Hours, Berpacu dengan Kecepatan Waktu

Judul Film: Hours
Genre        : Drama | Thriller
Sutradara : Eric Heisserer
Pemain     : Paul Walker, Genesis Rodriguez, Yohance Myles, Kerry Cahill
Durasi       : 97 menit
Rilis           : 13 December 2013

Menutup tahun 2013, industri perfilman dikejutkan oleh berita kepergian mendadak Paul Walker pada 30 November lalu. Berita ini dirasa sangat mendadak dan mengejutkan banyak pihak, terutama untuk mereka yang merupakan penggemar berat franchise film The Fast and the Furious. Meninggalnya Paul Walker yang saat itu berusia 40 tahun disebabkan oleh kecelakaan mobil yang mana terbilang agak ironis karena Paul Walker sendiri terkenal bermain di film yang mengandalkan kecepatan mobil sebagai modal utamanya. Saat kecelakaan tersebut terjadi, Walker tengah menjalani proyek sekuel Fast & Furious 7 yang dalam tahap produksi.

Terlahir dengan nama Paul William Walker IV, ia adalah anak tertua dari lima bersaudara. Paul lahir di Glendale, California, Amerika Serikat pada tanggal 12 September 1973. Ayahnya, Paul William Walker III adalah seorang kontraktor pipa saluran pembuangan dan ibunya, Cheryl Crabtree, adalah seorang mantan model. Walker menamatkan pendidikan SMA-nya di Sun Valley’s Village Christian School pada tahun 1991 dan kemudian lanjut ke bangku kuliah dengan mengambil jurusan biologi kelautan.

Ia memulai karirnya di dunia hiburan dari usia dua tahun melalui modeling. Pada waktu itu, Walker membintangi berbagai macam iklan untuk beberapa produk. Baru ketika Walker berusia 13 tahun, ia memulai debutnya di sebuah film horror-komedi arahan sutradara Bob Dahlin Monster in the Closet, bersama dengan salah satu personel grup hip hop Black Eyed Peas, Stacy Ferguson atau lebih dikenal dengan nama Fergie yang juga baru memulai karir aktingnya di layar lebar.

Setelah membintangi sejumlah film dan beberapa serial TV, karir Paul Walker sebagai aktor mulai melejit berkat perannya di Varsity Blues sebagai Lance Harbor, seorang pemain football di sebuah sekolah menengah atas di kota fiksi West Canaan dengan posisi quarterback dan berstatus kapten yang sebenarnya di tim sekolah tersebut, Coyotes. Tapi, baru pada tahun 2001 lah nama Paul Walker mulai lebih bersinar berkat perannya sebagai Brian O’Connor, seorang polisi detektif di film The Fast and the Furious.

Di tahun 2013 sendiri, Walker telah membintangi empat judul film. Dan tiga diantaranya rata-rata berisikan hal sama adegan yang melibatkan aksi mobil yang kejar-kejaran, tembak-menembak, darah , kecuali untuk satu judul film yang berjeniskan drama-thriller, Hours. Hours merupakan film pertama yang dirilis secara resmi beberapa minggu setelah kematiannya dan ini sekaligus juga film terakhirnya di 2013.

Sang sutradara, Eric Heisserer, mengatakan tahun lalu ia mendapatkan kesempatan untuk menyutradarai sebuah film low-budget yang berjudul Hours. Ini adalah film pertama Heisserer yang mana ia bertindak sebagai sutradara dan juga penulis naskah. Sebelumnya Heisserer pernah terlibat sebagai penulis naskah di Nightmare on Elm Street (2010) dan Final Destination 5 (2011). Heisserer menambahkan, “Aku ingat saat pertemuan awalku dengan Walker untuk film tersebut dan berpikir, ‘Tidak mungkin dia adalah orang yang tepat’, tapi pada akhirnya Paul berhasil memenangkan hati saya.” Heisserer juga mengambarkan Walker sebagai aktor yang tidak pernah mengeluh dan selalu bisa tepat waktu. Walker bahkan menghapal nama-nama seluruh kru yang saat itu bekerja dengannya.

Hours mengambil latar belakang peristiwa bencana alam badai Katrina yang melanda New Orleans 2005 silam, Nolan Hayes (Paul Walker) dengan tergesa-gesa mengantarkan istrinya, Abigail (Genesis Rodriguez) yang akan melahirkan di rumah sakit. Sang bayi sebenarnya lahir dengan fisik yang normal, namun ia lahir prematur. Proses persalinan tersebut merenggut nyawa Abigail yang kehabisan banyak darah. Nolan tidak memiliki banyak waktu untuk berkabung atas kematian istrinya karena setelah itu Dr. Edmonds (Yohance Myles), memberitahukan bahwa ia telah dikaruniai seorang anak perempuan. Sayangnya karena bayi tersebut lahir lima minggu lebih awal dari yang diharapkan, sang bayi harus diletakkan di sebuah kotak ventilator untuk menyokong hidupnya selama paling tidak 48 jam.

Badai yang semakin mengamuk dan banjir yang volumenya semakin bertambah parah membuat para penghuni rumah sakit harus dievakuasi. Nolan menolak untuk pergi dan tetap tinggal di rumah sakit karena ventilator yang menjadi tumpuan hidup anaknya itu tidak bisa dipindahkan. Keadaan diperparah dengan jaringan listrik dan telepon mati total akibat dari terjangan badai Katrina. Generator pun sama sekali tidak berfungsi. Akhirnya, Nolan harus bergantung pada cadangan tenaga baterai yang tersisa. Itupun masih harus dibantu generator dengan tenaga manual yang hanya bisa memberikan waktu maksimal tiga menit. Persediaan makanan pun sangat terbatas, hanya dengan beberapa bungkus permen dan makanan ringan, ditambah dengan sedikit bungkusan daging yang diberikan dengan sangat murah hatinya oleh koki rumah sakit tersebut.

Selain berusaha untuk menjaga anaknya agar tetap bisa bertahan hidup, Nolan juga berusaha untuk memanggil bantuan apapun yang bisa ia dapatkan. Nolan meninggalkan kamar untuk mencari radio yang masih bisa berfungsi. Ia juga mencoba naik ke atap rumah sakit untuk menarik perhatian helikopter yang lewat. Tapi tak ada satu pun yang membuahkan hasil.

Adapun di saat Nolan kembali ke kamar, Nolan bercerita kepada anaknya tentang kenangan-kenangannya bersama Abigail. Cerita tentang bagaimana mereka bertemu. Betapa lucunya kejadian saat Nolan akan melamar Abigail yang ternyata Abigail juga berniat akan melamar Nolan. Semua itu tetap diselingi oleh usaha Nolan untuk memastikan putri kecilnya baik-baik saja.

Di beberapa menit terakhir film ini, terlihat ada dua orang penjarah yang mengincar persediaan obat-obatan rumah sakit. Nolan yang mendengar suara mereka di toilet langsung saja bertindak cepat untuk melumpuhkan kedua penjarah tersebut. Nolan kemudian tumbang karena kelelahan. Pada saat itu juga datanglah tim medis dan Nolan langsung dibawa pergi untuk mendapat perawatan. Belum juga mereka pergi terlalu jauh, terdengarlah tangisan putri kecil Nolan.

Daya tarik utama dari film ini terletak pada performa Walker yang mampu menghadirkan kerentanan seseorang yang harus mengesampingkan pikirannya yang kacau, sementara ia harus tetap berjuang untuk menyokong semangatnya bertahan hidup. Disini Walker juga mampu membawakan jalan cerita yang berkonsep one-man show dengan rapi. Eksplorasi Walker terhadap emosi karakter Nolan Hayes juga lebih bagus, karena di sepanjang karir akting Walker hanya ada beberapa film saja yang memberikannya kesempatan untuk bisa seperti itu. Nilai tambah lainnya dari Hours adalah ceritanya yang sederhana. Hanya terfokus pada perjuangan Nolan yang harus menerima kenyataan dari kematian istri tercintanya dan tanggung jawabnya sebagai ayah untuk merawat dan menjaga anaknya.

Untuk kekurangannya sendiri, sebernarnya film ini tidak terlalu memiliki kesalahan yang begitu menonjol. Pada saat Dr. Edmonds berkata “Putrimu harus bertahan selama 48 jam di ventilator itu,” dari situ juga akhir dari film itu sudah tertebak. Tapi itu tidak mengurangi rasa penasaran saya terhadap hal-hal apa sajakah yang akan dilakukan sang ayah untuk menjaga anaknya agar tetap bisa bertahan hidup. Dan satu hal lagi yang cukup mengganggu intensitas dari alur ceritanya adalah beberapa adegan flashback yang dirasa kurang pas kemunculannya.

Selama ini saya hanya memandang Paul Walker sebagai aktor yang identik dengan film aksi. Jujur saja saya agak meragukan kemampuan aktingnya apabila ia diberikan peran dan plot cerita yang sangat sederhana. Walaupun perannya sebagai Nolan Hayes di Hours ini tidak benar-benar bisa membantahkan hal tersebut, tapi saya cukup yakin akan kemampuan Walker dalam berakting.

Entah disengaja atau tidak, tapi Hours seakan menjadi salam perpisahan dari Paul Walker. Memang Hours bukanlah drama-thriller survival terhebat yang pernah saya tonton, tetapi film ini menjadi suatu pembuktian bahwa seorang Paul Walker lebih dari sekadar aktor yang hanya bisa bermain di film aksi.

NABILA GHINA FADHILA

No Responses

Tinggalkan Balasan