Tuangkan Kegelisahan Lingkungan Dengan Peserta Didik Rumah Belajar Semi Palar

Salah satu kelompok yang sedang mempersentasikan hasil riset di dalam kelas Rumah Belajar Semi Palar pada 10 November 2019. (Indah Aulia Puspita/JUMPAONLINE)

Bandung, Jumpaonline – Di tengah ramainya isu lingkungan, peserta didik kelas 7 Rumah Belajar Semi Palar (RBSP) melakukan riset masalah lingkungan di kota Bandung. Mulai dari polusi udara, pencemaran air, perusakan fasilitas kota, hingga Ruang Terbuka Hijau (RTH). Riset dilakukan di daerah Bandung Kota, Timur, Utara, Selatan, dan Barat. Selama 1-2 bulan mereka menganalisis dan mengumpulkan data mulai dari masalah sampai ke solusi di tiap daerah yang terbagi. Pencarian data dilakukan dengan metode yang beragam seperti wawancara, pengisian kuisioner,dan menggunakan platform online lainya. Hasil riset dibuat ke dalam bentuk Infografis, lalu dipersentasikan oleh setiap kelompok. Persentasi diadakan dalam rangka evaluasi pembelajaraan satu semester. Di Rumah Belajar Semi Palar Bandung pada Senin, 10 Desember 2019.

Kelompok pertama mengusung masalah polusi udara daerah Bandung Utara. Mereka memaparkan persoalan utama di Bandung Utara adalah tingkat Udara yang buruk. Salah satunya disebabkan oleh tingginya kadar polusi dari kendaraan.  Berdasarkan data hasil riset mereka , sumber utama polusi udara dari banyaknya kendaraan pribadi yang menyebabkan kemacetan di daerah bandung utara terutama saat jam berangkat dan pulang kerja. Disaat jam-jam seperti itu tingkat polusi udara di Bandung Utara sangat krisis.

Setelah mengetahui masalah itu, mereka menyusun solusi dengan cara membuat gerakan menanam setiap dua bulan sekali. Jenis tanaman yang digunakan yaitu tanaman, Lili Paris, Pakis, dan Sirih Gading. Tanaman tersebut dipilih karena paling efektif untuk mengurangi kadar polusi udara dari kesekian tanaman lainya.

“Kita milih ketiga tanaman itu karena paling mudah di dapat sih, dibanding tanaman lainya di list tanaman yang dapat mengurangi polusi udara,” ujar Taka dari kelompok Bandung Utara.

Sungai Cilimus yang berada di kecamatan Sukajadi kota Bandung menjadi pembahasan dari kelompok kedua. Dari data yang mereka kumpulkan, sungai Cilimus menjadi urutan ke enam sungai yang tercemar dari sungai atau anak sungai di Bandung. Penyebabnya dari masyarakat sekitar yang sering membuang sampah di sana. Setelah mereka merumuskan masalah, tercetuslah 2 Solusi yang mereka paparkan untuk mengurangi pembuangan sampah ke sungai.

Pertama dengan cara membangun pagar di bantaran sungai, pagar dibangun setinggi 1 meter dengan bahan kawat Harmonika. Sedangkan solusi kedua menggunakan ide memasukan saringan sampah ke dalam sungai yang berfungsi sebagai penyaring sampah yang tertumpuk. Setelah itu disaring lagi oleh Water Filter guna memfilter partikel kotor yang terkandung di aliran sungai. Tetapi dengan catatan setiap 1-2 jam sekali sampah harus segera di pilah, supaya tidak terbendung dan terjadi banjir.

“Untuk solusi pertama cukup bagus, tapi masyarakat masih bisa nge-lempar sampahnya jadi harusnya ada petugas yang menjaga disana,” ucap Karrel dari kelompok kedua.

Selanjutnya kelompok ketiga membahas masalah vandalisme atau perusakan fasilitas yang ada di Bandung Selatan (Bansel). Mereka merumuskan masalah utama, ternyata 100% RTH di Bansel terkena perkara vandalisme dari pencoretan sampai perusakan fasilitas kota. Padahal setiap RTH di Bansel sudah terpasang cctv, tetapi tetap saja dirusak.

Dari riset tersebut, mereka menawarkan beberapa solusi untuk mencegah masyarakat melakukan tindak vandalisme. Dengan beberapa tahapan seperti membuat poster akan sanksi vandalisme lalu dipublikasikan ke sosial media dan ditempel dekat lingkungan masyarakat di sana. Juga memberi penyuluhan edukasi tentang vandalisme.

“Banyak masyarakat di sana terutama remaja yang suka coret-coret dan rusakin fasilitas kota di Bansel, jadi perlu di kasih sanksi dan pengawasan sama kesadaran dari masyarakat yang tinggal”, tambah Eizar dari kelompok ketiga

Berikutnya kelompok keempat membahas kurangnya RTH taman di Kecamatan Cinambo, Bandung Timur. , kecamatan Cinambo memiliki RTH, paling sedikit di antara kecamatan Bandung Timur lainya, jumlahnya hanya 5 saja. Padahal tercatat ada sekitar 156 RTH di Bandung Timur. Kecamatan Panyileukan memiliki RTH paling banyak berjumlah 53. Setelah melihat masalah itu, mereka berinisatif memberikan solusi membuat seed bomb atau bom benih. Seed bomb merupakan teknik untuk memunculkan vegetasi dengan menaruh bola berisi benih tanaman.

“Sebelum digunakan, basahi seed bomb dengan sedikit air. Padatkan seed bomb dengan tangar agar lebih padat. Pilihlah tempat yang mau ditanam, kemudian lempar atau letakan seed bomb ke tempat yang dipilih,” kata Sydney dari kelompok keempat.

Presentasi ditutup oleh kelompok kelima yang membahas kondisi air di Bandung Kota. Berdasarkan riset yang mereka lakukan rata-rata kadar air di Bandung Kota lumayan bersih, namun beberapa sungai cukup kotor dan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung menghadapi masalah krisis air bersih. Hal itu disebabkan oleh limbah rumah tangga, limbah industri, dan sampah organik berlebihan.

Mereka merangkum solusi dengan membuat penyaring air khusus untuk menyaring pH atau derajat keasaman dengan memasukan beberapa bahan seperti pasir guna mengurangi kandungan lumpur dan bahan padat, arang untuk menyerap bahan kimia dan mikroorganisme, ijuk sebagai media pengendap, batu kerikil sebagai penyaring aerosi oksigen, dan sabut kelapa untuk menyaring kotoran.

“Penyaring yang kita buat bisa untuk menyaring, tapi kalau skala besar harus membutuhkan waktu yang cukup lama, karena kecil alat nya,” tambah Kinan dari kelompok kelima.

 

MUHAMMAD RIZALDI NUGRAHA

No Responses

Tinggalkan Balasan