Dewi Sartika, Pahlawan (yang terlupakan) dari Tanah Pasundan | Tabloid Jumpa #43 (2013)

Tabloid Jumpa edisi 43

Tabloid Jumpa edisi 43

Mengenal dan Meneladani Sosok Dewi Sartika

Jasa-jasa besar memang kerap kali ditorehkan oleh orang-orang yang memiliki intelektualitas tinggi, contohnya saja tokoh pahlawan perempuan yang mungkin diintrepertasikan sebagai paham feminisme. Mungkin sebagian orang pasti langsung teringat pada sosok Kartini, memaknai refleksi kelahiran Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April sebagai tokoh nasional perempuan dengan semangat menggebu-gebu untuk memperjuangkan hak perempuan yang sering disebut emansipasi wanita itu.

Tapi bukan Kartini yang ingin kita bicarakan di sini, semua orang mengenang Kartini tapi tidak banyak yang mengenang Dewi Sartika. Inisiasinya dalam membangun Sakola Kautamaan Istri telah berhasil memberikan pembelajaran bagi kaum perempuan pribumi, tidak hanya itu ia juga berjuang demi kemajuan perempuan dan kesetaraan Indonesia. Gagasannya yang berani dan kritis sontak memengaruhi dunia pendidikan di Indonesia, terutama Tanah Pasundan, keberhasilannya dalam merintis sekolah perempuan telah menjadi gerbang bagi perempuan untuk memperoleh hak-hak kaumnya.

Mengawali cita-citanya dengan memberikan pengajaran untuk saudara-saudara perempuannya dan akhirnya mendapat respon yang baik dari masyarakat hingga murid Dewi Sartika bertambah. Ia berusaha keras mendidik anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya.

Langkah yang dilakukan Dewi Sartika ini berdampak luas, sehingga nama Dewi Sartika dikenal luas oleh masyarakat sebagai tokoh pendidikan khususnya di kalangan perempuan. Setelah berhasil dengan Sakola Istri, akhirnya di beberapa wilayah pasundan dibangunlah beberapa Sakola Istri terutama yang dikelola oleh para perempuan hingga akhirnya pada tahun 1914 sekolahnya pun berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan) dengan mengusung metode pembelajaran cageur, bageur, pinter, wanter yang dalam bahasa Indonesia berarti sehat, baik, pintar, berani.

Untuk mendirikan sekolah pada zaman dahulu tidaklah mudah, Sakola Istri merupakan potret pendidikan masa lalu yang berhasil digagas dan diwujudkan dalam bentuk nyata oleh tokoh perempuan sunda yang memiliki jiwa nasionalis untuk mengubah kaumnya. Berbeda halnya dengan Kartini yang melakukan aksi dan menuangkan gagasannya lewat menulis surat kemudian diperkenalkan oleh orang-orang Belanda ke permukaan hingga akhirnya Kartini dikenal seperti sekarang ini. Barulah beberapa tahun setelah wafatnya Kartini, didirikanlah sekolah yang katanya merupakan gagasan Kartini, padahal sekolah itu didirikan oleh Van Deventer yaitu seorang Belanda. Berbeda halnya dengan Dewi Sartika yang mendirikan sekolah berdasarkan gagasannya.

Jasa-jasa besarnya tersebut haruslah dikenang dan ditiru oleh kaum muda saat ini. Namun yang terjadi sebagian besar anggota muda hanya mengenal Dewi Sartika sebagai nama jalan. Atau pahlawan yang diajarkan ketika duduk Sekolah Dasar. Selebihnya mengenai semangat dan konsep pendidikannya jarang yang tahu padahal kita bisa meneladaninya. Sudah saatnya kita semua mengenal dan meneladani jejak langkahnya.

REDAKSI

Baca versi lengkapnya di bawah ini.

Unduh versi lengkap pdf Tabloid Jumpa edisi 43 di sini.

No Responses

Tinggalkan Balasan