Cerita di Balik Suara

 

(www.sorgemagz.com)

(www.sorgemagz.com)

Bandung, Jumpaonline – “Dengarkah? Jantungku menyerah, terbelah di tanah yang merah,”

Itulah salah satu petikan lagu dari band Efek Rumah Kaca yang kini telah bertransformasi menjadi Pandai Besi. Lagu Hujan Jangan Marah mengawali pertunjukan screening Siar, Daur, Baur pada 25 Januari lalu.

Acara tersebut merupakan format sosialisasi transformasi Efek Rumah Kaca menjadi Pandai Besi, melalui pemutaran film dokumenter. Film tersebut mengisahkan proses rekaman aransemen ulang lagu Efek Rumah Kaca oleh Pandai Besi di Lokananta, studio rekaman pertama di Indonesia.

Efek Rumah Kaca berdiri pada tahun 2001. Awalnya hanya Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass), dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar). Kini, grup musik tersebut memiliki tambahan personel. Ada Airil ‘Poppie’ Nurabadiansyah (bass), Andi ‘Hans’ Sabarudin (gitar), Muhammad Asranur (piano), Agustinus Panji Mahardika (terompet), Nastasha Abigail, dan Dika (vokal latar). Konsep baru ini mereka namakan Pandai Besi.

Konser baru dimulai pukul lima sore. Tapi antrean ratusan manusia sudah memadati gedung Institut Francais Indonesia (IFI) dua jam sebelumnya. Kepadatan itu terlihat dari banyaknya kendaraan yang diparkir hingga ke jalan.

Begitu pintu dibuka, sekejap saja 300 kursi di dalamnya terisi penuh. Suasana hening, lampu ruangan dimatikan.

Film dokumenter karya Dana Putra yang berdurasi 90 menit itu dibuka dengan persiapan Pandai Besi sebelum proses rekaman di Lokananta. Menariknya, para musisi ini menjalani proses rekaman dengan konsep konser mini. Meski tidak ada penonton, mereka memperhitungkan benar tata cahaya di ruangan agar terlihat meriah di videonya.

Perbedaan Efek Rumah Kaca dengan Pandai Besi langsung terasa di pembukaan film. Musik yang biasanya ‘miskin’ instrumen terdengar lebih riuh dengan kehadiran piano dan terompet. Penonton pun terdiam seakan berupaya menikmati suara-suara ‘baru’ itu.  

 

Ada tujuh lagu yang dibawakan oleh Pandai Besi. Diawali dengan lagu Hujan Jangan marah, Desember, Jangan Bakar Buku, Debu-debu Berterbangan, Jalang, Menjadi Indonesia dan ditutup dengan lagu Laki-Laki Pemalu.

Semua lagu itu ada di dua album terakhir Efek Rumah Kaca yang seluruhnya telah diaransemen ulang. Hal yang menarik dari transformasi Efek Rumah Kaca ini adalah tidak ada satupun yang terbuang. Artinya selama proses rekaman dan pembuatan film dokumenter ini tidak ada barang yang tidak diabadikan. Bahkan, kostum yang mereka gunakan saat rekaman digunting menjadi serpihan-serpihan kecil lalu digabungkan dengan cakram padat album mereka lengkap dengan merchandise seperti kaos dan tas jinjing yang diperjualbelikan.

Kesuksesan Pandai Besi memang tidak terlepas dari nama Efek Rumah Kaca, transformasi grup musik tersebut malah menambah jumlah penggemar dari Pandai Besi sendiri. Penggemar Efek Rumah Kaca tidak merasa kehilangan idola mereka dengan adanya perubahan nama, aransemen, bahkan personel. Hal tersebut diungkapkan oleh Akbar yang saat itu menyempatkan hadir untuk berdiskusi dengan penonton.

Tidak terasa 90 menit berlalu pertunjukan telah usai, di akhir acara diputar video klip Laki-Laki Pemalu yang mengundang sorak sorai penonton. Mereka puas mentertawakan Cholil Mahmud, sang vokalis Pandai Besi yang menjadi model video tersebut. Di sana terlihat ia memerankan balerina dengan wajah khasnya yang dingin. Tepuk tangan pun bersautan, menandakan bahwa pertunjukan telah selesai.

MUTIA NURFITRIANA

No Responses

Tinggalkan Balasan