Rezim Assad, Akar Konflik Suriah dari Perspektif Para Ahli

Potret Presiden Suriah, Bashar al-Assad. (The Guardian)

Potret Presiden Suriah, Bashar al-Assad. (The Guardian)

Lengkong, Jumpaonline – Sistem politik otoriter rezim Assad mengakibatkan konflik berkepanjangan di Suriah. Muhammad Fakhri Ghafur, Peneliti Bidang Perkembangan Politik Internasional LIPI mengatakan diskriminasi terhadap kaum mayoritas muslim menimbulkan benih perlawanan rakyat.

“Sirkulasi politik yang tidak baik, seperti partai politik dilarang dan pemilu hanya sebagai formalitas memunculkan protes,” tutur Muhammad saat mengisi materi di Seminar kampus FISIP Unpas.

Lebih lanjut, Muhammad mengatakan bahwa konflik kian memuncak ketika Arab Spring semakin menjadi-jadi di Timur Tengah. Tak jauh berbeda dengan Muhammad, Miftah Wangsadanureja, Pemimpin Redaksi Radio FajriFM juga mengatakan hal serupa.

Miftah menuturkan masyarakat Suriah mendapatkan tekanan yang luar biasa dari pemerintah sejak Hafidz Al-Assad berkuasa yang kemudian digantikan oleh anaknya. Bashar Al-Assad merupakan Presiden Suriah ke-10 yang berkuasa hampir lima dekade.

“Tujuannya agar Dinasti Assad tetap bercokol di Suriah dan bercita-cita menguasai jazirah Arab,” kata Miftah, salah satu pembicara seminar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional di aula Unpas Lengkong, Kamis, 13 Maret 2014.

Selain itu, Miftah juga berani menarik kesimpulan bahwa Bashar bukan merupakan seorang muslim. “Membunuh rakyat dengan membabibuta bukanlah yang diajarkan Islam. Islam adalah agama kasih sayang,” ujar penulis buku-buku islami itu.

Tragedi Suriah merupakan tragedi dunia. Yayan G.H. Mulyana, Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional, juga hadir sebagai pembicara dalam seminar yang bertema ‘Peran dan Perspektif Pemerintah Indonesia Terhadap Konflik Suriah’.

SASTIKA DEWI KABALMAY

No Responses

Tinggalkan Balasan