mulyadi (Kedua dari kanan). (Rizza Ikhsan Rahadian/JUMPAONLINE)

Diskusi Publik Pentingnya Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemila dengan pemateri Akhmad Rozikin (Kiri), Irhamna (kedua dari kiri), Mulyadi (Kedua dari kanan). (Rizza Ikhsan Rahadian/JUMPAONLINE)

Lengkong, Jumpaonline ­– Maraknya kabar miring tentang para petinggi negara yang selalu beredar membuat angka Golput pada Pemilu kian melambung tinggi tiap tahunnya. Tetapi ada alasan yang rasional mengapa seorang lebih memilih Golput.

Sepeti Mulyadi Soma Munawar, selama ia menginjak masa kuliah tak pernah sekalipun ia mengeluarkan hak-hak suarannya pada tiap Pemilu dilaksanakan. Ia beranggapan bahwa percuma saja memilih jika keadaan justru memburuk tiap tahunnya. “Lebih baik tidak memilih daripada memilih orang baru yang akan korupsi,” katanya.

Menurutnya, angka Golput yang tinggi bukanlah pertanda buruk, justru pertanda baik. Ketika angka Golput semakin tinggi, berarti rakyat sudah sadar jika tidak ada orang yang pantas untuk dipilih.

Lain dengan Mulyadi, Irhamna, pemuda yang bergabung dalam gerakan Rock The Vote Indonesia tidak menyetujui ketika seseorang lebih memilih Golput. “Pilihlah siapapun meski itu adalah pilihan terbaik di antara pilihan terburuk,” ucapnya saat menjawab pertanyaan salah satu peserta diskusi Pentingnya Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula pada Rabu, 19 Maret 2014.

Hal sendada diucapkan oleh Akhmad Rozikin, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung. “Siapapun calonnya silahkan tentukan pilihan, karena sebesar apapun angka Golput perhitungan suara tetap dilanjutkan,” katanya di sela acara diskusi.

SUDURY SEPTA MARDIAH

No Responses

Tinggalkan Balasan