Bahaya Laten Konsumerisme

 

(www.okinand.blogspot.com)

(www.okinand.blogspot.com)

Disadari atau tidak, masyarakat saat ini terus digempur oleh iklan-iklan yang membius masyarakat sehingga terbuai kehilangan kesadaran akan hakikat dari kebutuhan, gempuran promosi berbagai produk otomotif, elektronik, makanan, fashion, dll. Semua produk tersebut ditawarkan lewat berbagai strategi pemasaran dari mulai media cetak, elektronik dan internet, bahkan setiap sudut kota pun tidak luput penuh sesak dengan billboard yang menawarkan produk dan dijadikan juga sebagai media kampanye politik.

Masyarakat kini banyak yang menjadikan tolak ukur kebahagiaan dan kesuksesan hidup dengan melimpahnya kepemilikan barang-barang mewah yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan. Akan tetapi hanya sebagai pemenuhan akan nafsu keinginan yang tak pernah puas dan tidak ada ujungnya. Paham tersebut sekarang berkembang luas di masyarakat sehingga terciptanya budaya konsumtif atau yang lebih populer disebut dengan konsumerisme.

Menurut para ahli definisi dari ‘konsumerisme’ adalah faham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan.

Jika dirunut jauh ke belakang, budaya konsumerisme tidak bisa dilepaskan dari sistem industri, tentu saja selain untuk memproduksi barang-barang. Sistem produksi pun membutuhkan pemasaran produknya. Setiap hari bisa kita jumpai produk baru bermunculan dan tiap hari pula masyarakat disuguhkan iklan-iklan yang memesona calon pembelinya mulai dari menawarkan inovasi teknologi sampai dengan menampilkan produk penunjang gaya hidup (life style).

Dalam budaya konsumerisme fungsi dari media massa tentu sangat penting karena bisa menjadi ujung tombak yang akan menjejali masyarakat dengan produk yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan yang dibutukan masyarakat, media massa menampilkan iklan-iklan yang sangat menarik dan menciptakan gaya hidup.

Masyarakat dewasa ini, mulai kehilangan jati diri sebagai sebuah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Hal ini disebabkan dampak dari bahaya laten konsumerisme yang menggerus nilai-nilai kebenaran. Kehormatan dan derajat seseorang ditentukan dari berapa banyak barang mewah yang dimiliki, bukan dari budi pekertinya. Tentu saja sikap masyarakat yang konsumtif berlebihan juga dipandang buruk dari sisi agama sebagai sifat boros, sifat demikian akan menjadi pemicu lahirnya mata rantai korupsi. Karena korupsi salah satunya ditimbulkan dari sifat keserakahan dan keinginan melebihi dari kebutuhan yang diperlukan.

Kebutuhan adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakkan makhluk hidup dalam aktivitas-aktivitasnya dan menjadi dasar (alasan) berusaha. Pada dasarnya, manusia bekerja mempunyai tujuan tertentu yaitu memenuhi kebutuhan. Kebutuhan tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari, selama hidup manusia membutuhkan bermacam-macam kebutuhan, seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan kesehatan. Kebutuhan dipengaruhi oleh kebudayaan, lingkungan, waktu, dan agama. Semakin tinggi tingkat kebudayaan suatu masyarakat, semakin tinggi pula kebutuhan yang harus dipenuhi. Akan tetapi bila mana nafsu keinginan melebihi kebutuhan maka akan menjadikan pola hidup konsumerisme.

Indonesia sebagai negara berkembang yang mencoba merubah wajah dari kodratnya sebagai negara agraris yang subur menuju negara industri, lahan-lahan pertanian mulai berubah fungsi menjadi pabrik-pabrik. Hal ini tentu saja akan berdampak terhadap pola hidup dan struktur sosial masyarakat Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk yang besar akan sangat menjanjikan sebagai sasaran pemasaran dari produk-produk industri, hal tersebut mendorong lahirnya pola hidup masyarakat yang konsumtif dan serba instan.

Dengan menyadari bahaya laten konsumerisme kita diharapkan akan bisa menerapkan pola hidup hemat dan lebih selektif dalam memilih setiap produk yang kita beli. Kita harus bertanya lagi kepada diri kita, produk yang kita beli untuk memenuhi kebutuhan ataukah hanya untuk memenuhi nafsu keinginan yang tak ada habisnya? Kalau hanya pemenuhan nafsu keinginan dengan mengabaikan aspek tepat guna maka kita bagian dari masyarakat konsumerisme.

TIAN SEPTIAWAN
Mahasiswa Pendidikan dan Sastra Indonesia Unpas,
Aktivis Korp Sukarela PMI Unit Unpas

 

No Responses

Tinggalkan Balasan