Sumber: ebooks.gramedia.com

Judul                        : Larung

Penulis                     : Ayu Utami

Penerbit                   : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tahun Terbit            : 2018 (Cetakan ke-7)

Tebal                       : 295 halaman

“Siapakah yang akan menentukan jalan kematian?”

Mukadimah yang penuh dengan kemuraman digambarkan sebagai upaya ‘selamat datang’ yang disuguhkan Larung. Karena nantinya, perasaan sansai akan terus membayangi dan menemani tatkala menelusuri kisah Saman dan Larung pada bagian kedua dwilogi ini. Pada ulasan sebelumnya – yang termuat di jumpaonline.com – mengenai Saman, aku pernah bercerita bahwa Saman akan ditemani oleh Larung. Semua perjuangannya melawan tirani akan didampingi oleh Larung dan mereka kini memiliki misi baru: membantu tiga aktivis mahasiswa kiri dari kejaran rezim militer. Apakah misi itu akan berhasil? Ataukah justru Larung akan membawa mereka ke dalam kegelapan?.

Larung Lanang diperkenalkan sebagai sosok yang memiliki karakter dan sejarah ‘gelap’. Ia mengarungi kehidupan dengan segala hal yang membelenggu jiwanya. Hidupnya penuh liku dan kemurungan tak henti menyapa. Karakter ‘gelap’ Larung menjadi sebuah sorotan ketika Ayu dengan lihai menggambarkan potret demi potret perjalanan melankolis Larung. Bagaimana tidak, Larung dengan sengaja dan penuh kesadaran melakukan eutanasia kepada neneknya sendiri – Andjani, seorang “makhluk yang dari mulutnya yang tremor keluar kotoran dan kekejian” – hanya karena neneknya sudah terlalu lama hidup dan sukar untuk mati. Pada saat itu, kematian datang dan sangat dihasrati oleh Larung.

Apabila menilik perlakuan Larung mengenai eutanasia yang telah ia lakukan dapat mengonstruksi suatu karakter gelap yang dilekatkan oleh Ayu. Beda halnya apabila hal itu berada pada realitas masa kini, di negara Indonesia, eutanasia merupakan suatu tindakan ilegal dan secara tidak langsung disebutkan dalam Kitab Hukum Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 344. Selaras dengan hal tersebut, Julian Baggini, filsuf Britania dalam bukunya yang berjudul Tanpa Tuhan Apakah Segalanya Diizinkan? menuliskan, eutanasia tidaklah selalu salah, melainkan mengizinkannyalah yang akan berbahaya. Meskipun dengan demikian, akan tetap penting untuk diingat bahwa hal ini bukanlah alasan untuk menganggap bunuh diri yang dibantu itu selalu salah. Kita tak tahu, apa yang dilakukan oleh Larung adalah sebuah kesalahan yang perlu pembenaran atau tidak. Ihwal itu, tergantung dalam kaca mata seperti apa kita memandangnya.

Di novel ini, Ayu juga banyak menceritakan tentang politik melalui apa yang terpaksa dilalui oleh tokoh-tokohnya. Ungkapan lika-liku sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI), sampai pada peristiwa 27 Juli 1996. Kejadian-kejadian itu terekam jelas dalam Larung dan sedikit banyak dialami oleh Larung pula. Seperti pada halnya ketika Larung di masa kecil sudah ditinggalkan oleh orang tuanya. Bukan tanpa alasan orang tuanya pergi, melainkan ayahnya menjadi buronan rezim militer pada masa itu karena dicap sebagai seorang pengkhianat dan antek-antek PKI. Ayahnya diseret secara paksa oleh militer dan hilang bagaikan molekul-molekul ketika sebuah benda padat menjadi gas. Hilang dan memudar. Begitupun yang terjadi dengan ibunya, dicap sebagai Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) – Gerakan organisasi berhaluan sosialis-feminis di tahun 1965 – dan dilecehkan secara moral oleh masyarakat.

Peristiwa yang terjadi kepada Larung merupakan suatu cerminan terhadap apa-apa yang terjadi kepada mereka yang nasibnya telah dibanderol sebagai antek PKI. Militer menghalalkan segala cara untuk menumpas hama dalam tubuh pemerintahan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pada masa itu Soeharto dan para kacungnya akan membasmi segala hal yang berhubungan dengan organisasi kiri.

Potret peristiwa sejarah dan politik tak terhenti sampai situ saja, busung lapar dan kemiskinan menguar di mana-mana tatkala para lintah darat dan penghisap rakyat dengan gagahnya mengakuisisi pangan. Selain itu, kerusuhan dan pembunuhan keji terhadap masyarakat Cina tak luput diabadikan oleh Larung. Beralaskan kejadian itu, Ayu dengan fasih menciptakan atmosfer yang dihiasi oleh kemuraman-kemuraman yang terjadi.

Larung sebagai pemilik sekaligus pengelola sebuah media turisme dwibahasa di Bali, dekat dengan wartawan independen serta anak-anak Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Forum wartawan Surabaya bisa dengan lihai mengawasi segala kerusuhan yang terjadi di Indonesia. Dengan segala koneksinya ia bisa memanfaatkan perihal itu untuk melancarkan misinya.

Menyoal mengenai misi baru Larung dan Saman – menyelamatkan tiga mahasiswa kiri dari kejaran militer – menjadi sebuah bagian paling mendebarkan tatkala mereka harus bersembunyi untuk tak menjadi santapan rezim militer. Tiga mahasiswa kiri itu disebut-sebut sebagai dalang kerusuhan Juli 1996.

Mahasiswa dengan segala kekuatannya dapat memporakporandakan sebuah pemerintahan menjadi sebuah bagian haru tersendiri. “Mahasiswa hadir sebagai aktor politik manakala krisis sedang mencapai puncaknya” pernah digaungkan oleh Soe Hok Gie dalam disertasi John Marxwell, tatkala memerangi rezim Orde Baru dan segala ketidakadilan yang menyelubunginya, hal itu pula yang dilakukan oleh tiga mahasiswa kiri itu dan berujung pada pemburuan sengit antara Larung, Saman, dan militer.

Akankah pemburuan itu berakhir sesuai pengharapan Larung dan Saman? Atau mereka berdua dipandu untuk menyusuri jalan kematiannya? Entahlah. Kabar mengenai Larung dan Saman menjadi “diam yang tak lagi menunda”.

Menyoal Sisi Feminis dalam Larung

Sastra sebagai salah satu wahana untuk menggaungkan suara-suara kaum marjinal dan menduduki singgasana sebagai pelopor perjuangan gender yang ampuh untuk membebaskan perempuan dalam belenggu patriarki dan konstruksi masyarakat. Larung hadir sebagai pengejawantahan bahwa perempuan dan segala hal yang disematkan untuk meremehkannya adalah fiktif. Larung melibatkan sisi feminis dan tubuh ke dalam teksnya dan menunjukkan adanya kesadaran sosio-historis yang hanya dapat tercapai melalui riset yang komprehensif dan kerangka teoritis yang kokoh.

Ayu dengan senang hati tak merekatkan pencitraan perempuan pada tokoh-tokoh dalam cerita – Laila, Cok, Shakuntala, dan Yasmin – sebagai perempuan yang selalu tunduk dalam bayang-bayang patriarki dan konstruksi gender di masyarakat. Ayu membebaskan pemikirannya sebagai seorang sastrawan dalam menggambarkan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan, tubuh, sex, dan erotisme.

Perihal itu tercantum tatkala tokoh-tokohnya bisa berekspresi dengan bebas sebagai bentuk penolakan terhadap dominasi maskulinitas. Laila, Cok, Shakuntala, dan Yasmin bebas melakukan hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat.

Dominasi tokoh perempuan dalam novel ini mengungkapkan masalah-masalah yang banyak dialami oleh perempuan, terutama tuntutan adanya kesederajatan dengan laki-laki dan menggugat sistem patriarki yang berlaku selama ini. Gugatan ini terjadi karena perbedaan peran, kekuasaan, hak, posisi, serta kuatnya nilai sosial budaya dan patriarki menempatkan laki-laki dan perempuan pada kedudukan dan peran tidak setara.

Lewat tokoh Cok, Ayu menggambarkan bahwa perempuan harus dapat melakukan perlawanan pada budaya patriarki dengan melakukan hal-hal yang lazim dilakukan oleh laki-laki. Seperti halnya yang dilakukan oleh Cok, selalu tidur dengan laki-laki yang berbeda. Cok merasa, apa yang dilakukan oleh laki-laki malah perempuan yang mendapat nilai jelek. “Apa yang kita lakukan, kita selalu dianggap objek. Bahkan oleh perempuan,” begitulah kata Cok.

Selain Cok, tokoh Shakuntala adalah simbol wanita pemberontak diskriminasi gender. Ia sangat membenci nilai-nilai budaya yang sangat merendahkan perempuan. Bahkan ia sangat membenci perkawinan. Perkawinan akan membuat perempuan selalu menghormati, patuh dan taat pada suami. Perkawinan baginya merupakan bentuk penindasan terhadap perempuan. Bahkan ia mengumpamakan perkawinan sebagai bentuk ‘persundalan yang hipokrit’, penuh dengan kemunafikan, dan kepura-puraan.

Maka dari itu, penting untuk memandang permasalahan tubuh, seks, dan gender lebih dari sekedar isu yang melulu “ideologis”, yang menawarkan penafsian feminis terhadap teks yang mempertimbangkan citra dan stereotip tentang perempuan dalam sastra, miskonsepsi tentang perempuan dalam kritik, dan perempuan sebagai tanda dalam sistem semiotik. Harusnya memandang hal itu sebagai sebuah teks tentang perempuan dan kaum termarjinalisasi lainnya sebagai perpanjangan dari eksistensinya yang berhak atas apa-apa yang juga didapatkan oleh kaum maskulin. Sesungguhnya, Larung adalah sebuah upaya artistik untuk mengejek lembaga-lembaga yang ada di masyarakat dengan segala perangkat dan ajarannya.

Sikap-sikap munafik terhadap seksualitas perempuan tersebar luas di Indonesia. Kenyataannya, sebelum seorang serdadu bisa menikah, keperawanan pasangannya harus diuji. Perempuan dipandang secara luas harus bersikap menjauh terhadap seks, atau setidaknya, perempuan baik-baik yang terhormat selalu menjauhi seks, harus tetap perawan sampai menikah.

Ayu berpendapat bahwa perempuan jangan terlalu mengagungkan keperawanan. Menurutnya bila perempuan begitu memuja keperawanan, ia sendiri yang akan rugi. Keperawanan hilang, ia merasa sudah tidak berarti. Karena itu mengagung-agungkan keperawanan itu tidak adil karena hanya bisa diterapkan pada perempuan.

Arkian, dalam novel ini pula, Ayu melalui empat tokoh perempuannya sangat optimis untuk menyuarakan kemungkinan pihak-pihak yang termarjinalisasi untuk menemukan strategi narasi dalam bahasa yang bebas dari tembok-tembok seram dan labirin yang dilingkungi logosentrisme.

ULFA NURAENI

 

Sumber:

Faruk. HT. dkk. 2004. Seks Teks Konteks. Sumedang: Universitas Padjadjaran.

Kevin Adrian, Euthanasia, Ketika Mengakhiri Hidup Dianggap Sebagai Jalan Keluar. Diakses dari Alodokter.com pada 27 Januari 2022 pukul 14.15 WIB.

Lestrai, Erma. 2015. Bahasa Kritik Tokoh Terhadap Kekuasaan dalam Novel Larung Karya Ayu Utami. Sawerigading, 21(3), 529 – 540.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.