Berkenalan dengan Sains dan Sundial di Kota Baru

 

image_37e8967

Jam Matahari (sundial) terlihat dari samping pada Rabu, 25 Januari 2017. Bangunan karya anak bangsa ini menjadi ikon Kota Baru Parahyangan di kawasan Bandung Barat. Menawarkan rekreasi berwawasan sains sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat. (Durrotul Istiqomah/JUMPAONLINE)

Kereta melaju tepat pukul 10.14 WIB, terdengar derak kerikil yang dilindas roda-roda kereta seiring dengan semakin menjauhnya Stasiun Bandung di bekalang kami.  Di balik jendela, langit berwarna biru marine dengan awan yang bertebaran dan cahaya matahari yang menyusup melewati jendela, ini pasti akan menjadi hari yang sangat menyenangkan. Hanya dengan biaya Rp. 4000 untuk membeli tiket kami sudah bisa melakukan perjalanan ke Padalarang dengan menggunakan KA Bandung Raya dari keberangkatan lokal. Tidak seperti dahulu, kini kereta lokal sudah mempunyai fasilitas yang mumpuni. Di setiap gerbong sudah dilengkapi dengan air conditioner, konfigurasi kursi yang lebih tertata, terminal listrik, kebersihan yang selalu dijaga, dan lebih penting sudah tak ada lagi pedagang asongan yang riuh memenuhi gerbong kereta.

Ciroyom, Cimindi, Cimahi, Gadobangkong, kami lewati untuk sampai di Stasiun Padalarang tepat pukul 10.50 WIB. Sesampainya di sana kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot berwarna hijau jurusan Leuwi Panjang-Cimahi yang dicapai setelah berjalan selama beberapa waktu dari Stasiun Padalarang. Ongkosnya hanya Rp.2000 dan kami sudah berada tepat di depan gerbang utama Kota Baru Parahyangan. Tujuan kami tentu saja untuk mengunjungi ikon khas dari komplek ini. Yap, jam matahari yang merupakan jam matahari horisontal terbesar di Indonesia. Untuk mencapainya kami harus berjalan kaki selama beberapa menit dari gerbang utama.

Begitu sampai di sana, kami disambut dengan kemegahan jam matahari yang sekilas mirip dengan anjungan kapal. Di depannya terpampang tulisan PUSPA IPTEK yang merupakan pintu masuknya. Tiket seharga Rp.20.000 dan kami sudah bisa mejelajah setiap sudut dari sundial tersebut ditambah dengan gratis masuk ke Puspa Agro Wisata. Tidak banyak pengunjung yang ada ketika kami hadir, sehingga suasana terlihat lebih sengang dan tenang.

Pengunjung tidak hanya menikmati kemegahan jam matahari saja. Di bawah jam matahari tersebut ada ruangan yang merupakan museum sains. Menghadirkan berbagai alat peraga yang menjelaskan setiap prinsip-prinsip dari fisika, kimia, maupun matematika untuk lebih memperkenalkannya kepada pelajar dan masyarakat umum. Ditemani oleh seorang guide bernama Arif, kami diberi penjelasan secara terperinci untuk setiap alat peraga tersebut. Ada yang menarik, yaitu sepeda gantung yang berada di lantai 2. Jika ingin menikmati sepeda tersebut pengunjung harus mempunyai berat badan kurang dari 60 Kg dan tinggi tidak lebih dari 175 cm. Salah satu dari kami tertantang untuk mencoba sepeda tersebut, dengan dilengkapi berbagai perangkat safety dia mencoba mengayuh sepeda di atas ketinggian beberapa meter dari lantai dasar. Katanya setelah mencoba sepeda tersebut, cukup menegangkan sekaligus menyenangkan.

Kami beranjak dari lantai 2 yang menghadirkan alat-alat peraga matematika menuju ke lantai yang lebih atas lagi. Beberapa undakan tangga kami naiki hingga akhirnya sampailah di anjungan jam matahari. Dari tempat itu kami bisa melihat dengan lebih gamblang sundial horisontal. Terdiri dari beberapa garis yang mempunyai fungsinya masing-masing. Garis vertikal menandakan waktu dan garis horisontal menandakan penanggalan. Sekilas dari atas anjungan tersebut kami bisa melihat bayang-bayang yang menunjukan waktu, sudah sekitar pukul 12. 30 WIB. Desain jam matahari ini dirancang oleh anak bangsa, berasal dari Astronomi ITB dan diresmikan oleh Menristek Hatta Rajasa pada tanggal 11 Mei 2002. Disamping jam matahari horisontal terdapat pula jam matahari vertikal yang berada di depan dekat pembelian tiket.

Pengunjung bersasal dari berbagi kalangan. Pada hari-hari biasa didominasi oleh pelajar mulai dari tingkatan TK hingga kuliah dan pada akhir pekan didominasi oleh keluarga untuk menikmati akhir pekannya. Pengelola tempat ini menawarkan kompetisi roket air tingkat nasional yang rutin digelar setiap tahunnya. Untuk rencana kedepannya ada penambahan alat peraga, begitu ucap Arif saat ditanya disela-sela kesibukanya menuntun kami.

Hampir pukul 13.30 WIB kami bertolak dari Puspa Iptek manuju Puspa Agro yang berada di seberangnya. Pengunjung tidak lagi dikenakan biaya masuk tetapi kekecewaan sempat hinggap sebab ekspektasi kami jauh dari realita. Hanya ada beberapa permainan yang berfungsi seperti ayunan berbandul, selebihnya tempat tersebut masih berupa lahan kosong. Ketika ditanya kepada penjaga di sana, Puspa Agro memang masih dalam tahap pengembangan sehingga belum banyak fasilitas yang tersedia dan rencanya 3-4 bulan kedepan sudah rampung sehingga bisa jadikan objek wisata. Untuk mengobati kekecewaan, kami akhirnya beranjak ke bukit teletubies yang berada di sampingnya, disana kami mengabadikan momen bersama.

Di atas kami awan kelabu menggelayut pertanda akan segera hujan, angin pun rasanya sudah tak bersahabat bahkan suara gemerisik dedaunan seperti memberi isyarat untuk segera beranjak. Setelah menghiraukan selama beberapa saat, titik-titik air pun jatuh ke bumi. Kami beranjak saat itu juga, kali ini kami putuskan untuk pulang menggunakan Damri jurusan Alun-alun – Kota Baru, dengan ongkos Rp.7000 kaki kami sudah bisa kembali ke Bandung. Pada pukul 14.00 kami beranjak meninggalkan tempat tersebut dan membiarkan hujan menyapu jejak kami.

MIKYAL AMAENI

Anggota Muda LPM Jumpa

No Responses

Tinggalkan Balasan