Tangkapan layar moderator acara (kiri) dan Abu Huraerah (kanan) selaku Dosen kesejahteraan sosial Universitas Pasundan saat menjadi pembicara kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UNPAS secara daring pada Sabtu, 20 Februari 2021.(Dilla Anggraeni Pertiwi/JUMPAONLINE)

 

Bandung, Jumpaonline – Himpunan Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menggelar webinar nasional pada Sabtu, 20 Februari 2021 yang bertajuk “Eksistensi Pekerja Sosial Indonesia di Era Globalisasi” secara daring melalui Zoom Meeting. Webinar ini membahas tentang pekerjaan sosial di era globalisasi.

Abu Huraerah selaku Dosen Kesejahteraan Sosial Unpas menyatakan, globalisasi adalah sebuah paket arus manusia secara transnasional (antar bangsa), produksi, investasi, informasi, ide-ide, dan otoritas. Globalisasi juga merefleksikan pertumbuhan interpenetrasi  negara, pasar, komunikasi, dan ide-ide lintas negara. Globalisasi terkait dengan pasar global dan masyarakat sipil global.

 “Jika ingin memasuki dunia kerja secara global, terutama pada pekerjaan sosial dalam konteks global atau internasional diperlukan beberapa kompetensi yang harus dikuasai yaitu  pengetahuan, skill, nilai-nilai, dan sikap,” tutur Abu.

Sementara itu, Tata Sudrajat selaku Deputi Program Impact and Policy Save The Children Indonesia mengungkapkan, pekerjaan sosial adalah profesi universal. Pekerjaan sosial dalam ruang prakteknya berbentuk segitiga dan di dalamnya  berisi sudut kebijakan, sudut masalah, dan sudut program.

“Di sudut masalah ada riset dan manajemen kasus tapi yang uniknya perbedaan profesi pekerjaan sosial dengan profesi lain seperti dokter misalnya, dokter terus-terusan berada dalam sudut masalah, tapi di pekerjaan sosial apa yang ditangani bisa dinaikan ke sudut kebijakan karena mempelajari advokasi,” ujar Tata.

Selain itu, Dzikri Insan selaku Safeguarding and Accountability Manager at Oxfam in Indonesia menambahkan, ketika menjadi seorang pekerja sosial harus kompeten meskipun titelnya bukan dalam pekerja sosial tetapi dalam mindset diri sendiri harus sudah tertanam jiwa-jiwa pekerja sosial. Sehingga diri sendiri akan tersadar ketika melakukan pekerjaan atau pertolongan itu adalah  bagaimana orang bisa berdaya.

“Seorang pekerja sosial harus memiliki jiwa kompeten dan pekerjaan sosial tidak hanya diluang lingkup yang sempit tetapi sangat luas sekali, bahkan ketika rekan-rekan pekerja sosial  berkomunikasi dengan rekan kerjanya,itu akan mereka rasakan,” kata Dzikri

 

DILLA ANGGRAENI PERTIWI
Calon Anggota  Muda LPM `Jumpa` Unpas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *