Tangkapan layar Esti (kiri atas) selaku Juru Bahasa Isyarat, Andari Karina Anom (tengah atas) selaku Moderator, Edo (kanan atas) selaku Juru Bahasa Isyarat, Iqbal Elyazar (kiri bawah) selaku pembicara Akademi Ilmuwan Muda Indonesia/Eijkman serta Heru Margianto (kanan bawah) selaku Managing Editor Kompas.com saat pembukaan webinar yang bertajuk Memverifikasi Narasumber Ahli di Masa Pandemi yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Indonesia pada Jumat, 19 Februari 2021. (Seiza Assyifa/JUMPAONLINE).

Cilegon, Jumpaonline– Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyelenggarakan webinar ke-5 pada Jumat, 19 Februari 2021 dengan mengusung tema Melawan Infodemi Covid-19 yang bertajuk “Memverifikasi Narasumber Ahli di Masa Pandemi” yang merupakan kerjasama dengan Google News Initiative (GNI) melalui live streaming di aplikasi Youtube dan Zoom Meeting.

Selama pandemi, publik dihadapkan pada munculnya tokoh yang mengklaim sebagai ahli. Pada Oktober lalu misalnya, video yang berasal dari Aliansi Dokter Dunia dan Heiko Schoning, seorang Dokter dari Hamburg, Jerman menjadi viral. Ia mengatakan bahwa Covid-19  hanyalah rekayasa. Sedangkan di Indonesia, video wawancara influencer Anji dan Hadi Pranoto yang disebut sebagai Profesor dan Dokter, banyak dibagikan di media sosial. Media dan kita, sebagai masyarakat harus lebih cermat untuk menyelidiki track record dibalik tokoh-tokoh yang mengklaim sebagai ahli.

Heru Margianto, selaku managing editor Kompas.com memberi tahu bagaimana cara memverifikasi seseorang yang disebut sebagai ahli dari sisi media. Yaitu dengan mencari profilnya, karya seseorang tersebut, pengalaman, lembaga tempat bernaung, dan pengakuan dari orang lain.

“Bagaimana cara mencari profilnya? Gampang, kita ketik aja di Google search. Akan ada tiga kemungkinan, muncul namanya, tidak muncul, dan nama generi. Lalu karyanya, kita bisa rekam jejak penelitiannya. Pengalamannya, kita bisa melihat dari Portal Garuda, Google Scholar dan Linked in. Lembaga tempat bernaung, biasanya ketika kita klik, berada di lembaga yang baik, langsung terlihat. Pengakuan dari orang lain, pernah mendapat penghargaan atau pernah dikutip media,” ujar Heru.

Iqbal Elyazar, selaku ilmuwan Indonesia menyatakan bahwa ilmuwan dan jurnalis itu sama. Sama-sama mencari kebenaran. Hanya saja, cara pendekatannya yang berbeda. Scientist membutuhkan waktu yang lama, sedangkan jurnalis membutuhkan waktu yang cepat.

“Seringkali saya menemukan di Whatsapp grup, ada berita, dan anggota grup tersebut bertanya tentang kebenaran beritanya. Kita sebenarnya hanya butuh beberapa detik untuk mengecek di Google apakah beritanya hoaks atau tidak. Orang-orang yang meneruskan informasi tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu. Informasi yang salah, tidak sengaja diteruskan, diamplifikasi. Orang-orang yang tidak memeriksa juga salah, karena membantu memperluas,” tutur Iqbal.

Kita sebagai pengguna internet, dituntut untuk melakukan penyelidikan secara mandiri, seperti yang dilakukan AJI untuk membangun literasi digital bagi masyarakat. Di Indonesia, peningkatan jumlah pengguna internet semakin tinggi, namun tingkat literasinya sangat rendah yang menyebabkan masyarakat bisa percaya begitu saja.

Heru mengatakan, saat belum ada internet, satu-satunya saluran informasi untuk menjangkau publik adalah media. Media menciptakan pengamat untuk mencari ahli dalam menemukan kebenaran.

“Mengapa media menciptakan pengamat? Karena sama-sama mencari the truth, sementara media gak ahli pada bidang tertentu. Maka ia mencari seseorang yang ahli untuk menggali the truth itu. Orang yang diyakini oleh media, kemudian dijadikan narasumber demi mendapatkan the truth yang dicari media,” jelas Heru.

 

Seiza Assyifa
Calon Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *