
Fransiska Dimitri Inkiriwang merupakan salah satu pendaki wanita pertama berkewarganegaraan Indonesia yang telah menjejakkan langkahnya di puncak Everest. Pada tanggal 17 Mei 2018 pukul 07.15 WIB, ia berhasil mengibarkan bendera merah putih dengan penuh rasa haru dan bahagia. Pencapaian ini telah menyempurnakan ekspedisi spesial yang kini sukses menjadi salah satu pengalaman berharga baginya. Dengan titel tersebut, saya kemudian tertarik untuk mengikuti kisahnya dan kebetulan berkesempatan menemuinya pada sebuah acara diskusi buku pertamanya. Dari pertemuan tersebut, saya dapat menelusuri perjuangan dibalik kisah sang pendaki tangguh.
Enam tahun lalu, Fransiska yang kerap disapa Didi, merupakan seorang mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di Universitas Parahyangan (Unpar). Berdasarkan kecintaannya terhadap pendakian gunung, Didi bergabung ke Unit Kegiatan Mahasiswa Mahitala Unpar pada tahun 2013. Satu tahun berselang setelah berkecimpung bersama Mahitala, Didi mendapat kesempatan untuk berkontribusi dalam The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar. Tim ini memiliki formasi istimewa sebab hanya diisi oleh para wanita yang melaksanakan ekspedisi besar untuk menyambangi tujuh puncak tertinggi di dunia. Sebelum resmi menjejakkan kaki ke Everest, Didi telah berhasil melewati enam puncak, yaitu Carstensz Pyramid, Elbrus, Kilimanjaro, Vinson Massif, Denali, dan Aconcagua dalam rentang tahun 2014-2018.
Dengan sorot mata akan sarat akan kerinduan Didi menjelaskan alasan pribadinya sehingga mampu melewati berbagai tantangan saat melakukan pendakian. Dengan intonasi yang begitu riuh akan keyakinan, ia menerangkan bahwa, komitmen menjadi salah satu kunci penting selama berjuang untuk menuntaskan ekspedisi, khususnya selama mendaki Everest. Didi paham betul bahwa ekspedisi ini sangat berat karena akan ada risiko fatal yang menyertainya. Tak hanya soal komitmen, Didi seringkali berkontemplasi dengan dirinya, mempertanyakan apa yang bisa ia lakukan untuk Indonesia. Ia juga menyampaikan tekadnya untuk mengharumkan nama negaranya di mata dunia.
“Keinginan saya ingin punya kontribusi untuk Indonesia. Jadi rasanya waktu itu [ekspedisi ini] menurut saya adalah kesempatan. Itu yang bikin saya terus bergerak walaupun challenge-nya tetap banyak,” kenang Didi sambil terkekeh saat saya temui pada Senin, 8 Desember 2025.
Didi dan Everest: Pengalaman yang Tak Akan Terlupakan

Pembicaraan mulai membahas tentang pengalaman Didi ketika melihat ritual setempat masyarakat sebelum melakukan pendakian. Sebelum melakukan pendakian, biasanya para pendeta dari suku Sherpa akan melakukan sebuah upacara khusus sebelum pendakian, yakni upacara Puja. Upacara Puja bertujuan untuk memberkati para pendaki agar dapat mendapat keselamatan selama perjalanan. Dalam upacara tersebut, Didi menyantap makanan khas yang memiliki rasa mirip dengan tepung beras. Tak hanya soal apa yang masuk ke tubuh pendaki, namun, peralatan yang akan digunakan pun turut jadi fokus dalam upacara. Ketika upacara berlangsung, Didi harus menyimpan seluruh peralatan di sebuah altar batu. Setelahnya, peralatan akan diberi berkat khusus oleh para pendeta.
Setelah mendengar penjelasan tentang Upacara Puja, rasa penasaran semakin memuncak. Terlebih, saya memiliki ketertarikan yang cukup besar pada ekspedisi pendakian Everest. Saya yang kala itu berada dalam mode fokus mendengarkan kisah Didi, semakin melebarkan imajinasi agar dapat menonton reka adegan pengalaman Didi.
Selain pengalaman ketika mengikuti upacara, Didi juga membagikan salah satu momen yang akan selalu diingat selama hidup. Matanya menerawang, seolah kembali menelusuri kondisi Everest enam tahun lalu. Di Everest, tak jarang para pendaki akan menemukan jenazah pendaki yang telah gugur dalam perjalanan. Saat itu, Didi melewati jalur yang juga dilalui oleh mereka, sehingga tentu saja akan melihat jenazah di atas salju. Satu hal yang selalu terbesit ketika melihat pemandangan tersebut, bahwa kematian bisa terjadi pada siapapun. Dari pengalaman itulah, Didi tersadar jika kematian bisa saja menimpanya kapanpun, bahkan bisa saja ketika sedang mendaki. Takdir kematian tak akan pernah diketahui manusia. Oleh karenanya, Didi merasa harus terus memanfaatkan kehidupan dengan sebaik mungkin, sehingga akan terhindar dari rasa penyesalan nantinya.
Perjalanan pulang pun menjadi memori yang tak akan terlupakan bagi Didi. Kala itu, ia merasakan perubahan tekanan oksigen selepas turun dari puncak. Tubuhnya kemudian merespons perubahan itu dengan memunculkan rasa kantuk yang tak tertahankan. Pada akhirnya, Didi terlelap sendirian karena tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan pulang. Tak hanya rasa kantuk ekstrem, ia juga mengalami halusinasi yang cukup membuatnya kebingungan.
“Kayak lagi di film Inception, mimpi di dalam mimpi gitu, ya. Saya pikir kalo saya terjun ke jurang, saya akan terbangun. Itu momen yang lemah banget. Gak bisa ngedorong diri lagi karena udah capek,” ungkap Didi sembari sesekali tertawa kecil.
Perjalanan Menakjubkan Itu Telah Abadi Dalam Buku
“Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk menapaki puncak gunung.”
Berbekal dari pemikiran itulah batin Didi memutuskan untuk mengabadikan perjalanan pendakiannya. Medium yang dipilih untuk merangkai semua pengalamannya adalah melalui buku berjudul Menyapa Dewi Langit. Ia menulis buku ini bersama rekan perjalanannya, Mathilda Dwi Lestari untuk menceritakan kembali perjuangan mereka dalam mendaki Everest. Didi mengakui bahwa ia mengidolakan sosok Pramudya Ananta Toer yang aktif berkarya lewat tulisan. Pada akhirnya, itulah salah satu alasan yang melatarbelakangi karya ini. Didi beranggapan bahwa, meskipun pada zaman sekarang masyarakat sudah lazim menikmati audiovisual, tetapi karya tulisan akan tetap abadi. Tulisan tersebut nantinya akan menjadi catatan sejarah pendaki, termasuk memuat pengalaman asli Didi sebagai seorang pendaki wanita yang telah menuntaskan ekspedisi puncak tertinggi di dunia.
Dengan lantang ia menjelaskan kata ‘jujur’ adalah pilihan yang tepat untuk menggambarkan buku ini. Berkat prestasinya dalam pendakian, Didi berkisah bahwa orang-orang di sekitar kerap kali memandangnya sebagai pribadi yang kuat dan tangguh. Namun, sebaliknya, Didi tak pernah menganggap dirinya demikian. Buku ini kemudian menggambarkan sisi lain Didi yang sebetulnya tak jarang diliputi ketakutan ketika melakukan pendakian.
Karya pertamanya ini menggambarkan setiap titik pengalaman dan jengkal emosional Didi selama perjalanan dengan sejujur-jujurnya. Didi tak hanya sekedar menjelaskan kejadian demi kejadian, tetapi ia menuangkan seluruh tenaganya untuk menggambarkan kembali pengalamannya dengan sangat detail. Selama empat tahun proses pembukuan, Didi terus memutar kembali memori untuk mendalami perjalanannya selama mendaki Everest. Tak hanya berbekal ingatan, Didi juga seringkali membuka jurnal yang berisi catatan tentang kondisi sekitar gunung beserta suasana hatinya kala itu.
Didi kembali melontarkan senyumnya. Didi menjelaskan bahwa, dirinya sebagai anak pecinta alam merasa tabu jika mendengar kata ‘menaklukkan’. Menurutnya, yang bisa dilakukan adalah menaklukkan diri sendiri dengan membuktikan tekadnya yang kuat dan menunjukkan kesungguhannya dalam menjalankan perjalanan. Oleh karena itu, baginya, manusia tidak akan bisa menaklukkan gunung.
“Cuma bisa ‘hai’, gitu doang. Dibandingkan menggunakan kata ‘mencapai’ yang seperti membesarkan posisi kami. Sedangkan kami ketika di gunung-gunung ini cuma [jadi] hal yang kecil doang,” tuturnya sambil menjentikkan jari.
Didi menyiratkan posisinya sebagai makhluk yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mahakarya Tuhan. Dengan lugas, Ia merepresentasikan bahwa manusia bukanlah siapa-siapa ketika berada di gunung. Tidak ada yang bisa bertindak sekenanya di sana. Meskipun sedang berada di posisi paling atas, Didi merasa manusia tetap harus melihat kepada hal yang jauh lebih besar, yakni begitu menakjubkannya kekuatan dari alam.
NIPA RIANTI NUR RIZKI DEWI
Editor: KHAIRUN NISYA
