Tukar Pikiran Lewat Malam Perjamuan Ide

Shofwan Alfirobby (memegang pengeras suara) sedang memaparkan isu yang dibahasnya mengenai permasalahan gender dan hak asasi manusia dalam acara Malam Perjamuan Ide yang dihelat di Auditorium Institut Francais Indonesia pada Kamis, 31 Januari 2019. (Devi Aryanti/JUMPAONLINE)

Bandung, Jumpaonline – Institut Francais Indonesia (IFI) gelar La Nuit des Idees atau Malam Perjamuan Ide dengan tajuk, Apa Yang Kita Nantikan? pada Kamis, 31 Januari 2019. Kegiatan tahunan tersebut ditujukan sebagai sarana bertukar pikiran dengan menghadirkan empat pembicara yang berasal dari kategori seni, sosial, lingkungan, dan toleransi.

Wawan Gunawan, pembicara dari Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub) menghadirkan pandangan baru tentang toleransi antar umat beragama. Ia menyoroti pemikiran yang tidak adil dalam beragama.

Sebagai contoh, Ia memaparkan peraturan perundang-undangan yang diskriminatif, terutama di daerah Jawa Barat. Menurutnya orang selalu bertanya perizinan gereja tapi tidak pernah ada yang mempertanyakan perizinan masjid.

Sementara Shofwan Alfirobby, pembicara dari Padjajaran Resource Center on Gender and Human Rights Studies (PadGHRS), mengangkat isu gender dan hak asasi manusia di Indonesia sebagai sub-tema diskusi tersebut. Shofwan mengatakan apa yang membatasi kita adalah ketidaktahuan, karena kita tidak mengerti dan tidak ingin memahami.

Rendy Aditya, pengaggas Parongpong Recycle & Waste Managemen, membahas pola hidup masyarakat Indonesia dalam mengelola sampahnya. Hal ini berangkat dari keresahan terhadap masalah lingkungan, terutama yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya.

Rendy berharap melakukan hal-hal baik menjadi normal, seperti menghargai, dan kita bisa menghilangkan hal-hal yang sekarang normal tapi tidak baik, ucapnya pada closing statement diskusi tersebut.

Emil, pengunjung diskusi tersebut menambahkan, saat ini masyarakat Indonesia masih terbelenggu pemikiran patriarki, baik itu dari sisi agama maupun tatanan sosial.

“Saya berharap pemikiran patriarki ini bisa hilang, karena ini tidak hanya persoalan agama, tapi persoalan keadilan,” pungkasnya.

ANGGA PERMANA SAPUTRA

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

No Responses

Tinggalkan Balasan