Tangkapan layar Maya (kanan atas), moderator, Viona Visha, (kanan bawah), Mom Influencer, Kalis Mardiasih (kiri atas), Penulis dan Gender Facilitator, dan Ida Rochmawati (kanan bawah), Psikiater dan Penggiat Suicide Prevention yang bertajuk "Pertolongan Pertama Kekerasan Berbasis Gender: Mencegah Kekerasan Seksual, Mulai dari Mana?" pada Sabtu, 22 Januari 2022. (Fitroh Rara Azzahro/JUMPAONLINE)
Tangkapan layar Maya (kanan atas), moderator, Viona Visha, (kanan bawah), Mom Influencer,  Kalis Mardiasih (kiri atas), Penulis dan Gender Facilitator, dan Ida Rochmawati (kanan bawah), Psikiater dan Penggiat Suicide Prevention yang bertajuk "Pertolongan Pertama Kekerasan Berbasis Gender: Mencegah Kekerasan Seksual, Mulai dari Mana?" pada Sabtu, 22 Januari 2022. (Fitroh Rara Azzahro/JUMPAONLINE)
Tangkapan layar Maya (kanan atas), moderator, Viona Visha, (kanan bawah), Mom Influencer, Kalis Mardiasih (kiri atas), Penulis dan Gender Facilitator, dan Ida Rochmawati (kanan bawah), Psikiater dan Penggiat Suicide Prevention yang bertajuk “Pertolongan Pertama Kekerasan Berbasis Gender: Mencegah Kekerasan Seksual, Mulai dari Mana?” pada Sabtu, 22 Januari 2022. (Fitroh Rara Azzahro/JUMPAONLINE)

Nasional, JumpaonlineGoogle for Education menyelenggarakan webinar bertajuk “Pertolongan Pertama Kekerasan Berbasis Gender: Mencegah Kekerasan Seksual, Mulai dari Mana?”. Webinar ini menghadirkan Ida Rochmawati, Psikiater dan Penggiat Suicide Prevention, Viona Visha, Mom Influencer, dan Kalis Mardiasih, Penulis dan Gender Facilitator yang diselenggarakan melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 22 Januari 2022. Webinar tersebut dilaksanakan dalam rangka maraknya kasus kekerasan seksual pada tahun 2021 yang meningkat dua kali lipat lebih banyak dari tahun 2020.

Kalis Mardiasih mengatakan, kekerasan seksual terjadi karena pelaku merasa punya kuasa lebih untuk melakukan hal tersebut dan kekerasan seksual bukan hanya tentang hawa nafsu saja melainkan sifat dominasi laki-laki yang menganggap bahwa ia lebih berdaya daripada korbannya.

“Kekerasan seksual bukan hanya semata-mata tentang hawa nafsu saja, bukan hanya karena ingin menuntaskan hasrat, melainkan sifat dominasi laki-laki yang merasa mampu menaklukkan korbannya,” ungkap Kalis.

Sementara itu, Viona Visha mengungkapkan, peran orang tua sangat penting dalam memberikan sex education kepada anak sejak usia dini agar tidak menjadi korban dan pelaku di kemudian hari.

“Langkah awal adalah mengedukasi diri kita sendiri sebagai orang tua, karena masih banyak orang tua yang menganggap bahwa mengajarkan sex education kepada anak adalah hal yang tabu, lantas jika seperti itu siapa yang akan mengajarkan anak tentang hal tersebut kalau bukan kita sendiri sebagai orang tuanya,” ungkap Viona.

Ida Rochmawati mengungkapkan, aktivitas seksual manusia merupakan naluriah yang memang sudah ada pada diri manusia sejak kecil dan pemahaman yang terlambat terhadap aktivitas seksual membuat korban tidak menyadari bahwa ia telah dilecehkan.

Sexual activity adalah insting yang dimiliki oleh anak-anak maupun orang dewasa. Jadi, saat anak menginjak usia dewasa ia sadar bahwa dirinya mendapatkan pelecehan seksual dari orang terdekatnya karena ia memaknai bahwa memegang private area adalah sebuah bentuk cinta dan kasih sayang,” pungkasnya.

 

FITROH RARA AZZAHRO

Calon Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.