Indahnya Kebersamaan

(www.terlalu-gila.blogspot.com)

(www.terlalu-gila.blogspot.com)

Di pagi hari yang dingin ini, seperti biasa, aku mengemudikan mobilku menuju kampus. Pagi ini jalanan terasa lebih lengang, mungkin karena ini masih jam 8 pagi. Ya, aku pergi sedikit lebih pagi dari biasanya karena hari ini akan ada acara di kampusku, dan aku jadi panitianya. Ketika sedang asyik menikmati sejuknya udara di pagi hari, tiba-tiba saja..

BRUKKK!!

Seketika aku mengerem mobilku.

“Ya ampun.. Nabrak orang!!”

Aku begitu panik ketika melihat ada seorang anak laki-laki tergeletak di depan mobilku. Disampingnya ada seorang gadis bertubuh lebih kecil dari anak laki-laki itu. Ah, mungkin itu adiknya, batinku. Warga sekitar mulai berhamburan mengerubungi anak laki-laki yang tergeletak itu. Aku pun keluar dari mobil dengan begitu panik.

“Ya ampun.. Aduh pak, tolong angkat adik ini ke mobil saya, saya akan membawanya ke rumah sakit terdekat.” kataku kepada salah seorang bapak yang ada di lokasi kejadian.

Tanpa menunggu lama, bapak itu langsung mengangkat anak itu ke dalam mobilku.

“Kak, boleh aku ikut? Aku adiknya.” kata gadis kecil tadi.

“Iya, ayo De.” kataku kepadanya.

Aku mengemudikan mobilku dengan sedikit ngebut menuju rumah sakit. Beberapa menit kemudian kami sampai di parkiran rumah sakit.

“Tunggu sebentar ya De, kakak mau panggil perawat dulu.” kataku kepada gadis kecil tadi.

Ia hanya mengangguk lemah, mungkin ia masih shock melihat kakaknya tertabrak tadi.

Beberapa lama kemudian aku kembali ke parkiran dengan ditemani beberapa orang perawat. Para perawat itu dengan sigap membawa anak laki-laki tadi ke ruang UGD. Aku dan adik dari anak laki-laki itu menyusul dengan langkah gontai. Kami duduk di luar ruang UGD seraya menunggu dokter yang memeriksa anak tadi keluar dari ruang UGD.

Beberapa saat kemudian, dokter itu keluar dari ruangan.

“Dok, bagaimana kondisi anak lak-laki tadi?” kataku panik seraya menghampiri sang dokter.

“Dia tidak kenapa-kenapa kok, hanya ada sedikit benturan saja di kepalanya. Tapi dia baik-baik saja, hari ini juga sudah bisa pulang kok..” sahut si dokter.

“Oh syukurlah.. Terimakasih, Dok.” ucapku.

“Iya sama-sama, saya tinggal dulu ya.” ujar si Dokter seraya pergi meninggalkan kami berdua.

“Ayo De, kita lihat kondisi kakakmu.” ajakku kepada gadis kecil tadi.

Ia hanya mengangguk, dan kami pun masuk ke dalam ruangan.

Di dalam ruangan, terlihat anak laki-laki tadi sedang terbaring lemas dengan perban di kepalanya. Gadis kecil tadi pun langsung menghampiri anak laki-laki itu.

“Bang, Abang gak kenapa-kenapa kan?” tanya gadis kecil itu dengan raut muka panik.

“Ngga kok, Abang gak kenapa-kenapa.”

“Oh syukurlah, Bang..”

“De, kakak ini siapa?” tanya anak laki-laki itu seraya menatap heran ke arahku.

“Oh.. Tadi kakak gak sengaja nabrak kamu. Maaf ya.” sahutku dengan cepat.

“Tapi tenang aja, semua biaya perawatan kamu Kakak yang tanggung, dan nanti kakak anterin kamu sama adik kamu pulang ke rumah ya..” lanjutku.

Kedua anak itu saling berpandangan.

“Eh gak usah Kak, kita bisa pulang sendiri kok.. Lagian rumah sakit ini gak begitu jauh dari tempat tinggal kami.” sahut gadis kecil itu.

“Eh udah gak apa-apa Kakak anterin, kan Kakak harus tanggung jawab sama Abang kamu ini.” ucapku tersenyum seraya melirik ke arah anak laki-laki yang sedang terbaring itu.

Mereka berdua saling bertatapan, dan akhirnya mengiyakan dengan nada yang sedikit terlihat pasrah.

“Oh iya, nama kalian siapa nih? Dari tadi Kakak lupa belum kenalan sama kalian.. He..he..” tanyaku pada mereka.

“Namaku Rizki, Ka.. Dan ini adikku, Nisa..” jawab anak laki-laki itu seraya melirik ke arah gadis kecil di sebelahnya. Gadis kecil itu tersenyum kepadaku.

“Oh.. Rizki, Nisa, nama Kakak Jelita, panggil aja Kak Lita.” kataku seraya menatap mereka secara bergantian.

Setelah itu aku asyik bercakap-cakap dengan mereka. Kami membicarakan tentang berbagai hal. Mulai dari tempat tinggal mereka, orang tua mereka, sampai dengan pendidikan mereka. Aku begitu tertegun ketika mengetahui bahwa sebenarnya mereka adalah anak jalanan, orang tua mereka sudah meninggal dunia sejak mereka masih kecil. Miris sekali rasanya mendengar mereka bercerita, ingin rasanya aku membantu mereka. Namun bagaimana caranya? Aku hanya seorang anak kuliahan yang uang jajan pun masih minta kepada orang tua.

Tak terasa, jam sudah menunjukan pukul 3 sore. Aku pun bergegas untuk mengantarkan mereka pulang.

***

“Udah Kak, mobilnya diparkir disini aja!” ucap Nisa ketika mobilku mulai memasuki jalan kecil yang hanya muat untuk dua mobil saja.

“Emang rumah kalian dimana?” tanyaku pada mereka.

“Itu Kak, masuk ke dalam gang itu..” tunjuk Nisa ke arah sebuah gang kecil.

“Ayo, Ka..” lanjutnya.

Aku pun membuka pintu mobil dan mulai membopong Rizki ke arah gang kecil itu, dibantu oleh Nisa. Dan sampailah kami di sebuah rumah yang sangat kumuh, yang hanya berdindingkan bilik yang terlihat sudah rapuh. Di sekitar rumah itu terlihat ada beberapa anak yang sedang bermain. Ketika kami datang, mereka langsung menghampiri.

“Nisa, Bang Rizki kenapa?” tanya seorang anak laki-laki berkulit hitam kepada Nisa.

“Tadi gak sengaja ketabrak pas kita lagi ngamen di pertigaan.” sahut Nisa lirih.

“Yaudah yuk bawa masuk.” kata anak laki-laki itu.

“Oh iya, ini siapa Nis?” lanjutnya.

“Oh iya, ini Kak Lita, orang yang tadi nabrak Kak Rizki.” Nisa mengenalkanku kepada anak laki-laki itu.

“Kak Lita, ini Bang Reza, dia temen Nisa sama Bang Rizki. Temen satu rumah, udah dianggap saudara sendiri.” Nisa menatap ke arahku.

Aku dan Reza pun berkenalan. Anak-anak yang lain pun berebut ingin mengenalkan dirinya. Aku hanya bisa tersenyum melihat semua tingkah laku mereka, melihat mereka dengan semangat mengenalkan dirinya masing-masing. Beberapa saat kemudian aku sudah akrab dengan mereka semua, dan kami pun saling bertukar cerita. Setelah lama bercerita, aku mulai tahu bahwa sejak kecil mereka tidak pernah disekolahkan. Mereka tidak bisa membaca dan menulis sejak mereka kecil. Sungguh miris rasanya mendengar cerita mereka. Ketika suasana hening, aku berpikir untuk beberapa saat. Dan akhirnya aku putuskan untuk membantu mereka dengan mengajarkan mereka membaca, menulis, dan yang lainnya.

Tak terasa adzan maghrib sudah berkumandang, aku pun berpamitan pulang kepada semua anak yang ada disana. Berat rasanya meninggalkan mereka semua, tapi bagaimana lagi, aku harus pulang. Tapi aku berjanji besok akan datang lagi untuk mengajar. 

***

Esoknya, aku datang lagi menemui mereka. Baru saja aku sampai, mereka langsung berlarian ke arahku dan menyalamiku satu persatu. Aku tersenyum simpul melihat tingkah laku mereka yang begitu menggemaskan. Rasanya aku sudah dianggap kakak oleh mereka semua. Aku sangat senang, apalagi karena aku adalah anak tunggal.

“Ayo Kak, ajarin kita baca sama nulis.” rengek Nisa manja.

“Oh iya, ayo ayo.” sahutku.

Mereka mulai duduk dengan rapi di halaman tempat tinggal mereka dengan beralaskan karpet yang sudah usang. Aku membawa papan tulis kecil dari rumah sebagai alat untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Tak lupa aku membawa sekotak kapur dan perlengkapan lainnya.

Tak terasa, waktu terus berlalu. Mereka pun sudah aku ajarkan berbagai macam, mulai dari membaca, menulis, sampai berhitung. Mereka begitu antusias ketika sedang mengikuti pelajaran dariku. Senang sekali rasanya. Aku pun dengan semangat mengajarkan mereka.

Ketika sore hari telah tiba, aku berpamitan untuk pulang. Anak-anak itu pun sepertinya sudah lelah. Setelah diantar oleh mereka sampai ke pinggir jalan, aku pun pulang.

***

Esoknya aku datang lagi ke tempat mereka. Hari ini aku berjanji akan mengajak mereka bermain keluar. Ketika aku datang, mereka semua sudah berpakaian rapi. Lucu rasanya. Kami semua pun masuk ke dalam mobilku dan pergi menuju tempat permainan anak yang ada di sebuah mall. Mata mereka semua terlihat berbinar-binar ketika melihat permainan yang begitu banyaknya. Mereka pun memainkannya satu persatu. Aku terenyum melihat semua itu, sungguh senang rasanya melihat mereka semua bahagia.

Ketika kita semua akan pulang, tak sengaja aku bertemu dengan Mama di lantai 1 mall tersebut. Aku kaget bukan kepalang, karena aku tahu Mama pasti marah jika ia melihatku bermain dengan anak-anak jalanan. Ketika aku akan pergi dari tempat itu dan menghindar dari pandangan Mama, tiba-tiba saja..

“Lita!!” panggil Mama dari kejauhan.

Sontak langkahku terhenti, dan dengan perlahan aku menoleh ke arah Mama.

“Ngapain kamu disini? Siapa mereka?” tanya Mama kepadaku, seraya menunjuk ke beberapa anak jalanan yang ada di depanku.

“Ini temen-temen Lita, Ma..” jawabku lirih.

“Temen macam apa? Masa kamu temenan sama anak-anak kayak gini? Mereka ini anak jalanan ya? Keliatan dari tampangnya. Ya ampun Lita..” cerocos Mama.

“Hmm, iya Ma.. Tapi mereka itu temen Lita Ma, dan udah Lita anggap kayak adik Lita sendiri.. Mama jangan ngomong kayak gitu..” ujarku.

“Lita!! Kamu ini dari keluarga berada, jangan malu-maluin Mama!! Main sama anak jalanan kayak gini!! Apalagi kamu tuh cewek, gak pantes main sama anak jalanan kayak mereka!! Dan kamu itu anak satu-satunya, jangan bikin Mama kecewa!!” bentak Mama.

Orang –orang di mall itu melirik ke arah kami, malu sekali rasanya.

“Tapi, Ma.. Mereka itu..”

“Gak ada tapi-tapian!! Kamu jauhin mereka, atau pergi dari rumah!!” potong Mama.

Air mataku hampir menetes ketika Mama berkata seperti itu.

“Oke Ma, mendingan Lita pergi dari rumah daripada ada di keluarga yang kayak gini! Yang selalu mikirin harta, derajat, dan kedudukan! Lita cape Ma, Lita cape!” kataku dengan amarah yang memuncak. Mama tertegun melihatku berkata seperti itu.

Aku pun meninggalkan tempat itu, diikuti anak-anak kecil yang tadi aku bawa ke sini. Tak ada satupun dari mereka yang berani bertanya kepadaku. Aku pun diam seribu bahasa selama di perjalanan. Ketika sampai di rumah mereka, aku meminta izin tinggal di sana untuk beberapa saat. Mereka mengizinkan, dan aku pun tinggal disana.

***

Hari-hari berikutnya aku tinggal bersama mereka. Bermain, mengajar, sampai mengamen bersama mereka pun sudah menjadi makanan sehari-hariku. Aku senang berada di tengah- tengah mereka, merasakan indahnya kebersamaan. Meski terkadang aku teringat orang tuaku di rumah, terutama Mama. Tapi mau bagaimana lagi, inilah jalan hidup yang aku pilih.

***

Beberapa hari kemudian, ketika aku sedang mengajar anak-anak itu menulis, aku dikagetkan oleh kehadiran Mama ke tempat kami. Aku kaget, Mama tahu darimana aku tinggal disini?

“Lita…” ucap Mama pelan, air mata sudah terlihat di pelupuk matanya.

“Mama? Mama tahu darimana Lita tinggal disini?” ucapku dengan penuh rasa kaget.

“Kemaren Mama ngeliat kamu lagi ngamen di jalan, dan Mama ikutin kamu pulang, ternyata selama ini kamu tinggal disini.. Maafin Mama ya, Nak.. Ayo pulang, Mama kesepian di rumah..” ucap Mama lirih seraya datang menghampiriku dan memelukku dengan erat.

Tanpa sadar, aku pun membalas pelukan Mama dan meminta maaf atas kejadian beberapa minggu yang lalu.

“Maafin Lita juga ya Ma, waktu itu udah ngebentak Mama.. Lita janji nanti bakal pulang.. Tapi tolong izinin Lita main sama mereka.. Mereka itu udah Lita anggap adik Lita sendiri..”

“Iya Lita, kamu boleh main sama mereka.. Asal kamu pulang ya, Nak..”

“Iya Ma, makasih banyak ya.. Lita sayang sama Mama..”

“Iya Sayang, Mama juga sayang sama kamu..”

Anak-anak kecil itu tersenyum melihat apa yang terjadi di depan mereka. Dan aku pun sangat lega ketika Mama mulai mengizinkanku untuk bermain bersama mereka. Aku tidak ingin jauh dari mereka, karena bersama merekalah aku bisa merasakan indahnya kebersamaan yang sudah lama tak pernah aku rasakan. 

ELVA DWI VARANA

No Responses

Tinggalkan Balasan