Hatta, Pejuang Kemerdekaan Indonesia yang Paling Sederhana

Judul : Bung Hatta – Pribadinya Dalam Kenangan
Penyunting : Meutia Farida Swasono
Tebal : 730 Halaman
Penerbit : UIP dan SH
Percetakan : Sinar Agepe Press, Jakarta
Terbit : 1981, Cetakan Ketiga
Jenis : Hardcover

Buku berjudul Bung Hatta – Pribadinya dalam Kenangan ini adalah salah satu buku yang berisi biografi Hatta. Di dalam buku ini terdapat 84 artikel yang menceritakan kehidupan Bung Hatta. Ke-84 artikel tersebut dibagi dalam 5 Bab, yaitu, Bab I Di Tengah Keluarga, Bab II Di Rumah Tangga, Bab III Bersama Handai Tolan dan Kawan Seperjuangan, Bab IV Dalam Ilmu dan Kegiatan Akademis, dan Bab V Bersama Dokter dan Perawat.

Buku ini dibuat atas prakarsa Meutia Farida Swasono – anak sulung Bung Hatta – karena di dalam buku Memoir yang ditulis Hatta, terbit pada 1979 banyak yang menyayangkan akan kekurangan buku tersebut. Bedanya, buku ini ditulis oleh 84 orang yang selama hidup Bung Hatta menjadi ‘saksi hidup’ perjuangan beliau dari mulai kuliah di Rotterdam, Belanda, saat masa di penjara dan pembuangan, detik-detik proklamasi, hingga yang menemani Hatta sampai akhir hayatnya.

Di halaman awal, ditambahkan pula satu sajak karya Sazein Muhammad yang berjudul Kertas Hitam – Karangan Bunga untuk Almarhum Bung Hatta. Sajak yang indah, menyentuh, dan tentunya kerinduan kita terhadap sosok Hatta, Sang Demokrat tulen.

Sebagai Dwitunggal, – bersama Sukarno – Hatta menjadi figur penting bagi perjalanan kemerdekaan Indonesia. Kehadiran Hatta dalam masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Proklamasi, masa Revolusi Fisik, Orde Lama, sampai Orde Baru, menjadi sosok yang sentral. Figurnya yang ramah, sederhana, dan baik hati sebagai pribadi, membuat orang-orang kagum. Dan kepergiannya, meninggalkan seribu kerinduan bagi siapapun yang mengenalnya.

Suatu keajaiban telah terjadi!
Sesudah liang kubur diisi
Eh! Lihat! Hujan yang lembut
Salam terakhir dari alam kepada seorang manusia besar!
Sesudah itu…
Suatu awan gelap
menyebar sekelilingnya,
seperti lindungan payung
memberi pada yang memerlukan peneduh
Baru jam lima
Langit begitu banyak mencucurkan air mata
Dalam suatu Hujan deras.
(Pribadi Bung Hatta yang Saya Kenal – H. S. S. A. Rachim, mertua Bung Hatta)

Sebagai politikus dan akademisi, Hatta adalah sosok yang disegani oleh kawan maupun lawan. Beberapa kali Hatta mengalami masa pembuangan, di antaranya di Tanah Merah, Boven Digul, Papua, Banda Neira, Maluku, dan Bengkulu

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah yang ditulis oleh orang-orang terdekat Hatta. Bung Hatta adalah seorang yang paling disiplin dalam waktu dan janji. Baginya, tidak ada sedetik pun waktu yang Ia lewati dengan percuma. Dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya, Hatta memiliki jadwal pribadi yang sangat Ia junjung dalam kehidupannya.

Satu lagi, Bung Hatta adalah orang yang selalu menepati janji. Dengan siapapun Ia berjanji, pasti akan Ia tepati sesuai waktu yang telah ditentukan. Jadi, jika seseorang terlambat dalam menepati janjinya, niscaya akan terkena ‘marahnya’ Bung Hatta sebagai pelajaran bahwa harus prioritas dalam menghargai kepercayaan orang lain.

Ada satu tulisan yang menjadi bagian favorit saya di antara ke-84 tulisan di buku ini. Adalah tulisan Des Alwi yang berjudul Oom Kacamata yang Mendidik Saya. Mungkin sosok Des Alwi masih awam terdengar di telinga kita. Dia adalah salah satu murid Hatta saat beliau menjalani masa pembuangan di Banda Neira, Maluku selama enam tahun. Selain itu, Des Alwi pun dijadikan anak angkat oleh Sutan Syahrir, kawan seperjuangan Hatta. Des Alwi belajar berbagai hal dari Hatta dan Syahrir.

Bung Hatta meninggalkan keluarganya tidak dengan harta warisan yang banyak. Bung Hatta sebagai ekonom ulung memang sering memperhatikan nasib rakyat yang sangat dicintainya. Bahkan kecintaannya kepada rakyat, melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri. Hatta rela hidup dalam serba kesederhanaan. Padahal, sebagai orang nomor dua di Republik, Hatta bisa saja mempergunakan segala hal yang milik negara. Tapi, itu bukan Hatta. Hatta adalah seseorang yang menggunakan segala macam hal yang telah Ia usahakan. Hatta tidak menggunakan uang negara setelah Ia pensiun. Dan banyak lagi contoh kesederhanaan Hatta.

Indonesia kini telah kehilangannya. Hatta yang kita cintai. Hatta yang berjuang tanpa kenal lelah untuk melepaskan beban rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Semoga Allah memberikan tempat yang seluasnya-luasnya untuk Hatta, lebih luas dari pengetahuan Hatta. Semoga rakyat Indonesia yang ditinggalkan banyak mengambil hikmah dari perjalanan hidup Bung Hatta. We love you!

AGUNG GUNAWAN SUTRISNA

No Responses

Tinggalkan Balasan