Tangkapan layar Tasya Kamila, Duta Lingkungan Indonesia (kiri) dan DK Wardani, Penulis dan Praktisi Zero Waste (kanan)saat menjadi pembicara pada kegiatan seminar nasional yang diselenggarakan oleh Sustaination pada Minggu, 21 Februari 2021. (Bela Muslimawati Drajat/JUMPAONLINE)

Nasional, Jumpaonline – Sustaination menggelar diskusi dalam memperingati Hari Peduli Sampah Nasional pada Minggu, 21 Februari 2021. Diskusi yang dilaksanakan secara virtual ini membahas permasalahan sampah organik serta upaya alternatif dalam mengolahnya. Hal tersebut berangkat dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang produksi sampah Indonesia. Disebutkan, sebagai komponen terbesar yang dihasilkan seharinya-harinya, dominasi sampah organik mencapai 60% dari total 64 juta ton sampah tiap tahunnya.

Menanggapi hal itu, DK Wardani, Praktisi Zero Waste yang turut andil dalam diskusi tersebut memaparkan, mengompos merupakan alternatif tepat untuk mengolah sampah organik dan bisa dimulai dari rumah sendiri. Menurutnya, banyak masyarakat yang masih melakukan kesalahan ketika membuang sampah organik ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan membungkus memakai kantung plastik.

”Bagi saya, yang terpenting adalah ikut kontribusi mengurangi kiriman sampah organik ke TPA,” tambahnya.

Menyoal alat komposter, Wardani menuturkan, masyarakat yang tinggal di perkotaan tidak pasti memiliki lahan dalam proses pembuatan kompos. Maka diperlukan adanya alat penunjang untuk mengelola sampah organik tersebut.

“Saya sendiri suka bereksperimen dengan berbagai alat komposter yang bisa dilakukan di rumah dan tidak membutuhkan perawatan, seperti memakai tong, karung, takakura, pot, biopori, gerabah dan felita. Hasil dari memakai alat komposter tidak ada bedanya,” tutur Wardani.

Selain Wardani, Dwi Sasetyaningratyas, CEO Sustaination mengungkapkan, banyak masyarakat yang merasa takut gagal untuk mengolah sampah di rumah karena khawatir menghasilkan bau yang tidak sedap. Oleh karena itu, kata Dwi, diperlukan kesadaran diri dan lingkungan sekitar sebelum memulai untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.

“Untuk mulai mengompos, lebih baik cari terlebih dahulu tentang mengompos. Mengompos itu mudah, mulai dahulu jangan merasa takut,” pungkasnya.

 

BELA MUSLIMAWATI DRAJAT
Calon Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *