Tangkapan layar webinar bertajuk “Kontribusi Sastra Indonesia Dalam Mewujudkan Pendidikan Karakter Berakhlakul Karimah” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universtas Pasundan pada Selasa, 27 April 2021. Dari kiri atas: Setiawan, moderator jalannya webinar serta Iskandarwassid, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, sekaligus pemateri. Dari kiri bawah: Hawe Setiawan, Sastrawan dan Budayawan Sunda sekaligus pemateri kedua dan Lukman Hakim, pembawa acara. (Hana Sahira Nazwa/JUMPAONLINE)

Kampusiana, Jumpaonline Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HMBSI) Universitas Pasundan selenggarakan webinar melalui Zoom Meeting bertajuk “Kontribusi Sastra Indonesia Dalam Mewujudkan Pendidikan Karakter Berakhlakul Karimah”. Acara yang menghadirkan Iskandarwassid, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), serta Budayawan dan Sastrawan Sunda, Hawe Setiawan, pada Selasa, 27 April 2021 tersebut membahas bagaimana pembelajaran sastra diharapkan mampu mewujudkan suatu pendidikan karakter.

Iskandarwassid, Guru Besar UPI menuturkan, karya sastra yang ada di Indonesia sangat banyak ragam dan jenisnya, dengan karya sastra seseorang dapat dengan mudah mengekspresikan dirinya. Karya sastra Indonesia haruslah tumbuh dengan identitas yang mengenalkan budaya Indonesia.

“Segala potensi bahasa diolah atau diungsikan maka terciptalah puisi, prosa, dan drama. Pada titik ini pembelajaran sastra diharapkan mampu mewujudkan suatu pendidikan karakter,” ujar Iskandarwassid.

Sementara itu, Hawe Setiawan, Sastrawan dan Budayawan Sunda mengungkapkan, para mahasiswa dianjurkan untuk mempelajari karya sastra dalam studi mata kuliah yang bertujuan untuk menambah minat mahasiswa untuk berkecimpung di dunia sastra. Ia menuturkan, dengan mempelajari sastra mahasiswa mampu memahami hal-hal yang ada dilingkungan, baik itu hal kecil maupun hal besar.

“Karya sastra tentu mempunyai banyak relevansi dalam dunia pendidikan terutama karya sastra modern. Mahasiswa yang saya lihat saat membuat karya tulis itu menunjukan, bahwa sastra masih digunakan dan diimplementasikan di dunia pendidikan,” ujar Hawe.

Hawe menambahkan, untuk mengenal dunia yang nyata kita hanya perlu membaca karya sastra, contohnya seperti karya fiksi. Menurutnya, kita bisa mengenal atau mengetahui kehidupan seorang sastrawan dengan membaca karyanya, dengan begitu kita dapat menghayati apa yang bergejolak di dalam diri seorang sastrawan. 

“Dengan mempelajari karakter di dalam karya sastra, setiap pembaca karya sastra itu disadari atau tidak, disengaja atau tidak sedang memperbaiki karakternya sendiri,” pungkas Hawe.

Selaras dengan Hawe, Sofyan Alamsyah, Ketua Umum HMBSI, berujar, sastra mampu memperkenalkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, melatih kecerdasan emosional, serta mempertajam penalaran seseorang.

“Dengan mempelajari sastra, seseorang akan dilatih kepekaannya,” tutur Sofyan saat membuka acara tersebut.

 

HANA SAHIRA NAZWA

Anggota Muda LPM “Jumpa” Unpas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *