Balada Maman

Maman membersihkan sampah yang berserakan di basement kampus Unpas Tamansari. Agung Gunawan Sutrisna/JUMPAONLINE

Maman membersihkan sampah yang berserakan di basement kampus Unpas Tamansari. Agung Gunawan Sutrisna/JUMPAONLINE

Srek.. srek.. srek.. 

Suara sapu lidi terdengar di basement kampus Unpas Tamansari padahal langit telah menghitam, sudah dari lima jam yang lalu matahari kembali ke peraduan. Masyarakat kampus yang lainnya telah meninggalkan kampus kecuali beberapa aktivis yang memilih untuk tidur di sekretariat mengerjakan beberapa tugasnya yang belum selesai. Adalah Maman petugas kebersihan Unpas yang telah mengabdikan dirinya selama 18 tahun. Laki-laki berusia 40 tahun itu memilih membersihkan  kampus di malam hari dan besok pagi saat para warga kampus tiba semua sudut telah bersih. 

“Kalau malam kan bersihinnya juga enak gak ada motor,” katanya. 

Maman hanya bertugas membersihkan basement saja. Menurutnya sampah basement Unpas cukup banyak apalagi di depan sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), terkadang para penghuni sekretariat itu sembarangan saja membuang sampahnya dan berantakan.

“Suka berantakan dan diacak-acak kucing,” ujarnya. 

Keesokan harinya, laki-laki berkulit hitam legam tersebut membantu para penjaga parkir. Ia duduk sambil melipatkan kakinya dan sesekali tangannya bergerak membuka tali palang pintu parkir ketika ada kendaraan yang akan masuk dan keluar. Sesekali ada beberapa mahasiswa yang menyapanya sambil tersenyum. Maman membalasnya sambil bertanya, “Buru-buru banget pulangnya, mau ke mana?” 

Untuk membuat pekerjaannya tak bosan, Maman sering mengajak bercanda para mahasiswa yang menitipkan helmnya. Terkadang ia menjahili dengan pura-pura tidak tahu helm yang dititipkannya dan memberi helm yang lain. 

Maman juga tak jarang mendengar ocehan para mahasiswa yang merasa kesal oleh dosen dan parkiran yang penuh sehingga menyulitkan atau jadwal kuliah yang cukup padat. Maman menanggapinya dengan candaan, “Ya sudah Neng jangan kuliah, nikah aja,” candanya pada seorang mahasiswi  yang mengeluh capek karena jadwal kuliah yang padat. 

Ketika sedang menyimpan helm-helm titipan, Maman hari itu langsung cepat-cepat pergi memarkirkan motornya. Setelah menerima panggilan di telepon genggamnya. “Sebentar ya, saya harus mengantarkan ini ke Setiabudhi (kampus IV Unpas),” ujarnya sambil mengatur letak barang yang dibawanya

Selang satu jam kemudian, ia telah kembali tidak menungu waktu lagi ia langsung duduk di pos parkir. Sesekali ia menyusun uang recehan 500 yang diberi dari mahasiswa sambil berujar, “Ya begini saja kerjaan saya mah, syukurin aja.” 

Kemudian Maman dan teman kerjanya Jumhana mengobrol tentang permainan Persib. Seperti warga Jawa Barat lainnya, Maman sangat menyukai klub sepak bola itu. Walaupun sering kalah, baginya nonton Persib tetap asyik. Terkadang Maman tidur di pos penjagaan parkir jika ada pertandingan bola apalagi jika Timnas bermain. ”Kalahan aja mainnya, tapi rame,” ujarnya. 

Maman datang ke Bandung sekitar tahun 1987, kemudian ia bekerja sebagai petugas kebersihan di SMA Patri Kliningan. Pada tahun 1993 SMA tersebut dijual kepada Yayasan Paguyuban Pasundan. Untungnya Maman punya paman sehingga dititipkan bekerja di Yayasan Paguyuban Pasundan kemudian ditempatkan di Unpas. ”Ada tiga orang yang dititipkan waktu itu,” kenang Maman. 

Setelah satu tahun bekerja di Unpas, Maman kemudian mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari rektor, jadilah ia pegawai tetap Unpas. ”Baru dapat SK-nya tahun 1994,” ucapnya. 

Sebelum menjadi pertugas kebersihan, Maman pernah menjadi Satpam di kampus Unpas. Ia mengaku kurang cocok dengan pekerjaan itu sehingga ia minta dipindahkan lagi ke bagian rumah tangga. Alasannya sangat sederhana, menurutnya menjadi Satpam itu sulit untuk pulang dan jadwal libur yang tidak jelas. Terkadang hari raya pun memaksanya untuk tetap bekerja, sehingga sedikit waktu yang bisa diluangkan bersama keluarga. 

Sebagai petugas kebersihan setiap empat tahun sekali Maman harus mengikuti tes kenaikkan pangkat. Tes yang ia ikuti memang tidak sulit. Menurutnya hanya tes matematika hitungan sederhana, Bahasa Indonesia, PPKN, dan agama. 

Gak susah Neng cuma formalitas aja,” ujarnya. Namun karena pendidikan Maman hanya sampai Sekolah Dasar (SD) maka pangkatnya hanya akan sampai di golongan tiga sehingga saat ini Maman tidak akan mengalami kenaikan gaji lagi. 

Maman asli dari Ciamis, tepatnya di daerah Kawali. Maman tidak memiliki adik atau kakak. Orangtuanya bukan dari keluarga berada, hingga selesai SD ia memutuskan untuk  langsung bekerja tidak melanjutkan pendidikan. ”Saat itu ibu nyuruh buat sekolah di SMP tapi saya kasihan sama ibu, jadi saya memilih untuk bekerja,” kenangnya. 

Orang tua Maman di kampung hanya petani biasa yang hanya memiliki sebidang tanah yang penghasilannya hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari, itulah alasan Maman ingin bekerja. Ia berpikir dengan bekerja bisa menambah penghasilan keluarganya. 

Maman kini telah berkeluarga, ia menikahi Sri Utami tetangga desanya. Setelah hampir 14 tahun menikah, kini Maman dikarunia dua orang anak. Anaknya yang pertama kini sudah kelas 6 SD, sedangkan yang kedua baru 3,5 tahun. 

Keluarga kecil Maman memilih untuk menetap di Ciamis, hanya terkadang saat liburan saja mereka berkunjung ke Bandung. ”Keluarga mah di kampung Neng, gak ikut,” katanya.

Tinggal di Basement

Bukan kontrakan petak apalagi rumah dinas yang luas tempatnya bernaung, melainkan hanya sebuah ruangan kecil sekitar 3×4 Meter. Kondisi kamar tersebut sangat tidak layak untuk dihuni, ventilasi yang tidak memadai serta tidak ada cahaya matahari yang cukup jika di siang hari. Ruangan 3×4 Meter itu berjejer dengan gudang-gudang penyimpanan barang dan menurut penuturan Maman ruangan tersebut dulunya juga gudang namun ia memintanya untuk dijadikan kamar. 

Tidak ada barang-barang mewah dalam ruangan itu, hanya ada lemari tempat penyimpanan dokumen yang dimanfaatkan Maman untuk menyimpan baju-bajunya dan beberapa baju yang bergelantungan, sebuah kasur yang lepek tempat Maman melepas lelahnya di kala malam. Namun Maman tidak mengeluh dengan kondisi ruangan tempatnya beristirahat setelah selesai bekerja. 

Maman tinggal di ruangan itu berdua dengan rekannya, Dedi yang berprofesi sebagai petugas parkir. Namun sesekali rekan-rekan seprofesinya yang lain menginap di sana jadi tak jarang mereka tidur bertumpuk. “Kalau banyakan malah rame Neng, walau tutumpukan.” 

Maman tidak mempersalahkan di mana ia harus tidur, menurutnya tidur di manapun sama saja memejamkan mata. “Tidur mah di mana aja Neng, di atas rumput  juga kalau nyenyak mah gak masalah,” ujarnya. 

Maman menerima gaji sebesar 1,5 juta rupiah. Jika uang gajinya sudah habis dan belum waktunya gajian ia kadang-kadang suka mengutang ke warung. ”Bayarannya ya kalau sudah gajian,” ujar Maman. 

Jika Maman harus mengontrak rumah yang harganya minimal 200 ribu perbulan ditambah biaya makan 20 ribu sehari tentu saja jatah uang yang harus ia kirim ke keluarganya akan berkurang. 

Saat ini Maman mengambil cicilan motor dan setiap bulannya ia harus membayar 527 ribu rupiah. Tujuan Maman mengambil cicilan motor tersebut agar memudahkannya untuk bekerja yang terkadang disuruh oleh para birokrat kampus untuk mengantarkan barang-barang seperti pengeras suara atau yang lainnya. Maman sering mendapat uang tambahan dari sana. “Kalau uang tambahan gak tentu dikasihnya. Kadang 20 ribu, kalau ngangkutin kursi suka dikasih 50 ribu paling besar,” katanya. 

Sebenarnya jika Maman mendapatkan SK sebagai Satpam, Maman bisa mendapatkan uang 20 ribu rupiah jika ia piket di malam hari. “Tapi uang 20 ribu juga kalau buat beli pizza mah kurang, kalau beli bala-bala baru dapat,” ujarnya. 

Air di kampus menjadi tanggung jawab Maman juga. Saat air mati Maman lah yang akan ditegur oleh masyarakat kampus. Maman akan beristirahat lewat dari jam 11 malam setelah ia selesai membersihkan basement atau kadang ia tidak segera tidur namun bergabung dengan teman-temannya di kios untuk mengopi. 

Untuk menutupi biaya rumah tangganya, istri Maman di kampungnya membuka warung kecil yang menjual makanan ringan dan gorengan. Walaupun hasilnya tidak seberapa tapi setidaknya bisa menambah uang jajan untuk anak-anaknya. 

Menurut penuturan Maman anak-anaknya adalah anak yang penurut dan tidak banyak meminta. Anak-anak Maman mengerti kondisi keluarganya yang hidup serba pas. Anak Maman kadang hanya diberi bekal 1.000 rupiah. Maman saat ini bersyukur karena biaya pendidikan anaknya masih gratis sampai tingat SMP. Saat ini Maman masih belum terpikirkan apakah anaknya akan dimasukkan ke perguruan tinggi atau tidak. Walaupun di Unpas ada potongan bagi karyawan, namun Maman belum mempunyai tabungan yang cukup untuk memasukkan anaknya ke Unpas. 

Maman cukup dikenal baik oleh teman-teman kerjanya. Dedi teman sekamar sekaligus rekan kerja yang sudah bersama Maman selama bertahun-tahun mengenal sosok Maman yang suka menolong. Menurutnya Maman akan menolong siapa saja yang bisa ia tolong. “Kita suka pulang bareng kalau ke kampung, kebetulan satu arah juga.” ujar Dedi. Maman akan melewati rumah Dedi di Garut jika ia akan ulang ke Kawali. 

Tidak hanya Dedi, menurut penuturan Jumhana pun Maman adalah sosok baik yang ia kenal. “Maman adalah orang yang  rajin jika disuruh pasti dia mau,” katanya. 

Maman menyadari karyawan kecil seperti dirinya memang tak akan bisa menuntut apapun kepada pihak kampus. Dengan tetap dipekerjakan di sana pun ia sudah cukup mensyukurinya. “Kalau disuruh minta harapan mah ya banyak Neng, maunya ya dikasih mobil tapi gak mungkin,” ujarnya sambil bercanda. 

Maman pun cukup dekat dengan mahasiswa yang sering menitipkan helm atau sekadar parkir, bahkan tak jarang ada mahasiswa yang mengirimnya makanan. Seperti hari ini ada sekotak bolen pisang di pos parkir yang dikirim oleh seorang mahasiswa. 

“Mang Maman mah baik orangnya, sering nonton bola sama dia,” ujar Andri, mahasiswa Manajemen 2008 yang saat itu datang ke sana hendak menonton sepakbola. 

Ketika Andri datang mereka langsung membicarakan bola kemudian menyalakan TV dan mereka taruhan yang menang yang mana. Kebijakan kampus untuk para karyawan kecil sepertinya memang terkadang dirasa kurang baik. Apalagi di Unpas tidak ada asuransi kesehatan penuh untuk karyawan kecil. Maman bercerita jika ada yang sakit pihak kampus hanya menangung biaya sekitar 10 persen dan sisanya ditanggung sendiri. Maman tidak pernah mengharapkan apapun hanya sedikit perhatian dari para pejabat kampus. Ia akan merasa senang ketika ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu salah satu pejabat tersebut datang menengoknya untuk mengucapkan belasungkawa. 

Selesai bercerita Maman kemudian berpamitan untuk membantu mengeluarkan motor salah satu mahasiswa yang kesulitan karena penuhnya basement Unpas. 

AI CHINTYA RATNAWATI

No Responses

Tinggalkan Balasan