Sumber: seruni.id

Sebagian besar masyarakat pasti sudah tidak asing lagi dengan kata “Pramuka”. Saat kita duduk di bangku Sekolah Dasar pun kita mengikuti kegiatan Pramuka. Namun, apakah banyak dari kita telah mengetahui bagaimana Pramuka masuk ke Indonesia?

Praja Muda Karana (Pramuka), yang artinya orang muda yang suka berkarya. Pramuka merupakan sebuah organisasi atau gerakan kepanduan (Boy Scout) yang menjadi wadah atau tempat dilakukannya proses pendidikan kepramukaan di Indonesia.

Untuk mengingat kembali bagaimana Gerakan Pramuka Indonesia dibentuk, mari simak tulisan ini.

Apa itu Gerakan Pramuka?

Gerakan Pramuka merupakan suatu perkumpulan yang berstatus non-govermental (bukan badan pemerintah) yang berbentuk kesatuan. Gerakan Pramuka diselenggarakan menurut jalan aturan demokrasi, dengan pengurus (Kwartir Nasional, Kwartir Daerah, Kwartir Cabang dan Kwartir Ranting) yang dipilih dalam musyawarah.

 Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya badan di wilayah NKRI yang diperbolehkan menyelenggarakan kepramukaan bagi anak dan pemuda Indonesia yang bertujuan mendidik anak dan pemuda Indonesia dengan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaanya diserasikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia agar menjadi manusia Indonesia yang baik dan anggota masyarakat yang berguna bagi pembangunan bangsa dan negara

Gerakan Pramuka masuk ke Indonesia pada masa Hindia Belanda, tahun 1908, Mayor Jenderal Robert Baden Powell mendirikan pendidikan luar sekolah untuk anak-anak Inggris. Beliau menulis sebuah buku, yang berjudul ‘Scouting for Boys’, berisi pengalamannya dan  apa yang diperlukan para Pramuka. Gagasan Baden Powell diambil alih dengan membentuk organisasi kepanduan untuk membentuk manusia Indonesia yang baik sebagai kader Pergerakan Nasional.

Munculnya Organisiasi Kepanduan

Di tahun 1930 muncul Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang merupakan gabungan dari organisasi kepanduan Indonesische Padvinders Organizatie (INPO), Pandu Kesultanan (PK) dan Pandu Pemuda Sumatera (PPS). Tahun 1931, terbentuk federasi kepanduan dengan nama Persatuan Antar Pandu-pandu Indonesia (PAPI), yang kemudian berubah menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada tahun 1938. Dengan itu, tanggal 28 Desember 1945, di Surakarta barulah didirikan Pandu Rakyat Indonesia (PARI) sebagai satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia.

Indonesia mulai memasuki masa pemerintahan yang liberal setelah pengakuan kedaulatan NKRI dan bermunculan organisasi kepanduan, seperti HW, SIAP, Pandu Islam Indonesia, Pandu Kristen, Pandu Katholik, Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), dan lain-lain. Kepanduan Indonesia telah terpecah menjadi lebih dari 100 organisasi kepanduan pada tahun 1961, tebagi ke dalam 3 federasi organisasi kepanduan; satu federasi kepanduan putra dan dua federasi kepanduan putri; Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO), Persatuan Organisasi Pandu Putri Indonesia (POPPINDO), Perserikatan Kepanduan Putri Indonesia. Keadaan ini membuat organisasi kepanduan lemah, ketiga federasi tersebut menjadi satu federasi: Persatuan Kepanduan Indonesia (PERKINDO).

PERKINDO membentuk panitia untuk menentukan jalan keluarnya. Panitia menyimpulkan bahwa kepanduan lemah dan terpecah-pecah, terpaku dalam cengkeraman gaya lama yang tradisional daripada kepanduan Inggris, pembawaan dari luar negeri. Hal ini berakibat bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh gerakan kepanduan Indonesia belum disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan bangsa dan masyarakat Indonesia. Kepanduan hanya berjalan di kota-kota besar dan di situ pun hanya terdapat pada lingkungan orang-orang yang sedikit banyak sudah berpendidikan barat.

Pihak komunis memanfaatkan gerakan kepanduan Indonesia yang lemah sebagai alasan untuk memaksa gerakan kepanduan Indonesia menjadi Gerakan Pioner Muda seperti yang terdapat di negara-negara komunis.

Kekuatan Pancasila di dalam PERKINDO berusaha menentangnya, dengan bantuan Perdana Menteri Djuanda, maka tercapailah perjuangan dengan menghasilkan Keputusan Presiden RI No. 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka, pada tanggal 20 Mei 1961 yang ditandatangani oleh Ir. Djuanda selaku Pejabat Presiden RI, karena Presiden Soekarno sedang berkunjung ke negeri Jepang.

Dengan Keppres No. 238 Tahun 1961, Gerakan Kepanduan Indonesia mulai dengan keadaan baru dengan nama Gerakan Praja Muda Karana atau Gerakan Pramuka. Semua organisasi kepanduan melebur ke dalam Gerakan Pramuka, menetapkan Pancasila sebagai dasar Gerakan Pramuka.

Sisi Ketahanan Gerakan Pramuka Indonesia

Prinsip-prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan yang dirumuskan oleh Baden Powell tetap dipegang, akan tetapi pelaksanaanya diserasikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia; dengan menyesuaikan dan diserasikan dengan keadaan dan kebutuhan regional ataupun lokal di masing-masing wilayah di Indonesia ternyata mampu membawa banyak perubahan yang mampu membawa Gerakan Pramuka mengembangkan kegiatannya secara meluas. Gerakan Pramuka lebih kuat organisasinya dan memperoleh tanggapan luas dari masyarakat, sehingga dalam waktu singkat organisasinya telah berkembang dari kota-kota hingga ke kampung dan desa-desa, jumlah anggotanya meningkat dengan pesat.

Pada 14 Agustus 1961, istilah Pramuka resmi digunakan untuk menyebut gerakan Kepanduan Nasional baru terjadi cukup lama setelah Indonesia merdeka. Idenya bermula dari gagasan Presiden Soekarno yang ingin menyatukan seluruh gerakan Kepanduan di Indonesia. Itulah sejarah Gerakan Pramuka di Indonesia. Selamat Hari Pramuka untuk muda-mudi Indonesia!

 

 

SEIZA ASSYIFA

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *