Putu Wijaya dan Dunia Kesenian

Putu Wijaya (Tempo)

Putu Wijaya (Tempo)

“Dalam kesenian itu ada yang namanya harmoni, membentuk jiwa kita ideal. Kalau kita lihat di negara kita sejarah ini, manusia Indonesia yang dulu dikenal ramah, suka senyum, sekarang gampang sekali berkelahi karena jiwanya tidak laras harmoninya tidak dijaga.”

Itulah sepenggal keresahan yang diucapkan salah seorang seniman ternama, I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau yang biasa disapa Putu Wijaya pada Jumpa, 26 Maret lalu. Saat itu ia diundang menjadi pembicara dalam acara yang diselenggarakan Himpunan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Pasundan (Unpas).

Kecintaannya pada dunia seni telah terlihat sejak ia baru duduk di bangku SD. Saat itu, ia gemar sekali membaca berbagai macam buku, seperti buku karangan Karl May, Roman Picisan, dan lain sebagainya.

Bagi Putu, seni merupakan salah satu alat untuk mencurahkan makna agar bisa ditumpahkan kepada manusia lain secara tuntas, “Kesenian sebetulnya penting sekali untuk pendidikan batin dalam menemukan jati diri,” tuturnya. Namun menurutnya, kesenian yang ada sekarang hanya mementingkan unsur hiburan tanpa ada kontribusi untuk pendidikan bagi konsumennya. Seperti yang disajikan di pertelevisian kita hanya mencari untung, tidak pernah berusaha untuk untung dan tidak pernah berusaha untuk memelihara budaya, apa lagi memelihara budaya, apa lagi memelihara moral bangsa, “Ya, karena manajer-manajernya mencari untung saja,” tegasnya. Padahal kita tahu bahwa kesenian itu sangat gampang dinikmati masyarakat, itu artinya gampang sekali melakukan proses internalisasi nilai melalui kesenian.

Melihat keadaan pertelevisian dan proses kesenian yang disajikan dalam serial-serial TV mulai tak tentu arah. Putu bersama beberapa rekannya seperti Didi Petet, bermaksud membuat serial TV yang tidak hanya mementingkan unsur komersial saja, tapi juga nilai-nilai yang mendidik.

Seperti Film Televisi (FTV) yang baru saja dirampungkan berjudul kampus bukan kuburan. “Ya kan selama ini kampus dipakai sebagai tempat berkubur orang-orang, diam aja di sana nggak pergi-pergi, jadinya kampus seperti kuburan. Padahal nggak seperti itu,” ungkap Putu yang mempunyai ciri khas selalu memakai pet putih di kepalanya.

Selain itu, pria yang lahir di Puri Anom Tabanan Bali 64 tahun yang lalu ini juga mengkonsentrasikan penyebaran misi keseniannya kepada siswa-siswa SMU. Dalam Siswa Bertanya Sastrawan Bicara (SBSB), program tersebut Putu bekerjasama dengan Majalah Horison. Ia dan beberapa sastrawan mengunjungi SMA-SMA untuk melihat apresiasi seni dari para siswa serta berdialog langsung dengan mereka. Program ini sudah berjalan selama lima tahun dan sekarang menjadi program Dinas Pendidikan Nasional.

Kegiatan SBSB dibuat tidak lain untuk menarik minat siswa terhadap seni dan sastra, “Karena selama ini disinyalir para pelajar-pelajar di Indonesia sangat kurang minat bacanya karena menganggap pelajaran sastra itu tidak ada gunanya ,” tuturnya lirih. “Makanya saya mengajak sesuatu ilmu yang dipelajari bukan ilmu yang biasa saja,” tambahnya.

Berbicara tentang sastra dengan Putu Wijaya sangatlah menyenangkan. Sikapnya yang ramah membuat orang nyaman untuk mendengarkan lebih jauh pengalaman-pengalamannya.

Berbagai kegiatan seni telah ia ikuti. Drama perpisahan SMA, itulah pertama kalinya kegiatan seni diikutinya. Setelah lulus SMA ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada dan berhasil meraih gelar Sarjana Hukum pada tahun 1969. Karena semangatnya dalam seni begitu besar, Putu sempat mempelajari seni lukis, seni drama, dan film di sekolah yang berbeda.

Hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan berkesenian. Ia juga mengikuti Festival Teater sedunia di Nancy, Prancis pada 1974, Festival Horizonte di Jerman, dan ia juga membawa teater mandiri yang didirikannya pada 1971 berkeliling Amerika dan sempat tampil dalam pementasan drama di Yei, Jepang.

Putu memang seniman yang produktif, dengan semua kesibukannya ia sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar 1.000 cerpen, berbagai artikel di media massa dan ratusan kritik seni.

Begitu berartinya kesenian bagi Putu Wijaya sampai ia rela melepaskan karirnya selama 12 tahun sebagai wartawan, “Dalam kesenian saya dapat menemukan diri saya secara utuh, bukan menjadi mirip dengan orang lain dan ingin menjadi orang lain,” katanya dengan penuh keyakinan.

Putu bercerita pengalamannya dalam sebuah pertemuan yang menghadirkan sastrawan dan tokoh-tokoh di Indonesia, “Ketika sedang berbincang, seorang kawan saya mengatakan kalau gaya saya mirip dengan Goenawan Muhamad. Saya berpikir, saya ingin menjadi diri sendiri bukan mirip orang lain,” kisahnya. Bukanlah sebuah keegoisan bagi Putu yang menginginkan dirinya berbeda dengan orang lain. Namun dengan menjadi diri sendiri lah menghasilkan karya-karya yang indah dan orisinil, dan dalam kesenianlah ia dapat menemukan identitasnya.

Triani Agustine
Penulis adalah anggota LPM Jumpa Unpas
Tulisan dimuat di Tabloid Jumpa edisi 32

 

 

No Responses

Tinggalkan Balasan