
Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penyunting: Endah Sulwesi dan Christina M. Udiani
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 379 halaman
Kategori: Fiksi Sejarah
Sejarah seringkali terlupakan ataupun disembunyikan seiring berjalannya waktu, namun novel “Laut Bercerita” karya Leila S. Chudori hadir sebagai tulisan yang menggambarkan bagaimana kelamnya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, serta penghilangan aktivis mahasiswa yang berani bersuara atas rezim otoriter. Cerita di dalamnya memadukan riset mendalam yang dilakukan oleh penulis dengan narasi puitisnya yang dapat menarik pembaca untuk menyelami gelombang sejarah, kemanusiaan, serta suara-suara yang penuh luka dan harapan. Karya ini mendapatkan pujian dari Tempo.com karena berhasil menarik rasa ingin tahu generasi muda untuk kembali menelusuri jejak sejarah yang selama ini jarang terungkap, khususnya kasus penculikan aktivis pada tahun 1998.
Novel ini berfokus pada perjalanan Biru Laut, seorang mahasiswa yang diculik bersama rekan-rekannya. Selain itu, menyoroti bagaimana keluarganya terutama adiknya yaitu Asmara Jati, berjuang mencari kebenaran tentang hilangnya mereka. Melalui riset yang mendalam, Leila tidak hanya menceritakan tragedi pribadi korban pada kejadian pada tahun 1998, tetapi juga memperlihatkan ketegangan dan kekejaman yang dialami oleh aktivis muda saat itu. Novel ini tidak hanya membuka luka lama, tapi juga menumbuhkan simpati dan semangat untuk terus memperjuangkan keadilan dan hak suara masyarakat terkait kondisi politik dan sosial di Indonesia. Selain itu, novel ini juga mengingatkan agar sejarah kelam tidak terulang kembali di Indonesia.
Dekap Sunyi Suara para Aktivis Mahasiswa
“Matilah engkau mati
Semoga engkau lahir berkali-kali.”
Dikutip dari buku “Laut Bercerita” yang dimuat di halaman 196.
Pada bab pertama novel “Laut Bercerita” menjadi pembuka bagi peristiwa Gerakan Reformasi 1998. Bab ini menceritakan tentang seorang mahasiswa Sastra Inggris bernama Biru Laut yang berasal dari Universitas Gadjah Mada, ia melakukan pergerakan untuk menyuarakan kritik terhadap rezim Orde Baru yang dinilai otoriter, tidak berpihak pada kesejahteraan masyarakat dan adanya pembungkaman atas kebebasan bersuara bagi masyarakat. Ia bergabung dengan organisasi mahasiswa Winatra dan Wirasena, yang secara rutin mengadakan diskusi buku, diskusi isu ketidakadilan sosial serta perlawanan terhadap rezim yang telah berkuasa puluhan tahun. Perjuangan Laut tak hanya melalui retorika saja, tapi juga dengan aksi nyata seperti membantu petani yang tertindas dalam Peristiwa Belangguan.
Bersama dengan rekan-rekannya yang aktif dalam gerakan mahasiswa, Biru Laut melakukan pergerakan secara sunyi namun penuh tekad untuk menyampaikan aspirasi rakyat dan melawan ketidakadilan sosial yang membelenggu kehidupan masyarakat. Mereka menyadari bahwa pergerakan terbuka dapat dengan mudah terdeteksi dan beresiko akan pembungkaman oleh aparat maupun pemerintah.
Gerakan Reformasi 1998 lahir sebagai dampak dari krisis ekonomi berkepanjangan dan runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan yang otoriter. Puncaknya terjadi saat kejadian-kejadian yang terjadi pada Mei 1998, di mana rangkaian peristiwa kerusuhan pecah dan menjadi catatan sejarah kelam bangsa Indonesia hingga saat ini. Gerakan ini melibatkan kelompok masyarakat, terutama kelas menengah yang terdiri dari para mahasiswa untuk menduduki gedung perwakilan rakyat di Senayan. Mereka mengajukan tuntutan-tuntutan kepada pemerintahan Orde Baru yang dapat dikatakan sebagai rezim yang cukup otoriter dalam menjalankan kekuasaan (Elis Mardianti, 2022).
Perjuangan Biru Laut dan rekan-rekannya dalam menyuarakan kebenaran memang tidaklah mudah. Di bawah pemerintahan yang represif dan otoriter, mahasiswa dianggap ancaman yang harus dibungkam. Buku-buku yang mengandung ideologi komunis atau yang dinilai mengkritik pemerintah secara langsung, salah satu contohnya adalah karya Pramoedya Ananta Toer dilarang untuk dibaca pada masa itu. Kebebasan berbicara, berkumpul, dan berdiskusi dibatasi secara ketat disertai dengan tindakan-tindakan militer represif seperti pengawasan, penangkapan secara paksa, hingga penculikan menjadi senjata ampuh bagi negara untuk menyudutkan para aktivis. Hal ini membuat Biru Laut dan rekan-rekannya mendapatkan intimidasi dan pengintaian yang dilakukan oleh aparat keamanan.
Pada puncak bab ini, ketegangan dirasakan oleh pembaca, saat Biru Laut dan rekan-rekannya diculik oleh empat lelaki tak dikenal dan disekap selama berbulan-bulan dalam kondisi yang memprihatinkan. Mereka mengalami penyiksaan fisik dan psikologis seperti pukulan, penyetruman, dan interogasi yang kejam untuk memaksa pengakuan tentang dalang di balik gerakan mahasiswa. Perlakuan brutal ini mencerminkan betapa kerasnya rezim Orde Baru dalam membungkam suara-suara perubahan dan membatasi kebebasan berpendapat. Kematian Biru Laut diakibatkan oleh penembakan, saat ia dibawa ke laut oleh aparat pemerintah yang ditugaskan untuk menculiknya. Mayatnya pun ditenggelamkan di laut, hal ini memberikan gambaran dari pengakhiran hidup “dipeluk kegelapan dan kesunyian di dasar laut,” menandakan betapa tragis dan sunyinya nasib para aktivis yang hilang secara paksa pada masa itu.
Hilangnya Biru Laut membuat keluarganya, terutama adiknya yaitu Asmara Jati, mulai merasakan sunyinya kehilangan dan kegundahan akan ketidakpastian nasib, serta ketidakjelasan kabar dari saudaranya. Ia tidak tahu apakah kakaknya telah meninggal atau masih hidup, jika kakaknya masih hidup entah berada di mana sekarang, jika meninggal apa yang menjadi penyebab dan siapa yang bertanggung jawab atas meninggalnya sang kakak tercinta. Hal ini memicu luka yang mendalam bagi keluarganya, sehingga terdapat upaya-upaya yang dilakukan oleh keluarganya untuk mendapatkan keadilan dan kebenaran atas penculikan Biru Laut dan para aktivis pada saat itu.
Melihat dari demonstrasi besar yang terjadi pada 25 sampai 27 Agustus 2025 menjadi penanda bahwa tempat yang menjadi titik aman bagi mahasiswa untuk menempuh pendidikan menjadi tempat yang mencekam. Terdapat relevansi yang kuat dengan tema perjuangan dan kritik sosial yang diangkat dalam novel “Laut Bercerita” karya Leila S. Chudori. Ribuan mahasiswa, pekerja, pelajar, dan elemen masyarakat lainnya berkumpul di depan gedung DPR RI ataupun Gedung DPR di daerah masing-masing dengan tuntutan serius, yaitu pembubaran DPR. Aksi menunjukan semangat rakyat untuk memberikan suaranya bahwa mereka tidak puas terhadap kebijakan yang dinilai mengabaikan kepentingan rakyat kecil, seperti kenaikan tunjangan anggota DPR.
Seperti Biru Laut dan rekan-rekannya yang berjuang melawan rezim Orde Baru yang represif, demonstran masa kini juga harus menghadapi tekanan dan bentrokan, termasuk penggunaan gas air mata dan tindakan keras aparat keamanan yang berupaya untuk membungkam suara kritis dan rasa kecewa mereka terhadap DPR saat ini. Situasi ini mengingatkan kita bahwa perjuangan untuk keadilan, kebebasan bersuara, dan kesejahteraan merupakan perjuangan yang tidak henti dan selalu relevan dalam konteks demokrasi Indonesia.
Novel “Laut Bercerita” menjadi pengingat dan menginspirasi generasi sekarang bahwa suara rakyat, mahasiswa, maupun aktivis yang berani untuk turun secara bersama-sama ke jalan haruslah didengar, dihargai, dan direnungkan bersama-sama. Peristiwa terbaru ini menegaskan pentingnya memperjuangkan keadilan agar sejarah kelam masa lalu, seperti yang diceritakan dalam novel “Laut bercerita”, tidak terulang dan aspirasi masyarakat bisa terpenuhi secara adil dan damai.
DI HARI KEMATIANKU
Di hari kematianku
Nyalakan apimu
Karena satu jiwa yang kandas
Tak akan menghilangkan
Rindu pada keadilan
Di hari kematianku
Genapkan malam-malam itu
Menjadi pagi
Yang penuh kepal ke udara
“Ingin kukatakan, kita telah merdeka”
Mata yang lapar
Perut yang gusar
Burung yang tertembak
Jiwa yang merangkak
Tak mungkin kita tak bersuara
Tak mungkin kita tak menyala-nyala
Tak mungkin kita tak meniup serunai
Maka di hari kematianku, kawan
Pastikan suaraku datang laut
Pastikan jiwaku menjadi bagian dari api
Pastikan ruhku menghidupi sajak ini
Biarkan kata-kataku meniupkan roh perlawanan ini
Sajak ini dikutip dari buku “Laut Bercerita” Karya Leila S. Chidori di halaman 60-61
AiILSA ARGIANTI ELYSIA
Kontributor LPM ‘Jumpa’ Unpas
Editor: TRISYA ZAHIRAH A. P.
Referensi
Chudori, L. S. (2017). Laut Bercerita . Jakarta : Keperpustakaan Populer Gramedia .
Mardianti, E. (2022). Gerakan Mahasiswa Dalam Pusaran Tiga Orde Kekuasaan : Antara Gerakan Moralis atau Gerakan Politis . POLITICOS: Jurnal Politik dan Pemerintahan.
Tirto. (n.d.). Sejarah Reformasi 1998: Latar Belakang dan Dampaknya. Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/sejarah-reformasi-1998-latar-belakang-dan-dampaknya-gJnx
Kontras. (n.d.). Bulletin: hak asasi manusia & reformasi Indonesia. Kontras. Diakses dari https://www.kontras.org/backup/buletin/indo/kontras_OK_dng_RevHal4.pdf
Tempo. (2015, 24 April). Laut Bercerita: Fiksi Sejarah yang Menggugah Generasi Muda. Tempo.co. Diakses dari https://www.tempo.co/teroka/laut-bercerita-fiksi-sejarah-yang-menggugah-generasi-muda-2015424
Tempo. (n.d.). Reformasi 1998: Kerusuhan Mei 1998 dan Runtuhnya Kekuasaan Soeharto. Tempo.co. Diakses dari https://www.tempo.co/politik/reformasi-1998-kerusuhan-mei-1998-dan-runtuhnya-kekuasaan-soeharto-1434032
Fahum UMSU. (n.d.). Sejarah Reformasi 1998: Tujuan dan Dampaknya. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Diakses dari https://fahum.umsu.ac.id/info/sejarah-reformasi-1998-tujuan-dan-dampaknya/
