Pernyataan Sikap Solidaritas Ikatan Mahasiswa Se-Tanah Papua (Imasepa) Bandung

Para peserta aksi memegang tuntutan untuk aksi solidaritas mengecam tindakan diskriminasi rasial terhadap mahasiswa papua di Malang dan penangkapan paksa di kota Surabaya pada Senin, 19 Agustus 2019 di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat. (Angga Permana Saputra/JUMPAONLINE)

Mengecam tindakan diskriminasi rasial terhadap mahasiswa Papua di kota Malang dan penangkapan paksa mahasiswa Papua di kota Surabaya.

Persoalan diskriminasi rasial terhadap mahasiswa Papua di kota Malang dan Surabaya berupa sikap represif yang dilakukan instansi Aparat TNI/POLRI dan ORMAS REAKSIONER terhadapa Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dalam aksi demonstrasi damai di depan Bank BCA, Jalan Basuki Rachman, Kamis, 15 Agustus 2019, dan pengepungan Asrama Mahasiswa Papua Surabaya pada 16 – 17 Agustus 2019 selama kurang lebih dari 24 jam. Dengan adanya peristiwa, korban luka berat sebanyak 19 orang dan 4 orang luka ringan hingga harus dirawat di rumah sakit sementara Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya hingga walikota malang angkat suara mengeluarkan wacana untuk pemulangan mahasiswa Papua di Malang khusus untuk tergabung dalam aksi demostrasi damai sesuai yang lansir oleh media lokal Malang Times. Jumat, 16 agustus 2019, pukul 15.30, ormas reaksioner TNI, Polisi, dan POL PP mengepung Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya yang berujung pada penangkapan 42 mahasiswa Papua secara brutal oleh aparat gabungan dan ormas reaksioner, Sabtu, 17 agustus 2019. Akibatnya 4 orang luka-luka dan ditahan di Markas Polisi Resor Kota (Mapolresta) Surabaya.

Dengan melihat realitas penindasan, diskriminasi rasialis, dan pembungkaman ruang demokrasi terhadap mahasiswa Papua, kami Solidaritas Ikatan Mahasiswa Papua Se-Jawa Dan Bali mengecam dan menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Mengecam keras tindakan represif yang dilakukan pihak kepolisian terhadap demonstran.
  2. Mengganggap kepolisian Malang dan Surabaya gagal dalam melaksanaka aturan yang telah ditetapkan, yakni peraturan Kapolri No. 16 Tahun 2006.
  3. Menuntut kepolisan Malang dan Surabaya bertanggungjawab penuh atas keamanan dan kenyamanan kondisi psikis korban.
  4. Menuntut Kapolda Jawa Timur untuk meminta maaf kepada mahasiswa Papua yang telah mengalami luka berat.
  5. Walikota Malang segera cabut dan meminta maaf atas pernyataan sikap berupa wacana untuk pemulangan mahasiswa Papua, kota studi Malang.
  6. Bebaskan 42 mahasiswa di Polrestabes Surabaya.
  7. Mengutuk pelaku pengepungan Asrama Mahasiswa Papua Surabaya.
  8. Tangkap dan adili pelaku pengepungan Asrama Mahasiswa Papua Surabaya.
  9. Polri Surabaya dan pemerintah daerah Surabaya bertanggungjawab atas pembiaran terhadap kelompok reaksioner (TNI, POL PP, ORMAS) yang dalam sewenang-wenang mengepung Asrama Mahasiswa Papua.
  10. Hentikan rasisme, manusia Papua bukan monyet.
  11. Tangkap dan adili pelaku pemberangusan ruang demokrasi di Surabaya, yang mengakibatkan 5 orang terluka berat dan belasan lainnya luka-luka ringan.
  12. Usir mahasiswa Papua dari luar Papua, sama halnya usir Indonesia dari Papua.
  13. Mahasiswa Papua akan pulang jika, dan hanya jika, Papua diberikan hak penentuan nasib sendiri.
  14. Untuk mengakhiri rasisme, yang adalah anak kandung dari imperialisme yang mengkoloni West Papua, segera lakuka referendum di tanah West Papua untuk menentukan nasibnya sendiri oleh rakyat Papua.

Demikian pernyataan sikap ini, atas perhatian dan dukungan seluruh pihak yang peduli terhadap HAM dan demokrasi bagi mahasiswa Papua, kami ucapkan terima kasih.

Bandung, 19 Agustus 2019

 

SOLIDARITAS IKATAN MAHASISWA SE-TANAH PAPUA (IMASEPA) BANDUNG JAWA BARAT

No Responses

Tinggalkan Balasan