Belajar dan Berkarya di Rumah Mimpi

 

Kegiatan belajar Komunitas Rumah Mimpi di Jembatan Penyebrangan Orang, Jl. Asia Afrika, Bandung. Agung Gunawan Sutrisna/JUMPAONLINE

Kegiatan belajar Komunitas Rumah Mimpi di Jembatan Penyebrangan Orang, Jl. Asia Afrika, Bandung. Agung Gunawan Sutrisna/JUMPAONLINE

Siapapun berhak untuk belajar, baik formal dan non formal karena pendidikan adalah hal yang penting bagi kehidupan manusia. Namun mendapatkan pendidikan yang layak tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan layak karena kesulitan membeli buku, atau karena biaya pendidikan yang mahal, khususnya bagi anak-anak kurang mampu, seperti anak-anak jalanan. Dengan semangat kekeluargaan dan merasa adanya panggilan jiwa, maka Yusuf Yudha Erlangga, mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (Unikom) jurusan Informatika angkatan 2008 serta teman-temannya membangun sebuah komunitas peduli pendidikan untuk anak-anak jalanan yang diberi nama Rumah Mimpi.

Bekerja sama dengan Seniman Bangun Pagi, awal berdirinya Rumah Mimpi bertempat di Monumen Perjuangan pada bulan Mei 2011. Anak-anak yang pertama kali belajar di Rumah Mimpi adalah anak-anak jalanan dari Leuwi Panjang yang tengah belajar musik pada Seniman Bangun Pagi.

Namun sayang, hanya beberapa bulan mereka belajar di sana, tidak lama kemudian mereka tergusur dari tempat sederhana yang berupa saung-saung di Monumen Perjuangan, tepatnya pada bulan September. Setelah pindah di Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) yang belajar di Rumah Mimpi bertambah, yaitu anak-anak jalanan yang mengamen di sekitar Mesjid Raya Bandung.

Dengan keinginan belajar yang masih tinggi akhirnya mereka mencari tempat alternatif dan akhirnya sebuah tempat JPO di jalan Asia Afrika, sekarang mereka gunakan untuk belajar.

Pengennya di tanah sebelah sih, dibuat saung-saung seperti di Monumen Perjuangan, namun perizinannya sulit,” kata Yusuf sambil menunjuk lahan kosong sebelah JPO.

Dengan fasilitas seadanya namun semangat yang tinggi Rumah Mimpi terus memacu anak-anak jalanan untuk belajar berbagi dan berkarya, seperti itulah konsep Rumah Mimpi. Kegiatan belajar mengajar berlangsung setiap hari Senin dan Kamis. Untuk materi belajar mereka disesuaikan dengan umur, mereka biasa belajar dari jam empat sore hingga jam enam, namun untuk hari Senin, mereka belajar dari jam satu siang bagi anak-anak yang masih kecil, dan sore bagi yang sudah besar.

Para pengajar Rumah Mimpi ada sepuluh orang yang yang berasal dari mahasiswa dari latar belakang yang berbeda, ada mahasiswa Unpad, Unpas dan Unikom. Konsep yang diterapkan dalam Rumah Mimpi yaitu belajar, berkarya dan berbagi. Di Rumah Mimpi mereka ditekankan belajar agar yang tadinya mereka tidak bisa kemudian menjadi bisa. Setelah bisa mereka harus berkarya dan bisa berbagi kepada teman-temannya.

“Mereka tidak bisa belajar, mereka bisa berkarya, kemudian setelah berkarya mereka harus bisa berbagi,” tutur Yusuf.

Namun karena alasan ekonomi ada sebagian anak yang tidak melanjutkan belajar di Rumah Mimpi, mereka lebih memilih kembali menjadi pengamen di jalan.

Belajar dari Keterbatasan 

Hanya menggunakan White Board (papan tulis) mereka belajar berhitung, menulis, menggambar dan membaca, tanpa alas duduk. Padahal tempat itu kotor dan berdebu, serta sekali-kali tercium bau tidak sedap, suara bising kendaraan dan dinding yang tercoret-coret. Tidak ada kursi ataupun meja, apalagi lemari penyimpan buku-buku. Buku-buku yang mereka gunakan pun seadanya. Tidak ada peta untuk belajar Geografi, untuk mengenal wilayah Indonesia mereka memfotokopi peta kecil tanpa warna.

Walaupun semuanya serba kekurangan, namun semangat belajar terpancar dari wajah anak-anak jalanan tersebut dengan semangat mereka menyalin peta Indonesia ke dalam buku tulisnya dan dengan senang hati mereka menunjukan peta yang mereka salin.

“Susah, gambarnya,” kata Amin, salah seorang murid di Rumah Mimpi.

Tingkah-tingkah nakal dari mereka dihadapi para pengajar Rumah Mimpi dengan sabar. Contohnya, saat mereka harus belajar IPS ada sebagian anak yang tidak suka dan mereka lebih asik belajar menghitung dan menggambar, namun dengan sabar para pengajar di Rumah Mimpi tersebut membujuk dan mengajari mereka.

“Kadang-kadang suka down, namun setelah melihat wajah mengertinya anak-anak jadi semangat lagi,” ujar Yusuf.

Tidak hanya itu, kesulitan lain dirasakan Rumah Mimpi setelah pindah dari Monumen Perjuangan mereka tidak mendapatkan akses listrik sehingga anak-anak jalanan tersebut tidak bisa belajar komputer.

“Gak ada listrik, anak-anak gak bisa belajar komputer,” kata Yusuf.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Yusuf dan kawan-kawan mengajak anak-anak jalanan yang sudah besar untuk belajar di Gedung Indonesia Menggugat (GIM).

“Yang udah dewasa sekarang pindah belajarnya di GIM, Senin sore, kalau yang masih kecil-kecil masih rawan kalau dibawa ke sana,” kata Yusuf.

Tidak hanya belajar menulis dan membaca, di Rumah Mimpi anak-anak jalanan tersebut dibekali keterampilan untuk bekal hidup mereka agar tidak di jalanan lagi dan mereka pun belajar memainkan alat-alat musik pada Seniman Bangun Pagi.

“Saya ingin mereka tidak di jalan lagi,” kata Yusuf.

Yusuf juga sangat menginginkan membawa mereka berjalan-jalan ke museum yang ada di Bandung, seperti museum Asia-Afrika, Geologi, dll.

Mencari Dana Sendiri 

Sudah sembilan bulan Rumah Mimpi berdiri, namun hingga saat ini belum mendapatkan bantuan dana dari lembaga mana pun, baik swasta maupun pemerintah. Rumah Mimpi tidak bekerja sama dengan LSM manapun, mereka berdiri sendiri sehingga untuk kegiatan belajar-mengajar setiap hari mereka mencari dana sendiri. Dengan keterampilan sendiri mereka membuat stiker kemudian menjualnya. Selain itu mereka membuat website namun hingga sekarangwebsite yang dibuat mereka belum ada yang membelinya.

Selain berjualan striker mereka terkadang mendapatkan sumbangan dari para donator untuk kegiatan belajar mengajar dan bekerjasama dengan seniman bangun pagi untuk menggalang dana. Walaupun seperti itu, dana yang diperoleh masih sangat minim, Rumah Mimpi tidak menutup tangan untuk menerima bantuan dari siapapun, justru mereka sangat mengharapkan adanya donatur yang akan menyumbangkan sebagian hartanya unuk berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar.

“Apapun yang harus dilakukan akan saya lakukan untuk anak-anak,” ujarnya.

Menurut Yusuf, kemungkinan kurangnya dana yang mereka peroleh karena kurangnya sosialisasi dari Rumah Mimpi sendiri, tidak banyak yang tahu keberadaan Rumah Mimpi, ditambah lagi Rumah Mimpi belum genap setahun berdiri.

“Kurang sosialisasi, belum banyak yang tahu tentang Rumah Mimipi,” kata Yusuf. Yusuf sangat berharap bisa menyediakan tempat belajar yang layak bagi anak-anak dan semangat rumah Mimpi ada di mana-mana. 

AI CHINTYA