Cerita Tiga Ruangan dalam Selasar Sunaryo

image_5f5cfb7

Penampakan salah satu karya seni Sunaryo yang bertajuk Taman Batu dan Mandala menghiasi pintu masuk Selasar Sunaryo pada 25 Januari 2017. Melalui karya seni ini, Sunaryo menyampaikan sifat alam yang dinamis dan ilmu pengetahuan manusia seharusnya menghasilkan harmoni dan keindahan. (Gita Gisela / JUMPAONLINE)

Semilir angin langsung menyambut seiring kaki menapaki Bukit Pakar Timur, Bandung. Ya, hawa sejuk terasa pas bagi orang-orang yang terjebak dalam hiruk-pikuk kota. Sebuah tembok bata berukuran besar tampak menyita perhatian pengunjung. Selasar Sunaryo Art Space, begitu nama yang terpampang.

Bagi anda yang ingin menikmati waktu libur sekaligus penikmat seni, Selasar Sunaryo merupakan tempat yang cocok. Selasar sunaryo sendiri dimiliki oleh seniman bernama Sunaryo. Sesuai kata ‘Selasar’, galeri ini bertempat di ruang terbuka yang menyatu dengan alam. Pasalnya, Selasar Sunaryo menampilkan sepilihan patung dan instalasi asli maupun reka ulang.

Pada project kali ini, Selasar Sunaryo mengusung tema “Menengok Langkah” dalam bentuk patung dan instalasi. Material ini kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya yang menceritakan sebuah langkah Sunaryo dalam membuat Museum Wot Batu. Isu ini pun tidak hanya terdapat dalam satu ruang, melainkan tiga ruang dengan karya seni yang berbeda sehingga menghasilkan cerita yang saling berhubungan.

“Tema Menengok Langkah ini sekaligus kita flashback ke awal Pak Sunaryo membuat sebuah museum. Karena semua karya yang ada di sini berhubungan dengan Museum Wot Batu yang ada di depan,” ucap Nisa Nurjannah yang merupakan Front Office atau Exhibition Guide.

Pada ruang pertama, terdapat karya seni yang mewakili keresahan Sunaryo terhadap kondisi sosial, politik, kebudayaan, dan kehidupan pada masa awal reformasi. Dari kondisi sosial dan politik tersebut kemudian beliau tumpahkan ke dalam bentuk karya yang masing-masing memiliki tema. Seperti, Titik Gamang, Puisi Titik Putih, dan Titik Nadir. Karya seni yang ditampilkan dari ketiga judul tersebut berupa video dan foto dokumentasi. Masing-masing dokumentasi menceritakan tentang proses pembuatan karya seni instalasi hingga saat pameran berlangsung pada tahun 1998 sampai 2003.

Ada pun sebuah karya yang menggambarkan keprihatinannya mengenai kebudayaan di Indonesia yang diberi judul Semedi Ning Jenar. Pasalnya, Sunaryo begitu prihatin dengan Candi Plaosan beserta dongeng di baliknya. Menurutnya, banyak orang yang mengetahui Candi Borobudur dan Candi Prambanan, tapi tidak dengan Candi Plaosan. Sama seperti tiga judul sebelumnya, Sunaryo juga membuat sebuah karya seni instalasi yang berupa bambu-bambu berhiaskan bendera merah yang ditancapkan di tanah Candi Plaosan. Hal ini bertujuan untuk menghidupkan kembali tanah Ramayana. Karyanya tersebut pun dijadikan sebagai suatu kerjasama dalam penggarapan film yang berjudul “Opera Jawa” bersama sutradara Berry Nugraha.

Setelah merespon ke sisi sosial dan politik, Sunaryo akhirnya beralih merespon kondisi Alam dan Lingkungan. Menurut Nisa, saat itu Sunaryo prihatin dengan keadaan alam di Indonesia. Hal ini pun mendorongnya untuk membuat sebuah karya seni instalasi yang berupa sebuah beton terkubur di dalam sebuah kayu jati. Dari karyanya tersebut menggambarkan bahwa alam telah berubah menjadi infrastruktur. Karya seni ini pun kemudian menjadi sambungan pada ruang kedua yang menyajikan penggambaran terjadinya kekeringan dan lumpur lapindo.

Selain instalasi patung dan dokumentasi, Sunaryo juga membuat karya berupa bebatuan yang dipahat. Awalnya, seusai Titik Nadir yang dipamerkan pada tahun 1998, beliau merasa buntu dan enggan untuk membuat lukisan. Ia juga merasa resah karena ketakutannya akan kekosongan galeri di tahun yang akan mendatang. Akhirnya, ia pun mengumpulkan batu-batu kali yang lalu dilempar dan dicacahnya sehingga terbentuklah karya seni. Karya seni bebatuan yang dipahatnya pun kemudian semakin banyak, sehingga menjadi bahan koleksi yang disimpan di Wot Batu. Tapi tenang saja, sebagian dari koleksi bebatuan ini dapat ditemukan di ruang ketiga di Selasar Sunaryo.

“Unik sama menarik sih dapet banget buat edukasi. Tapi, saran aku sih agak diperluas aja biar karya-karyanya juga ditambah lagi,” ucap Mila Budianti salah satu pengunjung.

Galeri ini bisa ditemukan di Bukit Pakar Timur No.100. Untuk masuk ke galeri ini, anda tidak perlu khawatir untuk mengocek harga alias gratis. Galeri ini buka setiap hari Selasa sampai dengan Minggu pukul 10.00 – 17.00 WIB.

GITA GISELA

Anggota Muda LPM Jumpa

No Responses

Tinggalkan Balasan