Sumber : retizen.republika.co.id
Sumber : retizen.republika.co.id
Sumber : retizen.republika.co.id

Pandemi Covid-19 saat ini sedang melanda dunia, tanpa terkecuali di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka penularan Covid-19. Salah satunya yaitu dengan mengeluarkan surat edaran Mendikbudristek Nomor 2 Tahun 2022 tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi, salah satunya adalah keputusan untuk belajar di rumah bagi para siswa dan proses belajar mengajar dapat dilakukan secara dalam jaringan (daring). Kondisi ini akan mengubah metode pembelajaran yang sebelumnya dilaksanakan secara tatap muka diganti dengan metode pembelajaran daring.

Pembelajaran daring merupakan metode pembelajaran dengan memanfaatkan jaringan internet dalam proses belajar mengajarnya. Pembelajaran daring memiliki keunggulan karena kegiatan pembelajaran dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun, tidak terbatas ruang dan waktu seperti pembelajaran tatap muka. Dalam pembelajaran daring, siswa dan guru dapat berinteraksi dengan mengunakan beberapa aplikasi seperti E-Learning, Google classroom, video converence, telepon, live chat, Zoom, maupun grup Whatsapp.

Media pembelajaran tersebut merupakan inovasi di dunia Pendidikan untuk menjawab tantangan akan ketersediaan sumber belajar yang variatif. Namun, keberhasilan dari suatu model pembelajaran ataupun media pembelajaran itu tergantung dari karakteristik peserta didikanya. Sebagaimana yang telah di ungkapkan oleh (Nakayama dalam Dewi, 2020) mengatakan bahwa dari semua literatur dalam E-Learning mengindikasikan bahwa tidak semua peserta didik akan sukses dalam pembelajaran online. Hal ini dikarenakan faktor lingkungan belajar dan karakteristik peserta didik.

Berkaitan dengan hal tersebut, untuk menunjang keberhasilan dari tujuan pembelajaran, maka pembelajaran daring dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai model dan media berbasis digital. Berdasarkan pengalaman empiris di lapangan, penggunaan model pembelajaran yang dirasa efektif untuk menunjang proses pembelajaran daring yaitu model pembelajaran reportase.

Model pembelajaran reportase merupakan model pembelajaran dengan menggunakan teknik wawancara dan kemampuan melaporkannya dalam bentuk lisan dan tulisan. Model pembelajaran reportase dapat digunakan dengan diintegrasikan dengan buku tema yang dipelajari oleh siswa dengan cara mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan sehari- hari. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, maka guru dapat melakukan pembelajaran dengan langkah-langkah, sebagai berikut:

Pendahuluan

Pada bagian pendahuluan guru menjelasakan:

  • Kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari materi yang akan
  • Guru memberikan arahan prosedur dalam kegiatan pembelajaran dengan mengggunakan model reportase. Salah satunya dengan membagi siswa kedalam beberapa kelompok yang mempunyai peranan masing-masing yaitu peran sebagai reporter dan videografer yang bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan wawancara yang sedang dilangsungkan.
  • Melalui kegiatan wawancara tersebut, siswa ditugaskan untuk mencatat informasi dan mendokumentasikan hasil dari kegiatan wawancara yang telah

Kegiatan inti

Pada tahap kegiatan inti, siswa melakukan wawancara dengan model reportase dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Menentukan tema. Pada tahap ini siswa diberikan arahan oleh guru untuk menentukan tema dari kegiatan wawancara yang akan dilaksanakan oleh setiap
  • Menentukan lembar wawancara. Pada tahapan ini siswa menyusun lembar wawancara yang berkaitan dengan tema materi yang telah di
  • Menyusun hasil wawancara. Pada tahapan ini siswa merumuskan hasil wawancara untuk dibuat sebuah laporan yang akan didokumentasikan dalam bentuk video.
  • Melaporkan hasil dari wawancara. Pada tahap ini siswa harus melaporkan hasil dari wawancara dalam bentuk sebuah video dokumentasi. Ketentuan video berbentuk seperti video dokumentasi reporter dalam menyiarkan sebuah berita di televisi yang dibuat dengan kreatif dan menarik. Selanjutnya, hasil video tersebut dikumpulkan melalui google drive yang telah

Penilaian

Pada tahap ini guru memberikan beberapa kriteria penilaian, penilaian tersebut meliputi video paling kreatif dan terfavorit. Kriteria penilaian dari video terfavorit dapat dilihat dari jumlah penonton yang melihat dan menyukai video tersebut.

Jadi, masing-masing siswa diwajibkan untuk menonton setiap video laporan dokumentasi dari hasil wawancara milik teman-temannya. Dengan begitu, secara tidak langsung setiap siswa akan terarah untuk terus meutar video secara berulang-ulang sehingga tanpa disadari hal tersebut mengarahkan siswa untuk belajar dan memahami materi yang ada pada video tersebut. Dengan sistem penilaian seperti itu, maka setiap siswa akan berlomba-lomba dalam membuat video laporan dari hasil wawancaranya dan dibuat semenarik mungkin.

Penutup

Pada tahap ini siswa dibantu oleh guru untuk menyimpulkan hasil observasi dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai oleh setiap siswa.

Dengan menggunakan model reportase dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan public speaking setiap siswa. Tidak hanya itu, siswa akan lebih cakap dalam penggunaan media digital, karena pada model reportase ini siswa diharuskan menggunakan media digital untuk melangsungkan proses pembelajarannya.

Seperti yang telah diketahui bersama, pembelajaran pada kurikulum sekarang lebih mengedepankan pembelajaran abad 21 dan mengutamakan pembelajaran yang mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta penguasaan terhadap teknologi. Oleh karena itu, dengan menggunakan model reportase diharapkan dapat menunjang kelangsungan proses pembelajaran abad 21 tersebut dan dapat menjadi solusi dalam kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan secara daring.

YUSUP NURDIANSAH

Mahasiswa Jurusan PGSD Angkatan 2020 Universitas Pasundan

 

Sumber: 

Dewi, W.A.F. 2020. Dampak Covid-19 Terhadap Implementasi Pembelajaran Daring Di Sekolah Dasar. E-Jurnal of Edukatif Jurnal Ilmu Pendidikan. 2(1). 55-61. Retried from https://edukatif.org/index.php/edukatif/article/view/89

Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.