Sumber : jobjoy.com

Dalam Catatan Pinggir Majalah Tempo bertajuk Isa, Bung GM sekali waktu pernah menulis, “Puisi mengunggah kita tatkala ia menyentuh iman dan kematian”. Dalam perkataan yang lain, kukira, ia menganggap bahwa salah satu penciptaan terpenting puisi adalah bagaimana seseorang mampu mempertemukan bahasa dan kedirian manusia, di mana “iman dan kematian” berkelindan di antara bait-baitnya. Aku, dalam hal ini, bersepakat dengan apa yang disebut Sang Begawan Salihara itu, julukan Goenawan Mohamad yang dilabelkan Puthut EA. Yah, meski dominasi elitisnya dalam kebudayaan kudu tetap konsisten dilawan.

Puisi, selalu aku yakini, adalah efek dari interpretasi seseorang terhadap hidup di mana di dalamnya ia merefleksikan pandangan tentang realitas. Sekaitan hal tersebut, di samping pola persajakan, intensitas penghayatan merupakan sesuatu yang tak dapat dinego bagi seseorang yang ingin menciptakan puisi-yang-menjadi[1]. Tanpa syahdan, bagaimana seseorang merangkum dengan subtil peperangan batiniah itu ke dalam baris-baris teks sehingga hal demikian tertampil dengan estetik sebagai sebuah puisi, adalah persoalan yang mesti diperhitungkan.

Membaca puisi bertajuk Kertas Berdarah milik Rosiana Melinda yang diterbitkan Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pasundan di media sosialnya 6 Mei 2021 lalu, memberikan sebuah kesan kalau sekelumit paparan di atas adalah salah satu yang tak boleh ditanggalkan dari pikiran sewaktu meramu puisi.

Betapa penting hal tersebut sehingga, bagian ironisnya, seringkali terlupakan atau bahkan tak sempat diperhitungkan. Ini menjadikan puisi hanya hadir sebagai “jiplakan” yang tertangkap oleh indera tanpa sempat menyentuh serta menggugah kesadaran sesiapa yang membacanya. Ia hanya berhenti pada simpangan pernyataan-pernyataan umum, tak mendalam, atau paling tidak cuma sibuk dengan akrobat bahasa tentang suatu kondisi dalam barisan teks.

Bahasa, di mana puisi mempergunakannya sebagai medan ekspresi dalam menyampaikan gagasan, adalah alat berpikir manusia yang menurut Alwasilah (2014) yakni persoalan minda; pusat kesadaran yang menggugah pikiran, perasaan, ide, dan persepsi, serta menyimpan pengetahuan dan ingatan. Manusia tak menggunakan bahasa seumpama burung beo meniru ujaran-ujaran, melainkan belajar dari memaknai fenomena-fenomena melalui sebuah refleksi.

Simaklah salinan puisi tersebut:

“Nalar menjelajah/mencercap imam insan yang goyah/mengoreksi penyimpangan yang ada/yang masih bersembunyi dalam/singularitas semesta

“Kertas berdarah/diperebutkan hingga darah tumpah/melimpah-ruah/teori yang terus menerus disanggah/demi temukan kebenaran yang/ tersirat dalam sejarah.”

Dalam puisi tersebut, meminjam perkataan Saut Situmorang, sang Narator cuma dikesankan sebagai Nabi kesepian. Ia barangkali meleter di atas altar kekosongan, seolah-olah tengah bersabda tentang pencarian akan “kebenaran”. Disebut demikian, sebab si narator hanya terjebak dalam sirkus penciptaan rima, atau dalam pandangan Chairil, puisi di atas cuma berindah-indah dengan permainan kata atau dengan musikalitas kesamaan bunyi kata, alih-alih memberikan kesan pada tema sebagai titik tolak persentuhannya dengan substansi puisi tersebut.

Aku bertanya-tanya, di manakah “kebenaran” yang atas segala demi berusaha dicari-cari persembunyiannya itu? Dalam lambang yang tak berefek apa-apa? Dalam rima? Atau dalam bahasa yang tak menggugah nilai-nilai kemanusiaan yang kian terpendam? Parade pertanyaan tersebut tak mampu dijawab sang Nabi yang kesepian. Ia cuma merapal rima-rima akrobatik tinimbang menyampaikan nilai yang hadir-menyeruak dari pengalaman batin dalam lirik nan jujur serta manusiawi.

Apakah “darah” adalah semacam kesadaran yang menyeruak dari prosesi perebutan kebenaran sejarah itu? Mengapa darah menggenang dalam peristiwa timbulnya kesadaran? Hal-hal tersebut luput terekspresikan. Bagaimana suatu pencarian, yang secara sengaja ataupun tidak, dilakukan sang narator dalam sebuah gelap yang justru diciptakannya sendiri?

Sang pengarang dengan tak sadar meniadakan relasi timbal-balik yang kompleks antara aspek-aspek kebahasaan dan makna-makna yang ditian sebuah karya, serta penghadiran hal tersebut di sekitar sebuah ‘tema’ yang dibawanya. Ia, kupikir, hanya sibuk dengan dekorasi tekstual (pembentukan rima) sementara melupakan bahwa ada suatu fundamen untuk diperhitungkan, yakni persoalan struktur batin.

Struktur batin, disebut Ade Hikmat, dkk. dalam buku Kajian Puisi, “Adalah unsur yang membangun puisi dari dalam.” Dalam kaitannya, pengarang mestinya dengan subtil menghadirkan yang tak tampak – makna-makna – dan menjadikan hal tersebut medan ekspresi dalam menyampaikan gagasannya.

Kejujuran pengarang tentang pergelutannya dengan sesuatu yang coba ia ekspresikan mestinya membantu pembaca untuk memahami hal tersebut, namun – meski, katanya, tak ada relevansi antara maksud pengarang dengan horizon harapan pembaca. Sebab, konon, pengarang sudah mati sewaktu karyanya berada di tangan pembaca  – operasi teks Rosiana tentang kertas berdarah yang diperebutkan hingga darah tumpah itu tak menimbulkan suatu efek apa-apa selain perjumpaanku dengan cakap klise tipikal pemuda sotoy.

Maksudku, apa sebenarnya azam yang hendak diekspresikan sang pengarang dalam puisinya? Ia tak memberikan informasi apa-apa kecuali igauan seseorang yang sedang terserang demam tentang pencarian kebenaran. Namun, kebenaran macam apa yang coba ditemukan itu? Dan, paling mendasar, apa yang dimaknai “kebenaran” dalam puisi tersebut? Aku tak jua menemukan jawabnya.

Sedemikian itu, bukan berarti puisi tersebut cacat makna. Lagi pula, mengutip Laksmi Wardhani dalam Fungsi, Makna, dan Simbol (Sebuah Kajian Teoritik), betapa pun sebuah “makna” nantinya dihayati, diterima, dan disepakati secara kolektif, makna tetaplah bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan secara individual.

Tetapi, terakhir, pada bagian manakah kita, atau hanya aku, dapat “menghayati dan menerimanya” sebagai paparan simbolis tertentu? Ia tak berupaya menghadirkan makna untuk menggugah serta menjelaskan tingkatan emosi yang terlibat di dalam sebuah karya. Padahal, yang kubaca itu katanya puisi!

 

ANGGA PERMANA SAPUTRA

[1] Saut Situmorang, Ekstasi Puisi (2013).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *